Banner Website
Nasional

Transformasi Digital Nasional Butuh Keamanan Siber, AI Jadi Tantangan dan Peluang

48
×

Transformasi Digital Nasional Butuh Keamanan Siber, AI Jadi Tantangan dan Peluang

Sebarkan artikel ini
Transformasi Digital Nasional Butuh Keamanan Siber, AI Jadi Tantangan dan Peluang
Kegiatan Cybersecurity Offline Workshop #13 AI-Security di Yogyakarta, Sabtu (31/1/2026). R45/Agus

Rakyat45.com, Yogyakarta – Transformasi digital Indonesia dinilai tidak bisa dijalankan secara parsial dan reaktif.

Dibutuhkan arah kebijakan yang jelas, visi jangka panjang, serta keberanian negara membangun kedaulatan digital nasional di tengah pesatnya perkembangan teknologi global, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Pemerintah saat ini menempatkan transformasi digital sebagai instrumen strategis pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Arah kebijakan tersebut bertumpu pada tiga fokus utama, yakni penguatan infrastruktur digital dalam negeri, ekosistem inovasi berbasis riset, serta investasi strategis pengembangan talenta dan industri digital.

Penguatan infrastruktur diwujudkan melalui dorongan lokalisasi data dan pengembangan layanan komputasi nasional, termasuk cloud dan edge computing. Langkah ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyangkut kepentingan strategis agar data dan nilai ekonomi digital tetap berada di dalam negeri.

Di sisi lain, inovasi menjadi kunci agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar teknologi global. Tanpa riset dan pengembangan AI yang kuat, daya saing nasional dinilai akan tertinggal.

Sementara itu, investasi strategis diarahkan untuk memperkuat keterhubungan Indonesia dalam ekosistem AI global, mulai dari pengembangan sumber daya manusia hingga integrasi lintas sektor.

Namun, percepatan digital tersebut juga memunculkan tantangan serius, yakni meningkatnya risiko keamanan siber.

Teknologi AI yang semakin canggih tidak hanya dimanfaatkan untuk pertahanan sistem, tetapi juga berpotensi digunakan sebagai alat serangan siber yang lebih kompleks.

Kesadaran inilah yang melatarbelakangi digelarnya Cybersecurity Offline Workshop #13 AI-Security di Yogyakarta.

Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (31/1/2026), pukul 08.30–13.30 WIB, bertempat di Kantor Balai Pelatihan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital (BPSDM Komdigi) Yogyakarta, Kabupaten Bantul.

Workshop yang diselenggarakan oleh BPSDM Komdigi Yogyakarta bersama Komunitas Cyberkarta ini menjadi ruang kolaboratif antara pemerintah, komunitas siber, dan masyarakat untuk memperdalam pemahaman terkait tantangan keamanan digital di era kecerdasan buatan.

Mengusung tema AI-Security, forum ini membahas tidak hanya aspek teknis ancaman siber, tetapi juga etika, tata kelola, serta kesiapan sumber daya manusia menghadapi teknologi AI yang semakin otonom.

Kehadiran Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, sebagai keynote speaker menegaskan bahwa isu keamanan siber kini menjadi bagian penting dari agenda nasional.

Workshop tersebut menegaskan bahwa transformasi digital tidak dapat dilepaskan dari sistem pengamanan yang kuat.

Keamanan siber dipandang sebagai fondasi kepercayaan publik, keberlanjutan industri, serta stabilitas nasional di ruang digital.

Isu keamanan digital juga mendapat perhatian dari sektor pariwisata.

Agus Budi Rachmanto, Sekretaris Umum Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) DPD DIY, menilai bahwa keamanan siber kini menjadi faktor krusial dalam industri berbasis pengalaman.

“Digitalisasi di sektor rekreasi dan pariwisata bukan hanya soal promosi atau sistem tiket daring, tapi soal kepercayaan pengunjung. Kepercayaan itu tidak akan ada tanpa sistem digital yang aman,” ujarnya.

Menurut Agus, pemanfaatan AI dalam industri pariwisata seperti analisis perilaku wisatawan dan personalisasi layanan harus diiringi kesiapan keamanan siber yang memadai. Tanpa itu, digitalisasi justru berpotensi membuka celah risiko baru.

Ia menilai kegiatan seperti Cybersecurity Offline Workshop #13 AI-Security memiliki nilai strategis karena mampu menjembatani kebijakan, teknologi, dan kebutuhan sektor riil.

“Pelaku usaha perlu ruang belajar bersama agar memahami risiko siber yang bisa berdampak langsung pada reputasi dan keberlanjutan usaha,” katanya.

Agus juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga ekosistem digital nasional. Menurutnya, keamanan siber bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pelaku teknologi, melainkan kerja kolektif seluruh pemangku kepentingan.

“Transformasi digital yang sejati bukan soal siapa yang paling cepat mengadopsi teknologi, tetapi siapa yang paling siap menjaga keberlanjutannya. Di situlah peran penting keamanan siber,” pungkasnya.***