Banner Website
Ekbis

Harga CPO Malaysia Diprediksi Turun di Kuartal II 2026 Meski Ekspor Melonjak

24
×

Harga CPO Malaysia Diprediksi Turun di Kuartal II 2026 Meski Ekspor Melonjak

Sebarkan artikel ini
Disbun Riau Tetapkan Harga TBS Sawit Terbaru, Petani Nikmati Kenaikan di Akhir Tahun
Ilustrasi - Buah Kelapa Sawit./R45/md/Free

Rakyat45.com, Kuala Lumpur – Harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) Malaysia diperkirakan akan mengalami tekanan pada kuartal II tahun 2026, di tengah lonjakan permintaan ekspor yang justru menggerus stok secara signifikan.

Analis pasar menilai penurunan harga ini dipicu oleh aksi percepatan pembelian dari negara-negara importir utama yang mulai mengamankan pasokan lebih awal. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi gangguan distribusi akibat ketidakpastian geopolitik, khususnya terkait konflik di Timur Tengah.

Kondisi tersebut membuat permintaan ekspor melonjak tajam dalam waktu singkat. Banyak negara pembeli memilih melakukan stockpiling guna menjaga stabilitas pasokan domestik mereka.

Mengutip laporan Bernama, Senin (13/4/2026), Kenanga Investment Bank memperkirakan stok CPO Malaysia akan kembali mendekati rata-rata dalam 10 tahun terakhir pada kuartal ini. Penurunan stok terjadi seiring peningkatan volume pengiriman ke pasar global.

Tren penguatan ekspor sebenarnya sudah terlihat sejak Maret 2026. Pada periode tersebut, volume ekspor tercatat mencapai 1,55 juta ton.

Di saat yang sama, harga CPO justru menunjukkan penguatan. Rata-rata harga pada Maret berada di level RM4.321 per ton, dan diproyeksikan naik ke kisaran RM4.500 hingga RM4.700 per ton sepanjang April.

Kondisi ini menciptakan dinamika yang kontras antara lonjakan permintaan dan potensi tekanan harga di kuartal berikutnya.

Di tengah kenaikan biaya produksi seperti pupuk dan energi, industri sawit tetap diperkirakan mencetak keuntungan. Kenaikan harga minyak nabati global turut menjaga daya tarik CPO di pasar internasional.

Permintaan global juga dinilai tetap solid dengan proyeksi pertumbuhan konsumsi sekitar 3% hingga 4% sepanjang 2026. Malaysia mendapat keuntungan tambahan karena memasuki tahun ini dengan stok tinggi hasil panen besar pada 2025.

Namun demikian, Public Investment Bank Bhd mencatat bahwa penurunan stok CPO Malaysia kali ini merupakan yang paling tajam sejak Maret 2023. Hal ini memperlihatkan agresivitas negara-negara konsumen dalam mengamankan pasokan di tengah ketidakpastian global.

Ke depan, harga CPO diperkirakan masih memiliki penopang kuat. Ketersediaan ekspor di kawasan diprediksi semakin ketat, terutama akibat kebijakan negara produsen seperti Indonesia dan Thailand yang memprioritaskan penggunaan domestik melalui program biodiesel.

Selain faktor kebijakan, risiko cuaca akibat fenomena El Nino juga menjadi perhatian utama. Gangguan iklim berpotensi menekan produktivitas perkebunan sawit dan memengaruhi keseimbangan pasokan global dalam jangka menengah.

Dengan berbagai faktor tersebut, pasar CPO global diperkirakan akan tetap bergerak dinamis sepanjang tahun ini, dipengaruhi oleh kombinasi permintaan tinggi, ketegangan geopolitik, dan tantangan produksi.***