Rakyat45.com, Yogyakarta – Lanskap industri pertambangan Indonesia tengah memasuki babak baru yang sarat tantangan. Cadangan yang mudah dieksplorasi kian menipis, sementara sorotan publik terhadap dampak lingkungan pertambangan semakin tajam. Di tengah tekanan global dan tuntutan tata kelola berkelanjutan, kebutuhan akan sumber daya manusia yang kompeten menjadi keniscayaan.
Kesadaran itulah yang mendorong Ikatan Alumni Tambang (IKATA) UPN Veteran Yogyakarta bersama para praktisi pertambangan menggelar lokakarya nasional bertajuk usulan pendirian Pendidikan Profesi Pertambangan, Sabtu (14/2/2026), di Grand Diamond Hotel Yogyakarta. Forum strategis ini mempertemukan akademisi, pelaku usaha, asosiasi, pemerintah, praktisi hingga insan media dalam satu ruang dialog konstruktif.
Kehadiran Rektor UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Mohamad Irhas Effendi, M.Si, serta Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM RI, Dr. Ing. Tri Winarno, ST, MT, mempertegas bobot diskusi. Keduanya memberikan arahan strategis atas pentingnya penguatan kompetensi profesional di sektor pertambangan nasional.
Ketua Panitia Lokakarya, Ir. Herry Susanto, menegaskan bahwa dinamika industri tambang global menuntut kesiapan yang jauh lebih matang. Menurutnya, era tambang terbuka (open pit) yang selama ini menjadi andalan mulai menemui keterbatasan. Endapan mineral yang mudah dijangkau semakin langka.
“Ke depan, metode yang realistis adalah tambang bawah tanah (underground mining). Konsekuensinya, kita membutuhkan tenaga profesional dengan kompetensi spesifik dan terstandar,” ujar Herry, praktisi yang telah lebih dari tiga dekade berkecimpung di dunia pertambangan.
Ia menekankan, tata kelola tambang bawah tanah bukan perkara sederhana. Risiko teknis, keselamatan kerja, hingga pengelolaan lingkungan menuntut keahlian multidisipliner yang terintegrasi. Karena itu, gagasan pembentukan pendidikan profesi pertambangan dinilai sebagai langkah strategis untuk menjawab kebutuhan industri sekaligus meredam persepsi negatif publik terhadap sektor tambang.
Herry mengapresiasi sinyal positif dari Direktorat Jenderal Minerba Kementerian ESDM atas inisiatif tersebut. Dukungan itu, menurutnya, menjadi landasan awal untuk membangun sinergi antara praktisi, pemerintah, dan institusi pendidikan tinggi.
Rektor UPN Veteran Yogyakarta pun menyambut baik usulan tersebut. Pihak kampus membuka ruang kerja sama dengan berbagai lembaga yang membidangi pertambangan guna merumuskan skema pendidikan profesi yang adaptif terhadap kebutuhan industri.
Ketua IKATA UPN Veteran Yogyakarta, Andriyan Harizona, ST, menjelaskan bahwa lokakarya ini menjadi wadah aspirasi bagi sekitar 7.000 anggota alumni yang tersebar di berbagai disiplin dan lini sektor pertambangan. Ia menegaskan, organisasi alumni tidak sekadar menjadi jejaring sosial, melainkan ruang intelektual untuk melahirkan gagasan strategis bagi bangsa.
“Dari ribuan anggota dengan latar belakang berbeda, lahir ide-ide besar untuk kemajuan sektor tambang nasional. Lokakarya ini adalah salah satu wujud konkret kontribusi alumni,” ujarnya.
Forum tersebut bukan sekadar diskusi akademik, melainkan pijakan awal menuju transformasi kompetensi pertambangan Indonesia. Di tengah pergeseran metode eksploitasi dan tuntutan keberlanjutan, pendidikan profesi dipandang sebagai jembatan antara kebutuhan industri, standar keselamatan global, dan kepentingan lingkungan.
Harapan pun mengemuka: lahirnya generasi profesional tambang yang tidak hanya piawai secara teknis, tetapi juga berintegritas dan berwawasan keberlanjutan. Sebuah langkah maju untuk memastikan bahwa sumber daya alam dikelola dengan kecakapan, tanggung jawab, dan visi jangka panjang bagi negeri.**












