Peristiwa

Sumatera Tercekik Bencana: Jalan Terputus, Warga Bertahan dalam Gelap

225
×

Sumatera Tercekik Bencana: Jalan Terputus, Warga Bertahan dalam Gelap

Sebarkan artikel ini
Teks foto: Praktisi media Gemal Abdel Nasser Panggabean, S.H., mendesak respons cepat pemerintah pusat atas banjir besar yang melumpuhkan Tapanuli dan Kota Sibolga, di lapangan, air terus naik sementara bantuan tak kunjung terlihat. Foto banjir di Sumatera, Jumat (28/11/2025)./R45/Indra.

Jakarta, Rakyat45.com – Di tengah hamparan Sumatera yang tengah bergulat dengan banjir besar, dua wilayah Tapanuli dan Kota Sibolga mengemuka sebagai titik paling gelap dalam peta informasi nasional.

Sudah hampir sepekan bencana berlangsung, namun bantuan dari pemerintah pusat masih belum menjangkau daerah-daerah yang kini terisolasi total.

Praktisi media Gemal Abdel Nasser Panggabean, S.H., menyampaikan keprihatinan mendalam atas sepinya sorotan media arus utama dan lambatnya respon otoritas.

“Saya menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada seluruh korban. Tetapi, hampir seminggu berlalu tanpa ada jejak pemberitaan mengenai bantuan pemerintah pusat.

Yang muncul hanya ucapan duka. Biasanya, ketika pemerintah pusat akhirnya turun, barulah menjadi trending,” ujarnya, Jumat (28 November 2025) di Jakarta.

Narasi Bencana yang Tak Terbingkai

Gemal mengungkapkan bahwa linimasa digital kini dipenuhi rekaman banjir bandang dari Tapanuli Selatan hingga Sibolga. Namun, visual dramatis itu tidak diiringi narasi yang memadai mengenai penanganan, evakuasi, ataupun keberadaan otoritas setempat.

“Warga yang berada jauh justru kian cemas. Banyak pengungsi melakukan siaran langsung dari lokasi penampungan, menunggu sekantong makanan atau bantuan apa pun.

Videonya membantu, tetapi narasinya dipenuhi keputusasaan. Tanpa informasi penanganan, publik dibiarkan tenggelam dalam pesimisme,” kata Gemal.

Sibolga: Kota yang Seolah Menghilang dari Radar Nasional

Kekhawatiran terbesar menyelimuti kondisi Kota Sibolga. Hingga kini, nyaris tak ada laporan langsung dari lapangan. Tidak ada liputan televisi, tidak ada siaran digital, bahkan akses telepon dan internet dilaporkan putus sepenuhnya.

“Dulu, media nasional berlomba meliput lokasi bencana, bahkan menggunakan helikopter. Sekarang, untuk Sibolga, kita bahkan tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Wali Kota saja tidak dapat dihubungi,” tuturnya.

Dengan nada lirih, Gemal menambahkan bahwa keluarganya berada di Sibolga, dan hingga kini ia tidak menerima kabar apa pun.

“Saya hanya berharap Sibolga tidak hilang. Saya hanya ingin semua orang di sana selamat,” katanya.

Seruan untuk Kehadiran Negara yang Lebih Nyata

Gemal menilai bahwa dalam situasi darurat seperti ini, pemerintah pusat semestinya memaksimalkan perangkat yang dimiliki mulai dari helikopter hingga peralatan militer untuk menembus wilayah yang terisolasi.

“Kalau darat tidak bisa ditembus, kita punya teknologi dan armada. Tinggal digunakan. Bagaimana teknisnya, tentu pemerintah pusat lebih memahami. Tetapi tindakan nyata harus segera dilakukan,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa publik tidak hanya menunggu bantuan, tetapi juga kejelasan informasi.

“Kami yang berada jauh hanya ingin mendengar kabar tentang keluarga kami. Media juga perlu pembaruan untuk menggerakkan bantuan kemanusiaan. Yang paling ditunggu adalah kabar bahwa pemerintah pusat sudah turun langsung,” ujarnya.**