Banner Website
Budaya

1 Tradisi dan Amanah Budaya: Bupati Harda Kiswaya Terima Ubarampe Labuhan Merapi

27
×

1 Tradisi dan Amanah Budaya: Bupati Harda Kiswaya Terima Ubarampe Labuhan Merapi

Sebarkan artikel ini
Bupati Sleman Harda Kiswaya menerima ubarampe Upacara Adat Labuhan Merapi dari utusan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai penanda dimulainya rangkaian ritual sakral Labuhan Merapi, di Kantor Kapanewon Cangkringan, Sleman, Senin (19/1/2026)./R45/Ags.w

Sleman, Rakyat45.com – Nuansa khidmat menyelimuti Kantor Kapanewon Cangkringan saat Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menerima ubarampe upacara adat Labuhan Merapi dari utusan Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Senin (19/1). Penyerahan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian ritual sakral yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta.

Labuhan Merapi merupakan upacara adat tahunan yang dilaksanakan sebagai bagian dari peringatan Tingalan Dalem Jumenengan, momen bersejarah naik tahtanya Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Raja Keraton Yogyakarta. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Usai menerima ubarampe, Bupati Sleman bersama jajaran Kapanewon Cangkringan dan pemerintah kalurahan mengantarkan perlengkapan upacara tersebut menuju Petilasan Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo. Di tempat yang sarat nilai spiritual itu, ubarampe diserahkan kepada Juru Kunci Gunung Merapi sebagai bagian dari tata laku adat yang dijaga secara turun-temurun.

Rangkaian Labuhan Merapi akan berlanjut pada Selasa (20/1) dini hari. Ubarampe dibawa menuju kawasan Gunung Merapi untuk menjalani prosesi ritual doa, dilanjutkan dengan pembagian berkat kepada masyarakat sebagai simbol harapan, keselamatan, dan keberkahan.

Bupati Sleman Harda Kiswaya menyampaikan dukungan penuh atas terselenggaranya upacara adat tersebut. Menurutnya, Labuhan Merapi adalah perwujudan rasa syukur masyarakat Yogyakarta kepada Tuhan Pencipta Alam atas anugerah kesuburan tanah, keselamatan dari marabahaya, serta kesehatan dan keutamaan hidup.

“Labuhan Merapi merupakan ungkapan syukur yang mendalam atas limpahan rahmat Tuhan, sekaligus doa agar masyarakat senantiasa dilindungi dan diberi kesejahteraan,” ujar Harda Kiswaya.

Lebih jauh, Harda menegaskan bahwa keberlangsungan tradisi ini mencerminkan kuatnya rasa memiliki masyarakat Yogyakarta terhadap adat dan budaya leluhur, sekaligus menjadi penopang identitas di tengah arus perubahan zaman.**