Daerah

Festival Sampan Layar, Ikhtiar Aipda Hudori Menghidupkan Budaya dan Merawat Alam Ketam Putih 

469
×

Festival Sampan Layar, Ikhtiar Aipda Hudori Menghidupkan Budaya dan Merawat Alam Ketam Putih 

Sebarkan artikel ini
Bhabinkamtibmas Desa Ketam Putih, Aipda Muhammad Hudori, berfoto bersama Bang Man, Ketua Perahu Layar Desa Ketam Putih, usai pelaksanaan Festival Sampan Layar sebuah ikhtiar bersama menjaga marwah budaya pesisir, merawat alam, dan mempererat harmoni antara masyarakat dan aparat. Foto diabadikan, Minggu (28/12/2025).R45/Indra.

Bengkalis, Rakyat45.com – Perubahan besar kerap lahir bukan dari meja kebijakan, melainkan dari percakapan sederhana yang jujur dan penuh kegelisahan. Di Desa Ketam Putih, sebuah desa pesisir di Kabupaten Bengkalis, benih perubahan itu tumbuh dari suara hati masyarakat yang khawatir akan punahnya tradisi leluhur mereka yaitu sampan layar.

Kegelisahan tersebut disampaikan Bang Man, Ketua Perahu Layar Desa Ketam Putih, kepada Bhabinkamtibmas setempat, Aipda Muhammad Hudori. Tradisi sampan layar yang telah mengarungi sejarah desa lebih dari tujuh dekade perlahan terpinggirkan oleh zaman, terancam tinggal cerita tanpa pewaris.

“Kami takut tradisi turun-temurun ini hilang. Kami berharap Bhabinkamtibmas bisa membantu membangkitkannya kembali melalui sebuah acara besar di akhir 2025,” tutur Bang Man, menyuarakan harapan masyarakat.

Curahan hati itu tidak berlalu sebagai keluh kesah semata. Bagi Aipda Muhammad Hudori, pesan tersebut menjelma menjadi panggilan pengabdian bukan hanya sebagai aparat penegak hukum, tetapi sebagai bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan masyarakat desa binaannya.

Berangkat dari pertemuan batin itu, Hudori mulai merajut gagasan besar. Pada November 2025, ia menginisiasi Festival Sampan Layar dengan menggandeng Duta Green Policing Polres Bengkalis, Juwandi.

Kolaborasi lintas elemen pun terbangun melalui rapat-rapat intens bersama Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Desa Ketam Putih, LAMR Kabupaten Bengkalis, pemerintah desa, serta komunitas masyarakat.

“Dari curhatan masyarakat itulah ide festival ini lahir. Alhamdulillah, melalui kolaborasi dan kerja bersama, Festival Sampan Layar berhasil kita gelar,” ujar Aipda Hudori, kepada Rakyat45.com, Minggu, (4/1/2026).

Lebih dari sekadar perayaan budaya, festival ini diperkaya dengan semangat kepedulian lingkungan. Sejalan dengan program Green Policing Kapolda Riau, Hudori mengintegrasikan gerakan penanaman mangrove sebagai ikhtiar menjaga pesisir sekaligus memperkuat identitas Desa Ketam Putih sebagai desa wisata berbasis budaya dan lingkungan.

Kolaborasi ini kemudian diwujudkan secara nyata oleh LAMR Desa Ketam Putih, LAMR Kabupaten Bengkalis, Pemerintah Desa Ketam Putih, dan Polres Bengkalis.

Sinergi adat, pemerintah, dan aparat keamanan menjadi fondasi kokoh yang menegaskan bahwa pembangunan desa akan berkelanjutan ketika dilandasi nilai kebersamaan dan visi yang sama.

Dukungan penuh juga datang dari Kapolres Bengkalis, AKBP Budi Setiawan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas inovasi dan kepedulian yang ditunjukkan oleh Bhabinkamtibmas Desa Ketam Putih.

“Kami mengapresiasi Bhabinkamtibmas Aipda Muhammad Hudori atas inovasi kolaboratifnya. Polres Bengkalis berkomitmen menjaga alam melalui Green Policing. Tahniah untuk panitia dan seluruh masyarakat Desa Ketam Putih,” ucap Kapolres Budi Setiawan.

Festival ini dibuka secara resmi oleh Bupati Bengkalis yang diwakili Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Syahruddin. Sejumlah tokoh penting turut hadir, di antaranya Wakil Ketua II DPRD Bengkalis Hendri Firnanda Pangaribuan, Ketua LAMR Bengkalis Datuk Seri Syaukani, Kapolres Bengkalis AKBP Budi Setiawan, serta para kepala OPD, tokoh agama, dan unsur pemerintahan lainnya.

Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut semakin menegaskan legitimasi Festival Sampan Layar sebagai warisan budaya yang patut dirawat dan diwariskan.

Perjuangan Aipda Muhammad Hudori bersama masyarakat Desa Ketam Putih menjadi bukti bahwa keamanan, budaya, dan lingkungan bukanlah entitas yang terpisah, melainkan dapat berjalan seiring, saling menguatkan.

Dari sebuah curahan hati sederhana, lahir gerakan besar yang menghidupkan kembali tradisi, merawat alam, dan meneguhkan Desa Ketam Putih sebagai desa wisata yang berakar kuat pada kearifan lokal dan kepedulian terhadap masa depan.**