Banner Website
Hukum & Kriminal

Menyalakan Cahaya Spiritual di Lapas Bengkalis, Isra Mi’raj Jadi Titik Balik Warga Binaan

471
×

Menyalakan Cahaya Spiritual di Lapas Bengkalis, Isra Mi’raj Jadi Titik Balik Warga Binaan

Sebarkan artikel ini
Kalapas Kelas IIA Bengkalis Prio Tri Laksono memberikan penghargaan kepada warga binaan berprestasi pada lomba keagamaan, menegaskan bahwa pembinaan iman dan prestasi tetap tumbuh di balik tembok pemasyarakatan. Selasa, (20/1/26)./R45/Humas.

Bengkalis, Rakyat45.com – Nuansa religius menyelimuti Lapangan Serbaguna Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bengkalis, Selasa (20/01), saat peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H digelar dengan khidmat. Bukan sekadar agenda seremonial, peringatan ini dimaknai sebagai ruang refleksi spiritual yang mengikat harapan, menumbuhkan kesadaran, sekaligus meneguhkan ikhtiar perubahan perilaku bagi para warga binaan.

Acara diawali dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menggema lembut, mengantar suasana batin menuju ketenangan. Hadiri langsung Kepala Lapas Kelas IIA Bengkalis, Prio Tri Laksono, kegiatan ini juga menghadirkan penceramah H. Awaluddin Hasibuan, S.Ag., M.Pd., yang dikenal dengan tausiah menyejukkan dan sarat makna.

Peringatan Isra Mi’raj tahun ini terasa istimewa karena dirangkai dengan pemberian penghargaan bagi warga binaan berprestasi dalam berbagai lomba keagamaan mulai dari lomba azan hingga tartil Al-Qur’an sebagai wujud apresiasi atas proses hijrah dan pembinaan mental yang dijalani.

Dalam sambutannya, Kalapas Prio Tri Laksono menegaskan bahwa Isra Mi’raj harus dipahami sebagai momentum perubahan, bukan rutinitas tahunan belaka. Perjalanan spiritual Rasulullah SAW,

Menurutnya, mengajarkan kedisiplinan, keteguhan iman, dan ketaatan nilai-nilai yang relevan untuk membentuk karakter warga binaan agar siap kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik.

“Pembinaan melalui jalur keagamaan, lanjutnya, menjadi fondasi utama dalam proses pemasyarakatan yang berorientasi pada pemulihan dan reintegrasi sosial.” papar Kalapas Priyo dalam sambutannya.

Kehangatan spiritual semakin terasa saat H. Awaluddin Hasibuan menyampaikan tausiah. Dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh, ia menekankan pentingnya menjaga salat sebagai tiang kehidupan serta kesabaran dalam menghadapi ujian.

“Pesan-pesan tersebut disimak dengan penuh perhatian oleh seluruh peserta, menciptakan atmosfer haru yang menyatu dengan harapan bahwa setiap insan selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.” ungkap H. Awaluddin dalam Tausiyahnya.

Rangkaian acara ditutup dengan pengumuman dan penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba keagamaan. Untuk kategori laki-laki, penghargaan diberikan kepada pemenang lomba azan, hafalan Surat Yasin, dan hafalan surat-surat pendek. Sementara itu, warga binaan perempuan menerima apresiasi atas prestasi mereka dalam lomba tartil Al-Qur’an.

Lebih dari sekadar penghargaan, momen ini menjadi penegasan bahwa jeruji besi tidak membatasi potensi dan prestasi. Dari balik tembok pemasyarakatan, nilai-nilai disiplin, spiritualitas, dan harapan terus disemai. Dengan berakhirnya peringatan Isra Mi’raj ini, Lapas Kelas IIA Bengkalis meneguhkan komitmen bahwa pembinaan berbasis keimanan adalah jalan menuju perubahan perilaku yang berkelanjutan membuka ruang masa depan yang lebih bermakna bagi para warga binaan.**