Lifestyle

Perubahan Persepsi Kecantikan: Wanita Melayu di Era Modern

557
×

Perubahan Persepsi Kecantikan: Wanita Melayu di Era Modern

Sebarkan artikel ini
Perubahan Persepsi Kecantikan: Wanita Melayu di Era Modern
Baju adat melayu, riau. Pakaian tradisional Indonesia.(R45/pinterest)

Rakyat45.com – Persepsi tentang apa itu “cantik” bagi wanita Melayu kini semakin dinamis. Dalam makalah Pengeseran Makna Kecantikan Dalam Budaya Melayu, dijelaskan bahwa kecantikan — yang dahulu sangat terkait dengan nilai tradisional seperti “budi pekerti, sopan santun, dan penampilan sederhana”, kini semakin dipengaruhi oleh perubahan sosial dan interaksi budaya global.

Artinya, kecantikan wanita Melayu tidak lagi dipandang semata-mata lewat rupa rupa luar, tetapi juga melalui bagaimana ia membentuk identitas, gaya hidup, dan nilai pribadi dalam lingkungan modern. Banyak wanita Melayu masa kini mengeksplorasi gaya, penampilan, dan ekspresi diri sambil tetap menghormati akar budaya mereka.

Industri fesyen menunjukkan transformasi nyata. Studi A Systematic Review of Modest Fashion Perspectives in the Malaysian Fashion Industry menggambarkan bagaimana “modest fashion”, gaya berpakaian sederhana dan sopan yang sesuai dengan nilai budaya/islam telah berubah dari sekadar konvensi tradisional menjadi lini fesyen arus utama.

Pakaian tradisional seperti baju kurung, baju Melayu, atau pa­dangan hijab/tudung sekarang diinterpretasi ulang: dirancang dengan potongan modern, bahan nyaman, dan gaya yang cocok untuk kehidupan urban,  jadi modest plus modis sekaligus.

Dengan demikian, wanita Melayu kini mempunyai pilihan lebih luas dalam mengekspresikan jati diri mereka, tidak harus memilih antara tradisi atau modernitas, tapi bisa mengambil keduanya.

Menurut penelitian Malay Muslim religious ideology: Representations of gendered beauty ideals in women’s magazines, media massa (termasuk majalah wanita) memainkan peran besar dalam membentuk ideal kecantikan bagi wanita Melayu kadang memberi harapan ideal, kadang menciptakan tekanan sosial.

Penelitian itu menunjukkan ada “tension” (ketegangan) antara, kecantikan sebagai ekspresi individual vs kecantikan sebagai tuntutan kolektif, keinginan untuk tampil modis vs nilai modesty dan kesederhanaan, keinginan “menonjol” vs “tidak mencolok” (blend in vs stand out).

Ini menunjukkan bahwa sementara definisi kecantikan semakin melebar, maka standar yang dipromosikan oleh industri kecantikan dan media, tetap bisa menimbulkan tekanan, ekspektasi, dan kadang konflik dengan nilai tradisional.

Bagi banyak wanita Melayu modern, kecantikan kini mencakup lebih dari sekadar fisik dan penampilan. Banyak yang menekankan:

  • Kebanggaan terhadap identitas budaya dan nilai tradisional (melalui modest fashion, hijab, elemen tradisional)
  • Keyakinan diri dan ekspresi personal
  • Perpaduan antara estetika, kenyamanan, serta kesederhanaan
  • Kesadaran sosial, profesionalisme, dan peran aktif dalam masyarakat

Dengan demikian, kecantikan wanita Melayu berevolusi menjadi refleksi dari jati diri: bukan sekadar “menarik secara fisik”, tetapi “harmoni antara budaya, nilai, dan gaya hidup”.***

Sumber: Pengeseran Makna Kecantikan Dalam Budaya Melayu yang di tulis oleh Tri Fena Febri Situmorang