Bengkalis, Rakyat45.com – Hidayah kerap datang dari arah yang tak terduga. Di balik tembok tinggi dan jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bengkalis, sebuah perjalanan batin menemukan momentumnya. Seorang warga binaan bernama Atong, yang kini resmi menyandang nama Muhammad Syarif, pada Jum’at (23/1), memeluk agama Islam setelah mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Al-Ihsan Lapas Bengkalis.
Prosesi berlangsung khidmat, sederhana, namun sarat makna. Dipandu Ustaz Muhammad Farduka, pengucapan syahadat itu disaksikan 36 warga binaan santri serta petugas pemasyarakatan. Suasana masjid hening, seolah memberi ruang bagi lahirnya harapan baru di tengah masa pidana yang dijalani.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembinaan kerohanian Islam yang secara konsisten digelar Lapas Bengkalis. Program ini tidak hanya menekankan ritual keagamaan, tetapi juga pendalaman nilai spiritual sebagai fondasi perubahan sikap dan perilaku warga binaan.
Pengawasan dan pendampingan dilakukan langsung oleh Kepala Subseksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Kasubsi Bimkemaswat), staf Bimkemaswat, serta petugas jaga. Kehadiran mereka memastikan prosesi berjalan tertib, aman, dan penuh kekhusyukan.
Kasubsi Bimkemaswat Lapas Kelas IIA Bengkalis, Raja Ade Kurniawan, menegaskan bahwa momen tersebut bukan sekadar seremoni keagamaan.
“Pengucapan dua kalimat syahadat ini adalah awal perjalanan spiritual. Kami berharap keimanan yang tumbuh dapat menjadi bekal perubahan positif, baik selama menjalani masa pidana maupun setelah kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Bagi Muhammad Syarif, keputusan itu lahir dari perenungan panjang. Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan rasa syukur atas hidayah yang diterimanya.
“Saya merasa lebih tenang. Saya bersyukur bisa menemukan jalan ini di sini. Semoga saya mampu Istiqomah dan menjadi pribadi yang lebih baik,” tuturnya.
Melalui pembinaan keagamaan yang humanis dan berkelanjutan, Lapas Kelas IIA Bengkalis menegaskan perannya bukan semata sebagai tempat menjalani hukuman, melainkan ruang pemulihan dan pembentukan jati diri. Dari balik jeruji, secercah cahaya iman kembali menyala, menjadi tanda bahwa harapan selalu punya jalan untuk tumbuh.**










