Banner Website
Nasional

Menaker Ingatkan Anak Muda: Bertahan dengan Satu Skill Bisa Tersingkir dari Dunia Kerja

181
×

Menaker Ingatkan Anak Muda: Bertahan dengan Satu Skill Bisa Tersingkir dari Dunia Kerja

Sebarkan artikel ini
Menaker Ingatkan Anak Muda Bertahan dengan Satu Skill Bisa Tersingkir dari Dunia Kerja
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, Kementerian Ketenagakerjaan terus memperkuat peran Balai Latihan Kerja (BLK), Senin (9/2/2026). /R45/Biro Humas Kemnaker

Rakyat45.com, Lahat – Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa generasi muda Indonesia tidak bisa lagi bergantung pada satu kemampuan saja jika ingin bertahan di dunia kerja. Perubahan teknologi, ekonomi global, dan pola industri dinilai telah menggeser kebutuhan tenaga kerja secara drastis.

Dalam kuliah umum yang digelar di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, Senin (9/2/2026), Yassierli menyampaikan bahwa anak muda yang enggan memperbarui keterampilan berisiko kehilangan peluang kerja, bahkan tersingkir dari persaingan yang kian ketat.

“Persaingan hari ini bukan hanya lokal, tapi global. Kalau hanya mengandalkan satu keahlian lama, kita akan tertinggal. Anak muda harus berani tampil berbeda dan terus meningkatkan kapasitas diri,” ujarnya.

Menurut Yassierli, transformasi teknologi telah memunculkan berbagai sektor baru yang membutuhkan keterampilan berbeda dari masa lalu. Mulai dari ekonomi digital dan kreatif, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), care economy, hingga ekonomi berkelanjutan, semuanya menuntut tenaga kerja yang adaptif dan cepat belajar.

Ia menyebutkan bahwa pola pikir “cukup satu keahlian” sudah tidak relevan. Bahkan, secara global diperkirakan lebih dari separuh pekerja perlu mempelajari keterampilan baru agar tetap sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.

“Model kompetensi juga berubah. Tidak cukup lagi hanya ahli di satu bidang. Sekarang dibutuhkan kombinasi keahlian yang saling terhubung,” jelasnya.

Yassierli menjelaskan bahwa dunia kerja kini membutuhkan talenta dengan kemampuan berlapis, seperti konsep T-Shaped (ahli di satu bidang namun memahami bidang lain), Pi-Shaped (memiliki dua keahlian utama), hingga multi-spesialisasi yang terintegrasi.

Menurutnya, generasi muda harus mulai membangun portofolio keterampilan sejak dini agar tidak tertinggal ketika dunia kerja berubah dengan cepat.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan terus memperkuat peran Balai Latihan Kerja (BLK). Yassierli menegaskan, BLK kini tidak hanya fokus pada keterampilan konvensional, tetapi juga diarahkan menjadi pusat pengembangan talenta sesuai kebutuhan zaman.

“Sekitar 50 persen jenis pekerjaan diprediksi akan berubah dalam 10 tahun ke depan. Karena itu, kemampuan belajar ulang dan beradaptasi menjadi keharusan,” katanya.

Ia menekankan pentingnya growth mindset sebagai fondasi utama agar pekerja, khususnya anak muda, mampu bertahan menghadapi perubahan.

Selain isu keterampilan, Yassierli juga menyoroti besarnya peluang daerah di era digital. Ia menyebutkan bahwa mayoritas pengguna digital baru kini justru berasal dari wilayah nonperkotaan, termasuk daerah seperti Kabupaten Lahat.

Kondisi ini, menurutnya, membuka ruang besar bagi pengembangan UMKM, ekonomi kreatif, dan lapangan kerja berbasis digital di daerah.

“Ekonomi digital tidak lagi terpusat di kota besar. Daerah punya peluang yang sama besar untuk tumbuh,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Yassierli menekankan bahwa persoalan ketenagakerjaan tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah pusat semata. Dibutuhkan kolaborasi aktif antara pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat.

“Masalah tenaga kerja tidak akan selesai hanya oleh satu kementerian. Pemerintah daerah harus menjadi motor penggerak utama,” pungkasnya.***