Banner Website
Ekonomi

Idonesia Diakui Dunia, Kini Jadi Pusat Inovasi Pertanian Global

178
×

Idonesia Diakui Dunia, Kini Jadi Pusat Inovasi Pertanian Global

Sebarkan artikel ini
Idonesia Diakui Dunia, Kini Jadi Pusat Inovasi Pertanian Global
Petani tengah menyebar pupuk untuk menambah kesuburan sawah mereka. (Foto: Dok. Kementan)

Jakarta, Rakyat45.com – Dulu dikenal sebagai negeri agraris, kini Indonesia menegaskan diri sebagai pusat inovasi pertanian dunia. Transformasi besar dalam satu dekade terakhir mengubah wajah sektor pangan nasional menjadi lebih tangguh, modern, dan berkelanjutan — bahkan menjadi rujukan global.

Langkah ini bukan muncul tiba-tiba. Di tengah ancaman perubahan iklim, krisis pangan, dan degradasi lahan, Indonesia memilih jalan berani: memperkuat riset, mengadopsi teknologi canggih, serta membangun kolaborasi lintas sektor.

“Indonesia telah membuktikan bahwa kedaulatan pangan bisa dicapai dengan perpaduan kearifan lokal, teknologi modern, dan keberpihakan kepada petani,” ujar Plt. Sekjen Kementerian Pertanian (Kementan) Ali Jamil.

Revolusi Teknologi di Sektor Pertanian

Era baru pertanian Indonesia ditandai dengan masuknya teknologi digital ke lahan-lahan produktif. Konsep smart farming dan precision agriculture kini diterapkan secara luas, mulai dari penggunaan drone pemantau tanaman, sensor tanah, hingga sistem irigasi otomatis berbasis kecerdasan buatan (AI).

Lembaga riset dan universitas juga aktif menciptakan inovasi. Salah satu terobosan besar adalah pengembangan varietas padi tahan kekeringan dan salinitas, hasil karya anak bangsa yang kini ditanam di berbagai negara Asia dan Afrika melalui program kerja sama Selatan–Selatan dan Triangular (KSST).

Di sisi lain, startup agritech tumbuh pesat. Mereka memperpendek rantai distribusi dengan menghubungkan petani langsung ke konsumen melalui platform digital. Dampaknya, harga jual lebih adil dan kesejahteraan petani meningkat signifikan.

FAO Akui Peran Global Indonesia

Prestasi Indonesia mendapat pengakuan dunia. Food and Agriculture Organization (FAO) memberikan penghargaan internasional kepada Indonesia dalam ajang Global Technical Recognition Ceremony di Roma, Italia, Rabu (15/10/2025), bertepatan dengan peringatan 80 tahun FAO.

Indonesia dinobatkan sebagai salah satu dari 18 negara penerima rekognisi KSST untuk dua kategori: Country-Level Recognition dan Institutional-Level Recognition. Penghargaan ini menegaskan kontribusi nyata Indonesia terhadap ketahanan pangan dunia, sejalan dengan visi FAO “Four Betters”: better production, better nutrition, better environment, better life.

Dalam dua dekade terakhir, Kementan telah berbagi pengetahuan ke 74 negara dengan mengirim lebih dari 190 tenaga ahli, 400 unit mesin pertanian, dan 5.000 dosis semen beku, serta melatih lebih dari 1.500 peserta dari Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Pasifik.

Selain itu, Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Malang, meraih penghargaan Institutional-Level Recognition berkat kiprahnya sebagai Centre of Excellence di bidang reproduksi ternak. BBIB bahkan telah melatih 300 profesional dari 36 negara dan bekerja sama dengan lembaga internasional seperti JICA dan IsDB.

Produksi Pangan Naik, Swasembada Semakin Dekat

Di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, sektor pangan Indonesia menunjukkan lompatan besar. Produksi beras nasional mencapai level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras Januari–November 2025 menembus 33,19 juta ton, naik 12,6 persen dibanding tahun sebelumnya. Bahkan, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan angka tersebut bisa mencapai 34,6 juta ton, sementara FAO menempatkan Indonesia di posisi kedua dunia dalam pertumbuhan produksi beras dengan potensi 35,6 juta ton.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan, Moch. Arief Cahyono, menyebut capaian ini sebagai hasil kerja kolaboratif.

“Strategi kami jelas: optimalkan lahan, perbaiki irigasi, dorong mekanisasi, dan pastikan kebijakan harga gabah yang menguntungkan petani,” ungkapnya.

Arief menambahkan, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) kini mencapai 4,2 juta ton, sementara Nilai Tukar Petani (NTP) naik menjadi 124,36, menandakan meningkatnya kesejahteraan petani.
“Petani kini lebih sejahtera karena HPP gabah naik menjadi Rp6.500 per kilogram sesuai arahan Presiden Prabowo,” tambahnya.

Dari Indonesia untuk Dunia

Indonesia kini bukan hanya penyuplai pangan, tetapi juga penyedia solusi global. Melalui kerja sama dengan FAO, IFAD, dan berbagai negara sahabat, Indonesia menularkan praktik terbaik dalam pertanian ramah iklim, pengelolaan air, dan pemberdayaan petani muda.

Program Indonesia–Africa Agricultural Partnership menjadi contoh nyata, di mana Indonesia membantu negara-negara Afrika mengembangkan sistem pertanian terpadu, teknologi irigasi hemat air, dan pelatihan kewirausahaan bagi generasi muda.

Pertanian Hijau Menuju Masa Depan

Transformasi besar ini juga berlandaskan semangat keberlanjutan. Konsep Green Agriculture dan Low Carbon Farming diterapkan secara luas sebagai bagian dari komitmen menuju Net Zero Emission 2060.

Di berbagai daerah, petani kini memanfaatkan energi biomassa, pupuk organik, dan sistem pertanian terpadu untuk menciptakan desa hijau berbasis ekonomi sirkular.

Petani Milenial, Garda Baru Pertanian Modern

Pemerintah juga menyiapkan regenerasi petani lewat Program Petani Milenial, Kartu Tani Digital, dan Sekolah Lapang Smart Farming. Generasi muda kini aktif mengelola lahan dengan teknologi digital, memasarkan hasil lewat platform online, dan menembus pasar ekspor.

Pertanian bukan lagi simbol keterbelakangan, melainkan ikon kebanggaan nasional.

“Memberi Makan Dunia”

Capaian luar biasa ini menandai perubahan besar: dari negara pengimpor menjadi negara inovator. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia menegaskan visinya untuk “memberi makan dunia.”

“Indonesia tidak hanya ingin memenuhi kebutuhan rakyatnya sendiri, tetapi juga berkontribusi bagi ketahanan pangan global,” tegas Presiden Prabowo.

Kini dunia menoleh ke arah Indonesia, bukan semata karena hasil panennya, tetapi karena visi, inovasi, dan semangat gotong royong yang menghidupkan revolusi pertanian modern.