Banner Website
Ragam

Revolusi di Balik Tembok Pemasyarakatan: Maggot BSF Antar Lapas Bengkalis Menuju Kemandirian

151
×

Revolusi di Balik Tembok Pemasyarakatan: Maggot BSF Antar Lapas Bengkalis Menuju Kemandirian

Sebarkan artikel ini
Seorang warga binaan Lapas Bengkalis memanen maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai pakan ternak ayam dalam program pembinaan kemandirian berbasis pengelolaan limbah organik, Selasa (24/2/2026)./R45/Humas Lapas.

Rakyat45.com, Bengkalis – Semangat kemandirian tumbuh di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bengkalis. Sisa makanan yang sebelumnya berakhir sebagai limbah, kini menjelma menjadi sumber protein bernilai ekonomi melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Inovasi ini bukan sekadar program kerja, melainkan langkah strategis membangun ekosistem pembinaan yang produktif dan berkelanjutan.

Area Bimbingan Kemandirian menjadi ruang transformasi tersebut. Sisa konsumsi dari dapur lapas dipilah dan difermentasi sebagai media tumbuh larva BSF. Dalam hitungan hari, limbah organik terurai cepat dan efisien, menghasilkan maggot berkadar protein tinggi yang kemudian dipanen sebagai pakan ternak ayam produktif di lingkungan internal. Skema ini menekan biaya operasional sekaligus memastikan kualitas nutrisi ternak tetap terjaga.

Kepala Seksi Kegiatan Kerja, David Susilo, menegaskan bahwa program ini terus diperkuat sebagai bagian dari strategi pembinaan berbasis keterampilan.

“Kegiatan ini tidak hanya berdampak pada efisiensi anggaran, tetapi juga membentuk warga binaan agar terampil dan siap berkontribusi saat kembali ke masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, pengelolaan limbah menjadi sumber daya menghadirkan nilai tambah nyata baik secara ekonomi maupun ekologis.” terang David.

Secara terpisah, Kepala Lapas Bengkalis, Priyo Tri Laksono, menjelaskan bahwa maggot dipilih karena kemampuannya mengurai sampah organik secara cepat dengan tingkat konversi yang tinggi. Larva BSF mengandung protein dan lemak esensial yang efektif mempercepat pertumbuhan ayam, sehingga ketergantungan pada pakan pabrikan dapat ditekan tanpa mengorbankan kualitas hasil ternak.

“Program ini juga menjadi laboratorium pembelajaran praktis. Warga binaan dibekali pemahaman mengenai manajemen pengelolaan limbah, siklus hidup serangga BSF, hingga teknik panen yang higienis. Petugas pendamping melakukan pengawasan rutin sejak tahap pemilahan hingga panen guna memastikan standar kebersihan dan keamanan tetap terjaga.” cetua Kalapas Bengkalis, Selasa, 24/2/2026.

Keberhasilan tersebut menegaskan bahwa keterbatasan ruang tidak membatasi daya cipta. Di tengah sistem pemasyarakatan, konsep ekonomi sirkular justru menemukan relevansinya mengubah residu menjadi sumber daya, sekaligus membangun mental kewirausahaan bagi para warga binaan.

“Budidaya, dan distribusi pakan ternak berlangsung aman, tertib, serta sesuai standar pengamanan. Inovasi ini menjadi kebanggaan internal Lapas Bengkalis sebuah model pembinaan kemandirian yang ramah lingkungan, efisien, dan sarat nilai pemberdayaan.” tutup Kalapas Priyo.**