Banner Website
Peristiwa

Karhutla Kerumutan Meluas, 270 Hektare Terbakar

×

Karhutla Kerumutan Meluas, 270 Hektare Terbakar

Sebarkan artikel ini
Karhutla Kerumutan Meluas, 270 Hektare Terbakar
Karhutla Kerumutan di Kabupaten Pelalawan, Riau, masih belum sepenuhnya terkendali. (R45/S)

RAKYAT45.COM – Karhutla Kerumutan di Kabupaten Pelalawan, Riau, masih belum sepenuhnya terkendali. Kebakaran yang terjadi di kawasan lahan gambut itu bahkan diperkirakan terus meluas karena sejumlah titik api masih belum berhasil dipadamkan.

Untuk mempercepat penanganan, tim gabungan memperkuat operasi dengan menambah personel dan peralatan, termasuk mengerahkan empat helikopter water bombing.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Damkar Provinsi Riau, Edi Afrizal, mengatakan penambahan personel dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan.

“Hari ini, sebanyak 15 personel dari BPBD dan Damkar Riau sudah berada di lokasi Karhutla. Kemudian Manggala Agni mengirimkan dua regu ke lokasi. Sebanyak 12 personel berasal dari Daops Rengat dan 13 personel merupakan regu BKO Daops Siak,” kata Edi, Sabtu (22/8/2026).

Menurutnya, kekuatan tim akan kembali ditambah. Satu regu dari Daops Rengat dengan 12 personel dijadwalkan berangkat untuk memperkuat operasi pemadaman.

“Besok kita tambah lagi satu regu dari Daops Rengat sebanyak 12 orang. Selain itu, ada 30 personel dari Polda Riau, 20 personel dari Kodam,” kata Edi.

Tambahan personel tersebut akan bergabung dengan tim darat yang sejak awal melakukan pemadaman di kawasan Kerumutan.

Berdasarkan data peninjauan dua hari sebelumnya, luas lahan yang terbakar di Kerumutan telah mencapai sekitar 270 hektare. Namun, angka tersebut berpotensi meningkat karena kebakaran masih berlangsung.

“Waktu peninjauan lokasi (dua hari lalu), luas karhutla di Kerumutan sekitar 270 hektare. Karena sampai sekarang masih ada kebakaran, tentu luasan yang terbakar kemungkinan lebih luas lagi,” ujarnya.

Tim gabungan yang terlibat dalam operasi terdiri dari TNI, Polri, BPBD Riau, BPBD kabupaten/kota, Manggala Agni dan sejumlah unsur terkait lainnya.

Edi mengatakan kondisi lapangan menjadi tantangan utama dalam proses pemadaman. Angin kencang membuat api mudah berpindah dan menyulitkan petugas mengendalikan arah kobaran.

Vegetasi berupa semak belukar dan pepohonan yang masih rapat juga membuat proses pemadaman semakin sulit. Selain itu, petugas menghadapi keterbatasan sumber air dan lokasi kebakaran yang jauh dari akses kendaraan.

“Kesulitan kita memadamkan api karena anginnya kencang. Kemudian di lokasi banyak semak belukar dan pepohonan, sumber air juga sulit. Akses menuju lokasi cukup jauh, sekitar 500 meter dari akses yang bisa dilalui kendaraan,” jelas Edi.

Kondisi tersebut membuat kendaraan roda empat tidak dapat mencapai titik kebakaran. Petugas harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk menjangkau lokasi api.

Penanganan tidak hanya dilakukan melalui jalur darat. Pemerintah juga memperkuat pemadaman melalui operasi udara dengan mengerahkan empat helikopter water bombing.

Helikopter digunakan untuk menjatuhkan air ke sejumlah titik kebakaran, terutama untuk menekan laju penyebaran api.

Namun, Edi mengatakan water bombing belum dapat memadamkan seluruh areal yang terbakar. Operasi udara lebih efektif digunakan untuk memblokir bagian kepala api agar tidak bergerak semakin luas.

“Water bombing memang bisa kita gunakan untuk memblokir kepala api. Tetapi untuk memadamkan seluruh api cukup sulit karena dipengaruhi angin dan kondisi lahan,” katanya.

Kondisi lahan gambut yang kering menjadi persoalan lain dalam penanganan Karhutla Kerumutan. Api yang terlihat padam setelah penyiraman dari udara belum tentu benar-benar mati.

Bara api dapat bertahan di bawah permukaan gambut dan kembali muncul ketika kondisi mendukung.

“Sekarang kondisi lahan gambut sangat kering. Ketika kita lakukan water bombing dan dari atas terlihat api sudah padam, sebenarnya di dalam gambut masih bisa terdapat bara api yang menyala,” ungkapnya.

Karena itu, tim gabungan terus melakukan pemadaman sekaligus pemantauan untuk mencegah api kembali muncul dan meluas ke area lain.***