Banner Website
Ekbis

PHR Genjot Migas Non-Konvensional, Targetkan Produksi Baru hingga 2037

26
×

PHR Genjot Migas Non-Konvensional, Targetkan Produksi Baru hingga 2037

Sebarkan artikel ini
PHR Genjot Migas Non-Konvensional
PHR dorong migas non-konvensional untuk jaga produksi dan ketahanan energi, targetkan produksi awal 2028 hingga puncak 2037. (R45/Ruang Energi)

Rakyat45.com, Jakarta –  PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mempercepat pengembangan migas non-konvensional (MNK) sebagai strategi utama menjaga keberlanjutan produksi energi nasional di tengah menurunnya kinerja lapangan migas konvensional.

Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, menegaskan bahwa pengembangan MNK kini menjadi kebutuhan mendesak bagi industri migas nasional. Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum Offshore Technology Conference Asia 2026 yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia.

“Pengembangan migas non-konvensional bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan strategis,” ujar Arifin.

PHR mengidentifikasi potensi besar MNK di sub-cekungan North Aman dengan estimasi sumber daya mencapai 11,3 miliar barel minyak di tempat (BBO). Potensi ini dinilai menjadi peluang besar untuk mendongkrak produksi nasional yang selama ini bergantung pada lapangan konvensional yang mulai menua.

Dalam tahap awal pengembangan, PHR telah melakukan pengeboran eksplorasi menggunakan metode horizontal serta uji alir (flowback test) di area Gulamo dan Kelok. Hasilnya menunjukkan adanya kandungan hidrokarbon yang menjanjikan.

Perusahaan kini melanjutkan tahap appraisal melalui rencana pengeboran lanjutan dengan teknologi horizontal dan multi-stage fracturing untuk mengoptimalkan produksi dari lapangan MNK.

PHR juga menyusun peta jalan pengembangan jangka panjang. Tahapan tersebut meliputi target kontrak bagi hasil (PSC) pada kuartal II 2026, pengeboran appraisal pada kuartal IV 2026, produksi awal yang ditargetkan mulai 2028, hingga pengembangan skala besar pasca-2030 dan puncak produksi pada 2037.

Meski memiliki potensi besar, Arifin mengakui pengembangan MNK menghadapi tantangan kompleks, tidak hanya dari sisi teknis bawah permukaan, tetapi juga faktor eksternal seperti kebutuhan investasi besar, dukungan regulasi dan fiskal, serta kesiapan infrastruktur.

Karena itu, PHR menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, operator, dan mitra strategis untuk memastikan proyek MNK mencapai skala ekonomis.

Dalam forum yang sama, Pertamina Hulu Energi (PHE) menyampaikan bahwa energi hidrokarbon masih menjadi tulang punggung kebutuhan energi global di tengah upaya pengurangan emisi karbon.

Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, PHE menerapkan strategi dual growth, yakni memperkuat bisnis hulu migas sekaligus mengembangkan energi rendah karbon sebagai bagian dari transisi energi berkelanjutan.***