Bengkalis, Rakyat45.com – Di balik tembok tinggi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bengkalis, Sabtu, 22 November 2025, pagi itu terasa hidup.
Sorak, tepuk tangan, dan tawa mengisi udara, seolah lapangan futsal sederhana itu menjadi panggung bagi mimpi yang tak kalah besar dari stadion mana pun.
Inilah Kalapas Cup 2025, turnamen futsal yang digelar untuk memperingati Hari Bakti Kemenimipas ke-1, namun lebih dari itu, menjadi cerita tentang harapan, perubahan, dan keberanian.
Di partai final, Resedivis menghadapi Kalambakil. Skor 3–2 menandai kemenangan tipis yang membuat jantung penonton berdebar. Namun di balik angka itu, tersimpan cerita lebih dalam, tekad untuk membuktikan bahwa berada di balik tembok bukan berarti kehilangan kesempatan untuk bersinar.
Sebelum final, perebutan posisi ketiga mempertemukan Elang FC dan Max Security. Pertandingan berlangsung sengit, setiap detik diwarnai semangat juang yang tak kenal lelah. Max Security akhirnya menutup babak dengan posisi ketiga, membawa pulang kebanggaan yang sama besarnya dengan kemenangan.
Final berlangsung cepat, penuh adu strategi dan kecerdikan. Resedivis sempat unggul, Kalambakil menyamakan, dan setiap gol terasa seperti tarik ulur antara harapan dan realita.
Gol ketiga Resedivis memecah ketegangan, memicu sorak gembira yang bergema, tidak hanya dari para pemain, tetapi juga dari warga binaan yang menyaksikan mata berbinar, tangan bertepuk, hati ikut berlari di lapangan itu.
Kalapas Bengkalis Priyo Tri Laksono menyerahkan trofi kepada Resedivis. “Ini bukan sekadar kemenangan di lapangan,” katanya.
“Ini simbol bahwa olahraga mampu membangun karakter, memupuk sportivitas, dan memberi motivasi positif, meski seseorang berada di balik tembok.”
Tak hanya trofi, panitia juga memberikan penghargaan individu, Pemain Terbaik, Top Skor, dan Kiper Terbaik sebagai bentuk apresiasi bagi mereka yang menorehkan dedikasi dan kemampuan gemilang selama turnamen.
Saat peluit terakhir berbunyi, turnamen usai, namun semangat yang lahir di lapangan itu tetap hidup. Dari lapangan futsal sederhana di dalam Lapas, muncul kisah tentang keberanian, persahabatan, dan kesempatan kedua.
Bagi para resedivis, bukan hanya piala yang mereka bawa pulang, tapi keyakinan bahwa masa depan bisa tetap cerah bahkan dari tempat yang paling tak terduga sekalipun.**












