Banner Website
Peristiwa

Banjir Bandang Palembayan Porak-Poranda Agam, Warga Keluhkan Minimnya Kehadiran Pemda

415
×

Banjir Bandang Palembayan Porak-Poranda Agam, Warga Keluhkan Minimnya Kehadiran Pemda

Sebarkan artikel ini
Banjir Bandang Palembayan Porak-Poranda Agam, Warga Keluhkan Minimnya Kehadiran Pemda
Bencana alam kembali menghantam Sumatera Barat. Tampak kondisi Desa Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, yang luluh lantak akibat banjir bandang dan longsor./R45/Ho

Rakyat45.com, Agam – Desa Salareh Aia di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kembali menjadi saksi bisu keganasan alam. Banjir bandang dan longsor yang menghantam wilayah tersebut pada Kamis (27/11/2025) sekitar pukul 17.30 WIB meninggalkan kerusakan parah dan duka mendalam bagi warga.

Rumah-rumah warga tersapu lumpur, ratusan orang kehilangan tempat tinggal, dan sebagian lainnya masih menunggu kabar anggota keluarga yang hilang. Di tengah kondisi memilukan ini, muncul sorotan keras terkait absennya kehadiran pemerintah daerah untuk menemui para penyintas.

Pantauan Rakyat45.com pada Selasa (2/12/2025) menunjukkan upaya luar biasa dari personel TNI dan Polri yang bekerja nonstop di lapangan. Pasukan gabungan dari Polda Sumbar, diperkuat Polda Riau dan Brimob Riau, menembus jalur penuh puing dan lumpur demi mengevakuasi korban dan menyalurkan bantuan.

Mereka menjadi tumpuan utama para pengungsi. Dari makanan, air minum, hingga perlindungan sementara di posko-posko darurat, aparat keamanan hadir di garis terdepan.

Namun, di tengah kesibukan penyelamatan, ketidakhadiran pejabat Pemerintah Kabupaten Agam maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memunculkan rasa kecewa di kalangan warga. Para korban berharap pemimpin daerah datang untuk memberi dukungan moral dan memastikan penanganan pascabencana berjalan terarah.

Ilham, salah satu penyintas yang berhasil meloloskan diri dari derasnya terjangan lumpur, bercerita bahwa bantuan dari aparat sangat membantu kebutuhan dasar mereka.

“Untuk makan dan minum kami dibantu bapak-bapak polisi,” ujarnya.

Namun Ilham menegaskan bahwa kebutuhan warga kini lebih kompleks. Banyak yang kehilangan pakaian, sementara keluarga yang membawa balita sangat membutuhkan perlengkapan mendesak seperti popok, susu, selimut, dan pakaian hangat.

“Baju kami habis dibawa lumpur. Kami berharap ada bantuan dari pemerintah,” tambahnya.

Posko-posko darurat yang didirikan aparat menjadi tumpuan hidup ratusan pengungsi. Meski terlindung dari dingin dan hujan, kondisi posko masih jauh dari layak, terutama bagi balita dan lansia yang rentan.

Warga yang sedang beraktivitas sore itu mengaku mendengar suara gemuruh dari arah perbukitan. Namun, hanya dalam hitungan menit, banjir dan longsor langsung menerjang, menghancurkan rumah dan menyeret apa pun di depannya.

Tim evakuasi melaporkan banyak korban jiwa ditemukan di antara puing bangunan dan endapan lumpur. Proses identifikasi jenazah hingga pemakaman masih berlangsung di tengah medan yang sulit dan terbatasnya peralatan.

Menghadapi situasi yang semakin darurat, warga Salareh Aia mengarahkan seruan mereka kepada Pemerintah Kabupaten Agam, Pemerintah Provinsi Sumbar, hingga pemerintah pusat. Mereka berharap bantuan yang lebih terkoordinasi, logistik yang memadai, serta perhatian langsung dari pemimpin daerah.

Lebih dari sekadar bantuan fisik, warga membutuhkan jaminan bahwa mereka tidak dibiarkan menghadapi masa pemulihan seorang diri. Bagi mereka, kedatangan pejabat ke lokasi bukan hanya formalitas, tetapi simbol kehadiran negara di tengah rakyatnya yang sedang berduka.***