Banner Website
Ragam

Imlek 2026 Hidupkan Selatpanjang, Imigrasi Awasi 87 WNA hingga Perang Air

154
×

Imlek 2026 Hidupkan Selatpanjang, Imigrasi Awasi 87 WNA hingga Perang Air

Sebarkan artikel ini
Warga larut dalam kemeriahan Festival Perang Air Imlek 2026 di Selatpanjang, Percikan air membasahi jalanan kota, sementara tawa dan sorak peserta menyatu di tengah arus lalu lintas yang tetap bergerak. Jumat (20/2/2026)./R45/Alfin.

Rakyat45.com, Selatpanjang – Aroma dupa dan gemuruh perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili kembali menghidupkan nadi kota pesisir Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti. Di tengah gegap gempita lampion merah dan tradisi Perang Air yang menjadi ikon tahunan, arus kunjungan warga negara asing (WNA) pun tercatat signifikan, menandai kuatnya daya tarik kawasan perbatasan ini di mata wisatawan mancanegara.

Sepanjang 10 hingga 20 Februari 2026, sebanyak 87 WNA tercatat tiba melalui Pelabuhan Internasional Tanjung Harapan. Data Kantor Imigrasi menunjukkan, 86 orang di antaranya merupakan warga negara Malaysia, sementara satu lainnya berasal dari Bangladesh.

Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan periode menjelang Imlek 2025 – 22 Januari hingga 1 Februari 2025, yang mencatat 148 kunjungan dari Malaysia. Namun demikian, Selatpanjang tetap membuktikan diri sebagai simpul budaya lintas negara yang konsisten menyedot perhatian wisatawan regional.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Selatpanjang, Dendi Surya Agung Nugraha, melalui Kepala Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian, Ibrahim Darussalam Siregar, menegaskan komitmen pengawasan ketat selama momentum perayaan berlangsung.

“Pengawasan dilakukan sejak kedatangan di Pelabuhan Internasional Tanjung Harapan. Tim Intelijen dan Penindakan Keimigrasian juga berkoordinasi dengan pihak penginapan serta melakukan pemantauan saat pelaksanaan Imlek dan Festival Perang Air, hingga para WNA tersebut meninggalkan Selatpanjang,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Jumat (20/2/2026).

Pengawasan, lanjutnya, tidak berhenti di pintu masuk. Seluruh aktivitas WNA selama berada di wilayah Kepulauan Meranti tetap berada dalam pemantauan berkelanjutan. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan kepatuhan terhadap regulasi keimigrasian sekaligus menjaga stabilitas keamanan daerah.

“Kami memastikan keberadaan mereka terdata dan terpantau dengan baik. Pengawasan ini penting untuk menjaga stabilitas keamanan serta memberikan rasa nyaman bagi masyarakat dan tamu yang datang,” jelasnya.

Hingga rangkaian Imlek dan tradisi tahunan Perang Air usai digelar, situasi terpantau aman dan kondusif. Otoritas memastikan tidak ada pelanggaran berarti yang mengganggu jalannya perayaan.

“Momentum Imlek di Selatpanjang memang lebih dari sekadar perayaan budaya. Kedekatan geografis dan historis dengan Malaysia menjadikan Kepulauan Meranti sebagai ruang perjumpaan lintas batas yang unik tempat identitas, tradisi, dan interaksi regional bertemu dalam harmoni.”

Di tengah percikan air dan sorak sukacita, Selatpanjang kembali menegaskan dirinya sebagai panggung budaya yang berdaya magnet internasional.” ungkap Ibrahim.