Budaya

Putaran Gasing dari Bantan Sari, Menjaga Warisan Budaya Riau Tetap Hidup

355
×

Putaran Gasing dari Bantan Sari, Menjaga Warisan Budaya Riau Tetap Hidup

Sebarkan artikel ini
Staf Ahli Bupati Bengkalis Bidang Sumber Daya Manusia, Johansyah Syafri didampingi Camat Bantan Rafli Kurniawan, menyaksikan langsung jalannya Open Turnamen Seni Gasing Piring Se-Provinsi Riau di Desa Bantan Sari, Jum'at (9/1/2026)./R45/Indra.

Bantan Sari, Rakyat45.com – Denting kayu gasing yang beradu di tanah lapang Desa Bantan Sari, Jumat (9/1/2026), bukan sekadar penanda dimulainya sebuah perlombaan. Ia menjelma simbol perlawanan sunyi terhadap lupa, sekaligus penegasan bahwa kebudayaan lokal masih berdenyut kuat di nadi masyarakat Riau.

Open Turnamen Seni Gasing Piring Se-Provinsi Riau pun resmi dibuka, mengikat tradisi, persaudaraan, dan masa depan dalam satu putaran yang sarat makna.

Mewakili Bupati Bengkalis, Staf Ahli Bupati Bidang Sumber Daya Manusia, Johansyah Syafri, secara resmi membuka kegiatan tersebut di lapangan terbuka Desa Bantan Sari. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa turnamen gasing bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian penting dari ikhtiar kolektif mewujudkan Kabupaten Bengkalis yang bermarwah, maju, dan sejahtera, berlandaskan nilai-nilai agama serta budaya lokal.

“Permainan gasing bukan hanya hiburan rakyat. Di dalamnya terkandung filosofi keseimbangan, ketangkasan, ketelitian, dan sportivitas. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi karakter masyarakat Bengkalis dan Riau dari generasi ke generasi,” ujar Johan, disambut antusias masyarakat dan para peserta.

Pada kesempatan yang sama, Johan juga menyampaikan ucapan selamat hari jadi ke-12 Desa Bantan Sari. Menurutnya, usia desa yang relatif muda bukanlah penghalang untuk tumbuh dan berkontribusi bagi daerah.

“Semoga Desa Bantan Sari terus berkembang menjadi desa yang bermarwah, maju, dan sejahtera, serta menjadi kebanggaan masyarakat Kecamatan Bantan dan Kabupaten Bengkalis,” ucapnya.

Turnamen ini diikuti peserta dari berbagai kabupaten dan kota se-Provinsi Riau, di antaranya Kabupaten Kepulauan Meranti, Siak, dan Kota Dumai. Kehadiran mereka sejak pagi hari menjadikan Desa Bantan Sari sebagai ruang perjumpaan budaya yang hangat, inklusif, dan penuh semangat kebersamaan.

Lebih lanjut, Johan menegaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan misi Pemerintah Kabupaten Bengkalis dalam mengembangkan potensi budaya lokal sebagai kekuatan pemersatu masyarakat, sekaligus sarana membangun kualitas kehidupan sosial yang positif dan edukatif.

“Dalam filosofi gasing, selama ia terus berputar, ia akan tetap seimbang. Namun ketika berhenti bergerak, gasing akan jatuh. Ini mengajarkan kita bahwa pembangunan baik desa, kabupaten, maupun provinsi menuntut seluruh elemen masyarakat untuk terus bergerak dan memberikan kontribusi nyata,” tuturnya dengan nada reflektif.

Johan juga mendorong agar seni dan permainan tradisional seperti gasing piring terus dikembangkan, termasuk melalui kompetisi antar pelajar tingkat SD dan SMP di tingkat kecamatan. Upaya ini dinilai strategis untuk menanamkan kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah sejak dini, agar tetap lestari dan berkelanjutan.

Menutup sambutannya, Johan menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh panitia, peserta, pemerintah desa, serta masyarakat yang telah berperan aktif menyukseskan Open Turnamen Seni Gasing Piring Se-Provinsi Riau.

“Sebagaimana tema kegiatan ini, Segenggam Kayu Mempererat Silaturahmi, mari kita jaga agar putaran gasing budaya ini terus berlanjut, demi Riau yang berakar kuat dan melangkah maju,” pungkasnya.

Sementara itu, Camat Bantan, Rafli Kurniawan, turut menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan dengan menunjuk Desa Bantan Sari sebagai tuan rumah turnamen gasing piring tingkat provinsi. Ia menilai kegiatan ini bukan hanya menghidupkan kembali permainan tradisional, tetapi juga memperkuat identitas budaya masyarakat pesisir Bengkalis.

“Kami di Kecamatan Bantan merasa bangga. Turnamen gasing ini menjadi ruang silaturahmi, pendidikan budaya, sekaligus bukti bahwa desa-desa di Bantan mampu menjadi pusat kegiatan budaya berskala provinsi,” ujar Rafli. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan dengan dukungan semua pihak.

Di tempat yang sama, Penjabat (Pj) Kepala Desa Bantan Sari, Gunondo menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada desanya sebagai tuan rumah perhelatan budaya tingkat Provinsi Riau. Ia menilai momentum ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar bagi seluruh masyarakat desa.

“Kegiatan ini bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga wujud kebersamaan masyarakat Desa Bantan Sari. Kami berharap turnamen gasing piring ini dapat mempererat persaudaraan, mengangkat potensi budaya lokal, serta menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk mencintai dan melestarikan warisan leluhur,” ungkapnya.

Pj Kades Bantan Sari juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Bengkalis, Pemerintah Kecamatan Bantan, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut, seraya berharap Desa Bantan Sari ke depan semakin dikenal sebagai desa yang aktif, berbudaya, dan berdaya saing.” tutur Gunondo.**