Kulonprogo, Rakyat45.com – Polda Daerah Istimewa Yogyakarta berkolaborasi dengan Forum Keistimewaan dan Kebudayaan Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan dua agenda penting pada Kamis, 28 Agustus 2025. berlangsung di Desa Wijimulyo, Kapanewon Nanggulan, Kulonprogo.
Peluncuran kampung agrowisata dan perpustakaan digital binaan Polri ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya agrowisata dan literasi digital, kemudian Pelatihan mendukung ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat di wilayah Kulonprogo melalui pengembangan agrowisata.
Kegiatan ini menunjukkan komitmen Polda Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mendukung pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan agrowisata dan literasi digital. Polda DIY sendiri memiliki visi untuk mewujudkan Yogyakarta yang aman dan tertib, serta misi melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat.
Prof. DR. Ir. Djagal Wiseso Marseno, M.Agr, Guru Besar Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian UGM, menekankan pentingnya ketahanan nasional yang dimulai dari ketahanan desa.
“Ia menyatakan bahwa ketahanan ini harus dibangun secara gotong royong dengan melibatkan semua stakeholder, termasuk TNI-POLRI, pemerintah desa, tokoh masyarakat, akademisi, dan lainnya.” tuturnya.
Prof. Djagal juga menekankan pentingnya pengetahuan dan iman dalam membangun ketahanan nasional. Ia menyampaikan bahwa negara-negara maju berbasis pada pengetahuan dan bahwa orang yang berilmu dan beriman akan ditinggikan derajatnya.
“Ia menggunakan analogi bahwa orang yang beriman tanpa ilmu seperti buta, sedangkan orang yang berilmu dan beriman seperti orang yang memiliki mata untuk melihat dan kaki untuk berjalan.” kata Prof. Djagal.
Sementara itu, AKBP Wiwik Hari Tulasmi, SH, MH, menyampaikan dukungannya terhadap program Kampung Agrowisata dan Perpustakaan Digital. Ia menekankan bahwa program ini dapat membantu mempertahankan ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui akses ilmu dan pengetahuan.
Perpustakaan digital juga dapat membantu masyarakat belajar dan mendapatkan manfaat. “Ia berharap program ini dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi para petani.” ungkap AKBP Wiwik.
Purdiyanto, S.Kom, sebagai pemateri pelatihan Agrowisata, menjelaskan tentang pentingnya ketahanan pangan yang dimulai dari keluarga. “Ia menekankan bahwa ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah, mutu, aman, merata, dan terjangkau.
“Program ketahanan pangan ini merupakan bagian dari mendukung program pemerintah “Asta cta” khusunya tanaman pangan yang kami kelola bersama kelompok petani tanaman pangan khususnya buah klengkeng dan alpukat dengan memanfaatkan lahan yang tidak produktif milik masyarakat.
Kelompok Tani masyarakat di Desa Wijimulyo, memanfaatkan lahan tidak produktif kemudian diolah menjadi lahan tanaman buah, program ini sudah berjalan beberapa tahun ini, sejak tahun 2017 dan saat ini total tanaman mencapi 18.000 pohon, di kelola oleh masyarakat.” terang Purdiyanto.
“Program Agrowisata memberikan manfaat signifikan bagi para petani dengan memberikan hasil yang pasti dan berkelanjutan. Program ini diibaratkan sebagai “tabungan pensiunan” bagi masyarakat karena memberikan pendapatan yang stabil.
Harga jual yang kompetitif membuat masyarakat pemilik lahan untung, sementara pembeli mendapatkan buah segar langsung dari kebun, contohnya, satu pohon alpukat dengan hasil panen 1 kuintal dapat mencapai harga Rp2,5 juta.
Jika petani memiliki 10 pohon alpukat, penghasilannya bisa mencapai Rp25 juta untuk sekali panen. Tanaman alpukat juga dikenal mudah perawatannya dan memiliki harga yang stabil.” pungkas pungkas Purdiyanto.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas petani dalam mengolah lahan tidak produktif menjadi lahan produktif. Bibit tanaman berkualitas didapatkan melalui kerja sama dengan BUMN, mencakup bibit alpukat, klengkeng, dan durian.” tutupnya.**(Bidin).