Bengkalis, Rakyat45.com – Langit Bengkalis kembali berbicara tentang tradisi saat layang-layang Wau mengangkasa, menautkan masa lalu dengan harapan masa depan. Dari pesisir Pasir Andam Dewi, sebuah perayaan budaya pun bermula, bukan sekadar festival, melainkan pernyataan jati diri dan marwah masyarakat Negeri Junjungan, yang dalam lintasan sejarah pernah dikenal sebagai Kota Terubuk.
Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan dan Sumber Daya Manusia, Johansyah Syafri, mewakili Bupati Bengkalis Kasmarni, secara resmi membuka Festival Layang-Layang Wau Bengkalis yang diselenggarakan oleh Pengurus Perkumpulan Layang-Layang Wau Bengkalis (PLWB), Sabtu, 31 Januari 2026. Kawasan pantai yang bersentuhan langsung dengan angin laut itu menjelma ruang temu antara budaya, kreativitas, dan kebersamaan.
Festival ini melibatkan 200 peserta, terdiri atas 100 pelajar dan 100 peserta umum. Selama dua hari, Sabtu hingga Minggu, 1 Februari 2025, para peserta berlomba dalam kategori Layang-Layang Wau Kurau Jantan dan Betina, serta kategori tambahan Wau Bulan yang diperuntukkan bagi peserta umum menjadikan ajang ini sarat warna, bentuk, dan makna.
Membacakan sambutan tertulis Bupati Bengkalis, Johansyah Syafri menegaskan bahwa festival tersebut merupakan langkah konkret dalam menjaga denyut permainan tradisional agar tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi.
“Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas budaya lokal masyarakat Negeri Junjungan. Sekaligus menjadi ruang komunikasi, interaksi sosial, serta penggerak semangat UMKM dalam perputaran ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Apresiasi tinggi pun disampaikan kepada seluruh panitia dan pegiat budaya yang dinilai konsisten merawat warisan leluhur. Menurut Johansyah, Festival Layang-Layang Wau bukan sekadar hiburan musiman, melainkan cermin kepedulian kolektif terhadap kekayaan budaya yang telah diwariskan lintas generasi.
Festival yang mengusung slogan “Melestarikan Tradisi, Mengangkat Marwah” itu dinilai selaras dengan visi besar Pemerintah Kabupaten Bengkalis, yakni mewujudkan daerah yang Bermarwah, Maju, dan Sejahtera, serta Unggul di Indonesia (BERMASA).
“Keanekaragaman permainan rakyat, khususnya Layang-Layang Wau, memerlukan perhatian serius. Tanpa upaya menjaga dan mengembangkannya secara berkelanjutan, warisan luhur ini bisa saja hilang ditelan zaman dan hanya tersisa sebagai cerita bagi anak cucu kita,” tutur Johansyah.
Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan hukum terhadap ragam layang-layang khas Bengkalis. Saat ini, Layang Kuau Jantan Laksamana Bengkalis telah resmi dipatenkan secara nasional dan terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM sebagai ikon budaya daerah.
“Ke depan, kami berharap proses pendaftaran hak cipta dan paten dapat dilanjutkan untuk Layang Kuau Betina serta Wau Bulan Laksamana Bengkalis,” pintanya.
Langkah tersebut diharapkan memperkuat perlindungan hukum terhadap warisan budaya tak benda milik Bengkalis sekaligus memperluas pengakuannya di tingkat nasional dan internasional.
Senada dengan hal itu, Camat Bengkalis Taufik Hidayat, menilai Festival Layang-Layang Wau tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga menjadi medium strategis dalam membangun kebersamaan masyarakat lintas generasi.
“Festival ini menghadirkan ruang temu yang mempererat silaturahmi, menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya sendiri, serta menghidupkan kawasan pesisir sebagai ruang publik yang produktif dan bernilai,” ujar Taufik. saat diwawancarai Rakyat45.com usai menghadiri pembukaan Festival Layang-Layang Wau.
Menurutnya, keterlibatan pelajar dan masyarakat umum menunjukkan bahwa tradisi masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan modern. Ia berharap festival serupa terus dikembangkan sebagai agenda budaya berkelanjutan yang mampu mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif lokal.
Lebih jauh, festival ini juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda. Anak-anak dan remaja tidak hanya diperkenalkan pada bentuk dan teknik layang-layang Wau, tetapi juga pada nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, kesabaran, dan gotong royong semua dibalut dalam suasana yang menyenangkan dan membumi.
“Kami berharap kegiatan ini dapat dilaksanakan secara berkesinambungan. Harapan kami sederhana namun bermakna: Layang-Layang Wau Bengkalis dikenal luas, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga mancanegara, sebagai identitas dan kebanggaan masyarakat Bengkalis sepanjang masa,” tutup Johansyah.
Festival ini mendapat dukungan penuh dari Dewan Pembina serta Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Bengkalis sebagai payung negeri yang konsisten membina dan menjaga tradisi Melayu agar tetap hidup dan bermarwah.
Dalam kesempatan tersebut, Staf Ahli Bupati Bengkalis bersama para tamu kehormatan menerima cinderamata berupa miniatur Layang-Layang Wau dari PLWB sebagai simbol penghormatan dan komitmen pelestarian budaya.
Sejumlah pejabat dan tokoh turut hadir, antara lain Wakil Ketua II DPRD Bengkalis Hendrik Firnanda Pangaribuan, Kapolres Bengkalis yang diwakili Kabag Logistik AKP Cecep Sujapar, Danramil 01/Bengkalis yang diwakili Peltu Dedek Irwanto, Kajari Bengkalis yang diwakili Boy Trinanda Ujung, Danposal Bengkalis yang diwakili Kopka Rudianto Tanjung, Camat Bengkalis Taufik Hidayat, serta jajaran pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkalis.
Hadir pula Ketua MKA LAMR Bengkalis Datuk Seri H. Ilham Noer, Ketua Umum DPH LAMR Bengkalis Datuk Seri Syaukani Alkarim, Ketua Pengiat Layang-Layang Indonesia asal Jakarta, Sari Majit, beserta para tamu undangan lainnya.**












