Banner Website
Nasional

Pemerintah Ubah BLK Jadi Pusat Talenta dan Inkubator Kerja

30
×

Pemerintah Ubah BLK Jadi Pusat Talenta dan Inkubator Kerja

Sebarkan artikel ini
Pemerintah Ubah BLK Jadi Pusat Talenta dan Inkubator Kerja
Yassierli saat meninjau Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Surakarta, Jumat (30/1/2026). Rakyat45/Kemnakes

Rakyat45.com, Surakarta – Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) tengah menyiapkan langkah besar dalam mereformasi Balai Latihan Kerja (BLK) agar lebih adaptif terhadap kebutuhan industri dan mampu membuka peluang kerja serta wirausaha yang lebih luas bagi masyarakat.

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menegaskan transformasi BLK menjadi kebutuhan mendesak di tengah perubahan cepat dunia kerja. Selama ini, pelatihan dinilai belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan pasar tenaga kerja, sehingga dampaknya bagi penurunan angka pengangguran belum maksimal.

“BLK harus bertransformasi, tidak lagi sekadar tempat pelatihan, tetapi menjadi pusat peningkatan produktivitas, pengembangan talenta, hingga inkubator bisnis,” ujar Yassierli saat meninjau Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Surakarta, Jumat (30/1/2026).

Dalam konsep baru tersebut, BLK akan diperkuat dengan tiga fungsi utama, yakni sebagai Klinik Produktivitas, Talent and Innovation Hub (TIH), serta inkubator kewirausahaan. Melalui Klinik Produktivitas, BLK diarahkan untuk menjawab kebutuhan riil industri, baik dalam negeri maupun luar negeri, melalui pelatihan yang lebih spesifik dan mutakhir.

Yassierli menyebut, Kemnaker akan menggandeng perguruan tinggi untuk memastikan kompetensi lulusan BLK selaras dengan perkembangan industri terkini. Beberapa bidang yang menjadi fokus antara lain pekerjaan ramah lingkungan (green jobs), keterampilan teknologi informasi kreatif, serta kemampuan operasional berbasis teknologi.

“Kami ingin dunia kampus ikut terlibat aktif, sehingga BLK benar-benar menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri,” jelasnya.

Selain itu, transformasi BLK juga diarahkan untuk memperkuat fungsi inklusivitas. BLK akan dikembangkan sebagai pusat pelatihan bagi penyandang disabilitas serta ruang peningkatan produktivitas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Tak hanya mencetak tenaga kerja siap pakai, Kemnaker juga menyiapkan peran BLK sebagai inkubator bisnis. Melalui skema ini, peserta pelatihan yang ingin berwirausaha akan mendapatkan pendampingan menyeluruh, mulai dari perumusan ide usaha, analisis pesaing, penyusunan model bisnis, hingga strategi pemasaran.

“Bagi yang ingin berwirausaha, BLK akan membantu dari nol. Bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga bagaimana bisnis itu bisa tumbuh dan berkelanjutan,” kata Yassierli.

Ia mengakui, selama ini BLK masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar, seperti keterbatasan jumlah penerima manfaat, efisiensi anggaran, jaminan mutu pelatihan, pembaruan kurikulum, transparansi rekrutmen peserta, hingga sistem pelacakan alumni.

Menurutnya, pembenahan menyeluruh diperlukan agar BLK benar-benar mampu menjawab tantangan pengangguran dan kebutuhan tenaga kerja nasional secara efektif.

“Optimalisasi BLK ini menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat daya saing tenaga kerja Indonesia,” pungkasnya.***