Rakyat45.com, Pekanbaru – Di sebuah sudut kota kecil di pinggiran Pekanbaru, yang terletak di Jalan Sentosa Perum Alifa, RT 01, RW 21, Kelurahan Sidomulyo Barat, Kecamatan Tuah Madani, seorang pria duduk termenung di kursi plastik merah yang mulai memudar warnanya. Matahari siang yang terik memantul dari deretan rumah baru yang berdiri megah, menandai betapa cepatnya kota ini berubah. Jalanan yang dulu lengang kini padat oleh motor dan mobil yang terus melintas. Bagi sebagian orang, perkembangan itu mungkin membawa harapan. Namun bagi sebagian lainnya termasuk Oktanius Lalowo (37), justru menghadirkan kecemasan baru tentang bagaimana bertahan hidup.
Hidup di kota yang terus tumbuh berarti biaya hidup ikut menjulang. Apa yang dulu cukup untuk kebutuhan sehari-hari, kini tak lagi memadai. Dan begitulah hidup Oktanius bergulir sejak ia berhenti bekerja sebagai karyawan di sebuah toko roti manis di Pekanbaru. Sejak itu, seluruh harapan, termasuk cerita perjuangan, air mata, dan secercah mimpi perlahan menyatu dalam aroma roti manis yang kini menjadi sumber penghidupannya.
Setiap pagi, sebelum ayam berkokok di perumahan tempat ia tinggal, Oktanius sudah berada di dapur sederhana miliknya. Di sanalah ia mengaduk adonan, mencampur tepung, menakar gula, dan memanaskan oven kecil yang menjadi “senjata” utamanya mencari nafkah. Meski sederhana, dapur itu adalah tempat di mana ia membangun kembali hidupnya dari nol.
“Kalau saya ingat dua anak laki-laki saya, rasa lelah itu hilang,” ujarnya sambil tersenyum tipis. Senyum itu pun segera lenyap ketika mengingat hari-hari awal perjuangannya, hari ketika ia tidak tahu apakah esok keluarganya bisa makan atau tidak.
Dua anaknya selalu menjadi alasan ia berdiri lagi setiap kali gagal. Mereka bermain riang di halaman rumah dengan baju seadanya, tanpa mengetahui bahwa ayah mereka sedang berjuang keras menutup kekurangan biaya hidup. “Mereka masih kecil… biarlah mereka tersenyum. Kesusahan biar saya saja yang rasakan,” katanya lirih, Sabtu (29/11/2025).
Setelah kehilangan pekerjaan, Oktanius sering mengulang membuat roti manis di rumah. Bukan hanya sebagai latihan, kadang ia membuatnya untuk istri dan anak-anak, sekadar untuk menghadirkan sedikit kebahagiaan di meja makan. Di sela-sela itu, ia juga membagi-bagikan kuenya kepada tetangga atau teman-teman dekat dan komunitasnya di Gereja di tempat ia ibadah.
Ia ingin tahu pendapat orang lain. Ia ingin tahu apakah kue buatannya layak dijual.
“Saya mulai dari hal paling kecil: minta orang coba. Apa kurangnya, apa yang harus diperbaiki,” kenangnya.
Namun upayanya tidak selalu berjalan mulus. Tak jarang roti buatannya gagal total, ukurannya tidak konsisten, takarannya salah, atau rasanya tidak seperti yang ia harapkan. Ia tertawa kecil mengingat masa itu, tetapi jelas terlihat betapa berat perjuangannya.
“Kalau soal gagal, itu sudah teman sehari-hari,” ujarnya sambil menarik napas panjang. “Kadang adonan kebanyakan air, kadang kurang gula, kadang bantat. Tapi ya… harus tetap dicoba.”

Pada akhir Januari 2023, setelah berbulan-bulan mencoba memperbaiki resep dan teknik, Oktanius akhirnya memberanikan diri memulai usaha kecil-kecilan. Ia memberi nama produknya: Haga Bakery. Sebuah nama sederhana yang, baginya, menyimpan doa agar rezekinya seperti cahaya pagi.
Ia hanya memiliki oven kecil, mixer tua, dan wajan yang mulai menghitam di beberapa sisi. Namun dari alat-alat itulah ia mencoba menggantungkan masa depan keluarganya.
Awalnya tidak ada yang istimewa. Pesanan datang hanya satu dua. Beberapa hari bahkan tidak ada sama sekali. Namun ia tidak menyerah. Setiap ada pesanan, sekecil apa pun, ia layani dengan sepenuh hati.
“Yang pesan mulai sedikit-sedikit, tapi itu membuat saya yakin kalau saya tidak salah langkah,” katanya.
Enam bulan berjalan. Jumlah pelanggannya mulai bertambah, ada yang beli eceran dan ada yang memesan untuk dijual lagi. Namun di balik itu muncul masalah baru, yaitu modal.
Bahan baku makin mahal. Permintaan bertambah, tetapi kapasitas produksinya terbatas. Oktanius mulai resah. Ia ingin membeli peralatan baru, memperluas produksi, dan memperbaiki kemasan, tapi tabungan yang ia punya nyaris tidak ada.
“Sempat panik… saya sampai kepikiran pinjam ke keluarga,” katanya. “Tapi keadaan waktu itu tidak memungkinkan. Mereka juga sedang susah.”
Dalam kegundahan itu, ia mendengar kabar tentang KUR BRI yang bisa diakses pelaku UMKM melalui program Ekosistem Ultra Mikro (UMi). Ia tidak langsung percaya. Ia sempat ragu, tetapi akhirnya memberanikan diri mencoba.
Dengan penuh harap, Oktanius mengajukan pinjaman KUR Mikro BRI sebesar Rp50 juta pada Agustus 2023. Ia mengaku gugup saat proses pengajuan, mengingat ini pertama kalinya ia mengakses fasilitas pembiayaan formal.

Namun, berkat usaha dan kelayakan usahanya, permohonannya disetujui.
Dana tersebut ia gunakan untuk membeli oven besar, mixer profesional, bahan baku dalam jumlah lebih banyak, dan peralatan pendukung lainnya. Ia juga mulai membuat logo serta kemasan sederhana untuk roti manisnya.
“Nah, dari situ rezeki jadi lebih lancar. Anak-anak bisa sekolah, pesanan makin ramai,” katanya. Sekilas, matanya berkaca-kaca, namun kali ini ia tersenyum lebar.
Sebelumnya pendapatan Oktanius hanya sekitar Rp1,5 juta per bulan. Namun setelah memperoleh pembiayaan KUR BRI, omzet usahanya meningkat sehingga pendapatan keluarga kini mencapai sekitar Rp7 juta per bulan.
Kini, anak pertamanya sudah duduk di bangku kelas 1 SD di pinggiran Pekanbaru. Istrinya menjadi tangan kanan sekaligus sahabat setia dalam menjalani usaha. Ia membantu mengantar pesanan ke warung-warung sekitar.
Menurut Oktanius, hal terindah dari semua ini bukan hanya naiknya omzet, tetapi bagaimana keluarganya kembali bisa hidup dengan layak. Bagaimana anak-anaknya kini pergi sekolah tanpa harus memikirkan biaya. Bagaimana istrinya bisa tersenyum lebih sering.
“Saya bahagia karena usaha ini bukan cuma milik saya, tapi milik keluarga,” tuturnya.
Memasuki 2025, ketika permintaan semakin meningkat dan jangkauan pemasaran meluas, Oktanius kembali mengajukan pinjaman kedua kalinya Rp70 juta. Dan seperti sebelumnya, BRI kembali menyetujui.
Pinjaman ini digunakan untuk memperluas area produksi, membeli freezer tambahan, dan memperbaiki ruang kerja agar lebih higienis.
Melalui pinjaman keduanya ini, Oktanius berharap usaha Haga Bakery dapat berkembang lebih besar lagi, sehingga pendapatan keluarganya kelak bisa menembus kisaran Rp20 juta per bulan.
Dengan napas panjang dan suara penuh syukur, ia berkata:
“Kalau dulu saya berjuang sendirian dan banyak takutnya, sekarang saya yakin. Karena ada yang mendukung usaha saya.”
Kisah Oktanius hanyalah satu dari jutaan cerita yang telah disentuh oleh program pemberdayaan UMKM dan Ekosistem Ultra Mikro (UMi), kolaborasi antara BRI, Pegadaian, dan Permodalan Nasional Madani (PNM).
Tujuan program ini sederhana, namun berdampak besar: memberdayakan pelaku usaha kecil agar mampu berkembang dan mandiri.
Di masyarakat, program ini dikenal tidak hanya sebagai sumber permodalan, tetapi juga sebagai jembatan menuju peningkatan kualitas hidup.
Beberapa manfaat utama KUR BRI yang sangat dirasakan para pelaku UMKM adalah:
Akses Permodalan Lebih Mudah: Dengan persyaratan yang tidak rumit, UMKM seperti Haga Bakery bisa mendapatkan modal untuk memulai atau mengembangkan usaha.
Bunga Rendah: Suku bunga yang kompetitif, mulai dari 6% per tahun, memberikan beban cicilan yang ringan.
Tenor Fleksibel: Pelaku UMKM bisa memilih tenor hingga 5 tahun, sehingga pembayaran dapat disesuaikan dengan kemampuan usaha.
Proses Pengajuan Terjangkau: BRI menyediakan layanan pengajuan secara daring, memudahkan pelaku usaha di daerah yang jauh dari kantor cabang.
Program UMi bukan hanya menyalurkan kredit, tetapi juga memberikan pendampingan, pelatihan, dan dukungan ekosistem.
Kini, jika Anda masuk ke dapur Haga Bakery, Anda akan menemukan suasana yang yang berbeda dibanding tahun-tahun awal perjuangan Oktanius. Oven besar bekerja tanpa henti, bau harum kue memenuhi ruangan, istri dan dua pegawainya membantu menata kemasan, dan anak-anak sesekali berlari kecil sambil mencicipi roti buatan ayahnya.
Tidak lagi ada kekhawatiran tentang apakah besok ada yang bisa dimakan. Tidak lagi ada keraguan apakah usaha ini akan bertahan. Yang tersisa adalah semangat baru dan keinginan untuk terus berkembang.
“Kalau bukan karena program UMi, saya mungkin masih kesulitan sampai hari ini,” ujar Oktanius. “Saya bersyukur… hidup saya berubah.”
Di tengah hiruk pikuk kota Pekanbaru yang semakin modern, kisah seperti yang dialami Oktanius adalah pengingat bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya diukur dari gedung tinggi, tetapi dari kehidupan masyarakat kecil yang berhasil bangkit.
Haga Bakery bukti bantuan yang tepat sasaran mampu mengubah nasib keluarga. Program BRI melalui Ekosistem Ultra Mikro telah menunjukkan bagaimana pemberdayaan UMKM dapat memperkuat pondasi ekonomi nasional, dimulai dari dapur-dapur kecil seperti milik Oktanius.
Dan di setiap loyang roti manis yang keluar dari oven Haga Bakery, tersimpan cerita tentang keberanian, cinta, dan harapan yang terus menyala.
Di akhir, Oktanius berkata, ‘Dengan adanya KUR BRI melalui program UMi ini, bukan hanya usaha saya yang berkembang, tetapi saya juga bisa punya lebih banyak waktu dan tetap dekat dengan keluarga,’ ujarnya sambil tersenyum bahagia.












