Banner Website
Daerah

Museum Sang Nila Utama Pamerkan Artefak Langka, Ungkap Jejak Peradaban Melayu dan Jalur Dagang Kuno

181
×

Museum Sang Nila Utama Pamerkan Artefak Langka, Ungkap Jejak Peradaban Melayu dan Jalur Dagang Kuno

Sebarkan artikel ini
Museum Sang Nila Utama Pamerkan Artefak Langka, Ungkap Jejak Peradaban Melayu dan Jalur Dagang Kuno
Museum Sang Nila Utama Pamerkan Artefak Langka./R45/Md

Rakyat45.com, Pekanbaru – Museum Sang Nila Utama kembali menarik perhatian publik setelah menampilkan sejumlah koleksi bersejarah yang memperkaya rekam jejak kebudayaan Melayu di Riau. Pada kunjungan Rakyat45.com, Senin (8/12/2025), deretan artefak bernilai tinggi dipamerkan mulai dari replika Perahu Lancang Kuning, pusaka tradisional, hingga benda-benda kuno yang menyimpan kisah perkembangan spiritual, seni, dan hubungan dagang masa lampau.

Salah satu koleksi yang menjadi sorotan adalah Bata Bertulis dari Candi Muara Takus, Kabupaten Kampar. Artefak berukuran 52 cm x 29 cm x 13 cm ini terbuat dari batu pasir dan berasal dari masa kejayaan Buddha Vajrayana pada abad ke-11 hingga ke-13. Bagian paling unik dari bata tersebut adalah pahatan aksara Pallawa berbahasa Sanskerta yang ditoreh secara halus dan rapi.

Tertulis pada artefak itu sebuah mantra berbunyi “om ?h bighnanta k? hùm phat sv?h?”, yang diyakini sebagai doa pelindung untuk memurnikan bangunan suci serta menangkal gangguan spiritual. Para peneliti berpendapat bahwa bata ini kemungkinan ditanam saat proses konsekrasi Candi Muara Takus sebagai bentuk perlindungan sakral.

Tidak hanya artefak bercorak religius, museum juga memamerkan Piring Keramik Bermotif Naga dari Dinasti Ming yang diperkirakan berasal dari abad ke-15 hingga ke-17. Piring porselen berdiameter 41 cm dan tinggi 9,5 cm itu tampil memikat dengan warna biru-putih khas era Ming. Di bagian tengahnya tergambar naga berwarna biru gelap, sementara tepinya dihiasi motif bunga tiga kelopak dan sulur-suluran yang menunjukkan kemahiran seniman Tiongkok kuno dalam menghasilkan detail dekoratif.

Keutuhan piring ini menandakan bahwa benda tersebut dulunya bukan perabot umum, melainkan bagian dari koleksi mewah milik keluarga terpandang. Keberadaannya memperkuat fakta bahwa Riau pada masa lampau menjadi titik penting dalam jalur perdagangan internasional antara Tiongkok dan kerajaan-kerajaan Melayu di kawasan pesisir Sumatra.

Koleksi lain yang tak kalah menarik adalah Batu Giok Persegi Empat dari Bagansiapiapi yang ditemukan di rumah Kapitan Tionghoa. Batu seberat 3,8 kg dengan dimensi 30 cm x 30 cm ini memuat relief Naga, simbol kemakmuran berupa koin Cina, dan lambang Patkwa (Yin Yang). Terukir pula angka tahun 1482 M serta tulisan “Zhang Min” yang berarti “Panjang Umur”, sebuah ukiran yang umumnya hanya diberikan kepada bangsawan atau tokoh terpandang.

Batu giok ini pernah dimiliki oleh Letnan Ang Koen Joe, salah satu kapitan Tionghoa paling berpengaruh pada tahun 1890. Artefak tersebut menjadi bukti kuat dinamika sosial-etnis di Riau serta mencerminkan status tinggi sang pemilik dalam komunitas Tionghoa pada masa kolonial.

Kepala UPT Museum Sang Nila Utama, Tengku Leni, menegaskan bahwa seluruh artefak dirawat dengan prosedur ketat untuk memastikan keaslian dan ketahanannya terjaga.

“Kami sangat berhati-hati dalam menjaga koleksi. Setiap artefak memiliki karakter material yang berbeda, sehingga metode konservasinya pun harus tepat dan terukur,” ujarnya.

Menurut Leni, museum menerapkan dua pendekatan utama dalam pelestarian, yakni konservasi preventif melalui pengaturan suhu, kelembapan, cahaya, serta kebersihan ruang pamer, dan konservasi kuratif untuk menangani kerusakan ringan seperti pembersihan logam berkarat atau perawatan keramik tanpa merusak struktur aslinya.

Dengan kekayaan koleksinya, Museum Sang Nila Utama tidak hanya menjadi ruang edukasi, tetapi juga bukti hidup perjalanan budaya dan sejarah masyarakat Melayu serta hubungan mereka dengan dunia luar.***