Banner Website
Ekbis

Waspada Nataru, BPS Ingatkan Ancaman Lonjakan Inflasi Pangan di Akhir Tahun

163
×

Waspada Nataru, BPS Ingatkan Ancaman Lonjakan Inflasi Pangan di Akhir Tahun

Sebarkan artikel ini
Waspada Nataru, BPS Ingatkan Ancaman Lonjakan Inflasi Pangan di Akhir Tahun
Direktur Statistik Harga BPS, Windhiarso Ponco Adi./R45/Mc

Rakyat45.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Peringatan ini disampaikan menyusul pola historis yang menunjukkan tekanan inflasi cenderung menguat setiap Desember, seiring meningkatnya konsumsi masyarakat. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi sektor yang paling rentan mengalami kenaikan harga.

Direktur Statistik Harga BPS, Windhiarso Ponco Adi, menegaskan bahwa momen Nataru hampir selalu diikuti oleh lonjakan permintaan bahan pangan, yang kemudian berdampak pada pergerakan harga di pasar.

“Berdasarkan catatan historis, setiap Desember tekanan inflasi biasanya meningkat, terutama karena adanya perayaan Natal dan Tahun Baru,” ujar Windhiarso dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi, Senin (22/12/2025).

Ia menjelaskan, dalam rentang 2021 hingga 2024, kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara konsisten mencatat inflasi pada bulan Desember. Puncak inflasi tertinggi terjadi pada Desember 2021 dengan laju inflasi mencapai 1,61 persen dan kontribusi sebesar 0,41 persen terhadap inflasi nasional.

Pada periode tersebut, cabai rawit menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar, yakni mencapai 0,11 persen. Selain cabai rawit, komoditas yang kerap memicu inflasi Desember antara lain telur ayam ras, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan tomat.

Windhiarso menilai kondisi inflasi pada November 2025 patut menjadi alarm dini. Pasalnya, tren historis menunjukkan tekanan harga belum mereda dan berpotensi kembali meningkat menjelang akhir tahun.

“Perkembangan inflasi November lalu menjadi sinyal kewaspadaan karena pola historisnya menunjukkan tekanan harga yang cenderung naik di Desember,” jelasnya.

Lebih lanjut, BPS mencatat pada pekan ketiga Desember 2025, sebanyak 37 provinsi mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH). Hanya satu provinsi yang mencatatkan penurunan IPH dibandingkan bulan sebelumnya.

Adapun komoditas utama yang mendorong kenaikan IPH di mayoritas provinsi tersebut antara lain cabai rawit, daging ayam ras, cabai merah, dan bawang merah.

“Meluasnya wilayah yang mengalami kenaikan IPH menunjukkan tekanan harga yang semakin kuat menjelang tutup tahun,” pungkas Windhiarso.***