Banner Website
Lifestyle

“Pintu Belakang”, Horor Psikologis yang Mengajak Penonton Menyelami Trauma

57
×

“Pintu Belakang”, Horor Psikologis yang Mengajak Penonton Menyelami Trauma

Sebarkan artikel ini
Kru dan tim produksi Pintu Belakang berfoto bersama saat syukuran pemotongan tumpeng, tampak Produser Dewi Novita (hitam berjilbab) bersama para pemain dan tim Bintang Cahaya Sinema, menunjukkan kekompakan dan optimisme menjelang penggarapan film horor psikologis ini. Minggu Sore, (22/2/2026)./R45/Ags.w

Rakyat45.com, Jogjakarta – Lanskap perfilman nasional kembali mendapat warna baru melalui kehadiran “Pintu Belakang”, sebuah karya horor psikologis yang menempatkan trauma sebagai pusat narasi dan sumber ketegangan.

Film ini bersumber dari novel singkat bertema misteri dan luka masa lalu, mengisahkan perjalanan batin seorang anak kecil yang kehilangan ingatan setelah mengalami peristiwa mengerikan.

Sepasang suami istri menemukan anak tersebut dalam keadaan linglung dan diliputi ketakutan. Identitasnya lenyap tanpa jejak. Hanya satu fragmen samar yang terus muncul dalam benaknya, sebuah pintu belakang serta sosok menyeramkan yang membayang di ambang ingatan.

Waktu berjalan, suasana rumah yang semula menjadi ruang perlindungan berubah menghadirkan keganjilan demi keganjilan. Teror tak kasatmata merayap perlahan, misteri masa lalu menuntut untuk tersibak. Pintu belakang menjelma simbol luka yang terpendam gerbang menuju rahasia yang selama ini terkunci rapat.

Sutradara Mas Mastris menghadirkan sentuhan visual berlapis atmosfer sunyi dan tekanan psikologis yang subtil namun menghunjam. Produksi berada dalam kendali Dewi Novita, sementara naskah digarap Arif dengan penekanan pada konflik batin dan intensitas emosi yang berkembang perlahan.

Dewi Novita menegaskan bahwa karya ini tidak bertumpu pada kejutan semata. Horor sejati lahir dari luka yang belum pulih dan ingatan yang berusaha kembali. Pintu Belakang berbicara tentang trauma yang membentuk jiwa, sekaligus menghantui kehidupan.

“Film ini juga mengajak penonton merenungi sisi gelap manusia, di mana ketakutan bukan sekadar bayangan, melainkan cerminan dari emosi yang belum terselesaikan. Kami ingin setiap adegan menghadirkan ketegangan yang masuk ke dalam diri, bukan hanya di layar,” ujar Dewi, Minggu, 22/2/2026 Sore, Kepada media ini.

Rencana produksi dijadwalkan 23 Juli di Kulon Progo, memanfaatkan latar rumah bergaya lama dan primitif guna memperkuat nuansa autentik serta rasa keterasingan.

Melalui pendekatan naratif yang intim dan atmosfer yang pekat, Pintu Belakang diharapkan hadir bukan hanya sebagai tontonan menegangkan, melainkan pengalaman emosional yang meninggalkan jejak mendalam dalam ingatan penonton.**