Rakyat45.com, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mempercepat perbaikan infrastruktur jalan melalui program bantuan aspal drum yang menyasar jalan kabupaten hingga desa. Program ini kini menjadi salah satu strategi utama untuk menjawab persoalan kerusakan jalan sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah.
Sejak diluncurkan pada 2024, program ini menunjukkan peningkatan signifikan baik dari sisi jumlah bantuan maupun jangkauan wilayah penerima. Pemerintah provinsi menilai skema kolaborasi lintas daerah menjadi kunci percepatan perbaikan jalan tanpa harus sepenuhnya bergantung pada anggaran besar di satu pihak.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa bantuan aspal drum dirancang sebagai bentuk sinergi antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota hingga desa.
“Dengan dukungan aspal dari Pemprov dan agregat dari pemerintah kabupaten maupun desa, pemeliharaan jalan seperti penambalan lubang bisa dilakukan lebih cepat sehingga kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan dapat meningkat,” ujar Khofifah di Surabaya, Sabtu (16/3).
Dalam implementasinya, Pemprov Jawa Timur menyediakan material utama berupa aspal, sementara pemerintah daerah bertanggung jawab menyiapkan tenaga kerja serta kebutuhan teknis lain di lapangan. Model ini dinilai efektif karena mempercepat eksekusi tanpa harus menunggu proyek besar yang memakan waktu panjang.
Data yang dihimpun menunjukkan, pada tahap awal tahun 2024, lebih dari 1.500 drum aspal telah disalurkan kepada empat kabupaten sebagai pilot project. Hasilnya, program tersebut mendapat respons positif karena mampu mempercepat penanganan jalan rusak ringan hingga sedang.
Memasuki 2025, skala program diperluas secara signifikan. Pemprov Jawa Timur menyalurkan lebih dari 5.300 drum aspal ke 20 kabupaten. Lonjakan ini sekaligus menandakan meningkatnya kebutuhan sekaligus kepercayaan daerah terhadap efektivitas program tersebut.
Pada tahun 2026, pemerintah menargetkan distribusi total 7.000 drum aspal. Hingga Maret 2026, sebanyak 2.500 drum telah disalurkan ke sejumlah daerah prioritas yang memiliki tingkat kerusakan jalan cukup tinggi.
Penentuan lokasi penerima bantuan dilakukan berdasarkan kebutuhan riil di lapangan, terutama pada ruas jalan yang memiliki dampak langsung terhadap mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Menurut Khofifah, perbaikan jalan bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan kebutuhan dasar masyarakat yang berdampak luas terhadap berbagai sektor.
“Perbaikan jalan merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Dengan program ini kita ingin memastikan aksesibilitas masyarakat semakin baik sehingga mobilitas dan aktivitas ekonomi dapat berjalan lebih lancar,” katanya.
Berdasarkan perhitungan teknis pemerintah provinsi, total bantuan aspal sejak 2024 hingga target 2026 diperkirakan mampu memperbaiki jalan dengan luas mencapai sekitar 485.000 meter persegi.
Jika dihitung dengan lebar rata-rata jalan desa dan kabupaten sekitar lima meter, maka program ini setara dengan perbaikan hampir 100 kilometer ruas jalan di berbagai wilayah Jawa Timur.
Dampak dari program ini mulai dirasakan di sejumlah daerah, terutama dalam memperlancar distribusi hasil pertanian, mempercepat akses layanan publik, serta mengurangi risiko kecelakaan akibat jalan rusak.
“Ketika jalan semakin baik, distribusi barang dan mobilitas masyarakat juga semakin lancar. Ini tentu akan memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat serta meningkatkan kesejahteraan di daerah,” jelas Khofifah.
Meski demikian, tantangan pemerataan pembangunan masih menjadi perhatian. Beberapa wilayah terpencil dan dengan kondisi geografis sulit membutuhkan penanganan lebih intensif agar tidak tertinggal dalam program perbaikan infrastruktur.
Karena itu, Pemprov Jawa Timur menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara seluruh level pemerintahan. Sinergi ini dinilai sebagai solusi untuk mempercepat pemerataan pembangunan tanpa membebani satu pihak secara berlebihan.
“Kolaborasi menjadi kunci. Dengan kerja bersama antara pemerintah provinsi, kabupaten, dan desa, kita bisa menghadirkan infrastruktur yang lebih baik bagi masyarakat Jawa Timur,” pungkasnya.
Dengan tren peningkatan alokasi bantuan setiap tahun, program aspal drum diproyeksikan terus berlanjut sebagai solusi cepat penanganan jalan rusak, sekaligus memperkuat fondasi pembangunan ekonomi berbasis konektivitas di Jawa Timur.***












