Rakyat45.com, Jogjakarta – Lanskap perfilman Indonesia kembali memunculkan karya yang gelap, intens, dan memikat melalui “Pintu Belakang”, horor psikologis yang menempatkan trauma dan ingatan sebagai pusat cerita sekaligus sumber ketegangan yang menghantui. Film berdurasi 110 menit ini merupakan adaptasi novel ketiga dari seri yang mencakup tujuh judul: Panggung Terlarang, Alas Bubrah, Aku Harap Ibu Kembali, Petarung, Broken Home, dan Cing Co Wong.
Film ini mengisahkan Koci dan Kumbu, pasangan suami-istri di desa terpencil, yang hidupnya berubah tragis setelah kehilangan anak bayi mereka. Kehilangan itu membuka jalan bagi Nyis, seorang anak misterius yang selamat dari tragedi berdarah namun trauma berat dan kehilangan ingatan, menjadi pusat misteri.
Luka masa lalu yang menempel pada Nyis menjerat keluarga ini dalam teror psikologis yang semakin mencekam, terutama ketika makhluk yang menakutinya mengecam mereka melalui “Pintu Belakang”, simbol dari rahasia yang tersembunyi.
Sepasang suami-istri menemukan Nyis dalam kondisi linglung, diliputi ketakutan, dan tanpa ingatan tentang siapa dirinya. Hanya satu fragmen samar yang menghantui, sosok menyeramkan yang membayang dan pintu belakang sebagai gerbang trauma. Rumah yang seharusnya menjadi perlindungan berubah menjadi labirin keganjilan, di mana teror tak kasatmata dan misteri masa lalu perlahan tersibak.
Sutradara Mas Mastris menghadirkan visual berlapis dengan atmosfer sunyi dan tekanan psikologis subtil namun menghunjam. Produksi berada di bawah kendali CEO Riska Thakira, Co-Produser Dewi Novita, dengan dukungan Amalia Trisna Cormersil sebagai Business Development dan BW Purba Negara sebagai Pintu Belakang.
Naskah digarap oleh Alek Suhanda, dengan fokus pada trauma, konflik batin, dan misteri yang berkembang perlahan. Pemeran utama meliputi, Mathi No Lio sebagai Koci, Zulfa Maharani sebagai Kumbu, Iva Deivana sebagai Nyis.
Masa syuting: Februari 2026 – 2027, Durasi film: 110 menit
Lokasi syuting: Kulon Progo, desa terpencil dengan rumah kuno dan atmosfer autentik.
Dewi Novita menegaskan, Horor sejati lahir dari luka yang belum pulih dan ingatan yang berusaha kembali. “Pintu Belakang’ menyingkap trauma yang membentuk jiwa sekaligus menghantui kehidupan.
“Film ini mengajak penonton menelusuri sisi gelap manusia, di mana ketakutan bukan sekadar bayangan, tetapi cerminan emosi yang belum terselesaikan. Setiap adegan dirancang untuk masuk ke dalam diri penonton, bukan hanya menakut-nakuti di layar.” ungkap Dewi.
Kru dan tim produksi berfoto bersama saat syukuran pemotongan tumpeng, Minggu sore (22/2/2026). Produser Dewi Novita (hitam berjilbab) bersama para pemain dan tim Bintang Cahaya Sinema memperlihatkan kekompakan dan optimisme menjelang penggarapan film horor psikologis ini.
Rencana produksi dimulai 23 Februari 2026 di Kulon Progo, memperkuat nuansa horor psikologis melalui latar desa terpencil dan rumah kuno yang autentik.
“Dengan pendekatan naratif yang intim dan atmosfer pekat, Pintu Belakang menjanjikan pengalaman horor yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga emosional, meninggalkan jejak mendalam dalam ingatan penonton sebuah karya Indonesia yang siap menembus panggung festival film internasional.” pungkasnya.**












