Banner Website
Ragam

Ekologi di Atas Panggung: Polda Riau Tutup Green Policing 2026 dengan Pesan Perubahan Nyata

163
×

Ekologi di Atas Panggung: Polda Riau Tutup Green Policing 2026 dengan Pesan Perubahan Nyata

Sebarkan artikel ini
Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menyampaikan sambutan pada Puncak Ekshibisi Lomba Orasi Green Policing 2026 di Atrium Mal SKA Pekanbaru, Minggu (15/2/2026)./R45/Humas Polres Bengkalis.

Rakyat45.com, Pekanbaru – Di tengah riuh akhir pekan di Atrium Mal SKA, suara-suara muda mengambil alih panggung. Bukan untuk hiburan, melainkan untuk menyuarakan kegelisahan dan harapan tentang bumi yang kian rapuh. Polda Riau menutup rangkaian Ekshibisi Lomba Orasi Green Policing 2026, Minggu (15/2/2026), dalam sebuah perhelatan yang menjelma menjadi panggung kesadaran ekologis generasi baru.

Mengusung tema “Aksi Pemuda untuk Lingkungan Bersih, Aman, dan Berkelanjutan”, ajang ini bukan sekadar kompetisi retorika. Ia menjadi ruang artikulasi gagasan kritis tempat pelajar dan mahasiswa memadukan logika, empati, serta keberanian moral untuk merumuskan solusi atas krisis lingkungan.

Kompetisi yang dibuka sejak 14 Januari dan berakhir pada 3 Februari 2026 itu menyaring 102 peserta dari 11 provinsi. Proses penilaian berlangsung ketat pada 3–6 Februari, sebelum akhirnya para finalis terbaik tampil di panggung puncak.

Pada kategori Pelajar Riau, Andhini Nirmala Putri dari SMAN 2 Tebing Tinggi dinobatkan sebagai juara pertama, disusul Bayu Saputra (SMAN 1 Pangkalan Kuras), Faeyza Putra Yelfindra (SMAN 1 Pangkalan Kerinci), Hafid Maulidin (SMAN 2 Rambah Hilir), dan Muhammad Rafhi (SMAN 10 Pekanbaru).

Kategori Pelajar Luar Riau dimenangkan Afghan Thoriq Muhammad Dilla Hamdan (MAN 22 Jakarta), diikuti Dahliatus Salsabillah (MAN 7 Jombang), Juliando Samloy (SMAS Kristen Dian Halmahera), Mardiana (SMAN 1 Merangin), serta Viola Aurora (SMAN 1 Aceh Barat Daya).

Sementara itu, pada kategori Mahasiswa, posisi puncak diraih Edi Sahputra (Universitas Terbuka), diikuti M. Alwi Zikri (Universitas Riau), Meysah Ibrahim Nasution (Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia), Nadia Gayatri (Institut Agama Islam Lukman Edy Pekanbaru), dan Zikra Tiara Bintang (Universitas Islam Riau).

Adapun kategori Juara Favorit diberikan kepada Shaina Syaftari Putri (SMAN 1 Sabak Auh) untuk Pelajar Riau, Mardiana (SMAN 1 Merangin) untuk Pelajar Luar Riau, serta M. Alwi Zikri (Universitas Riau) untuk Mahasiswa.

Dari Retorika ke Aksi Nyata

Kapolda Riau, Herry Heryawan, menegaskan bahwa Green Policing bukan sekadar slogan institusional, melainkan gerakan kolektif. Dalam sambutannya, ia memaparkan data yang menggugah: satu dekade silam, tutupan hutan Riau mencapai 5,7 juta hektare. Kini tersisa sekitar 1,7 juta hektare degradasi hingga 75 persen, akibat kebakaran hutan dan deforestasi.

“Selama ini kita selalu bergerak di hilir memadamkan api. Kini saatnya bergerak ke hulu: menanam, menjaga, dan membangun kesadaran,” ujarnya.

Program Green Policing, jelasnya, lahir dari pemetaan masalah berbasis survei dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Pendekatan ini menandai pergeseran paradigma dari responsif menjadi preventif dari sekadar pemadaman menuju perlindungan ekosistem secara sistematis.

Ia pun mengajak generasi muda mengubah sudut pandang dari antroposentrisme yang menempatkan manusia sebagai pusat menuju ekosentrisme, yang memandang manusia sebagai bagian dari jejaring kehidupan bersama hutan, satwa, dan alam.

Kabid Humas Polda Riau, Zahwani Pandra Arsyad, menambahkan bahwa partisipasi lintas daerah menunjukkan isu lingkungan tak lagi bersifat lokal, melainkan nasional.

Green Policing, menurutnya, adalah wajah kepolisian kontemporer: tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga membangun kesadaran publik. “Policing adalah menjaga dan menertibkan. Itu bisa dilakukan siapa saja, termasuk pelajar dan mahasiswa,” tegasnya.

Di penghujung acara, pesan simbolik pun disampaikan tentang gajah, harimau, dan hutan yang seakan “berbicara” melalui manusia. Sebuah metafora yang menegaskan bahwa alam tidak pernah benar-benar diam; ia hanya menunggu untuk didengar.

Di Atrium Mal SKA hari itu, suara-suara muda membuktikan satu hal, perubahan besar kerap bermula dari kata-kata yang diucapkan dengan keyakinan. Dan ketika kata-kata itu berakar pada kesadaran ekologis, ia berpotensi menjelma menjadi gerakan yang menyejarah.**