RAKYAT45.COM – Festival Sastra Melayu Riau (FSMR) 2026 memasuki rangkaian penutupan di Kabupaten Bengkalis dengan mengangkat tema “Meneroka Sastra Pesisir”. Festival yang digagas komunitas Suku Seni Riau tersebut menghadirkan berbagai kegiatan sastra dan tradisi Melayu sejak 20 Agustus hingga puncaknya melalui Seminar Sastra Pesisir, Sabtu (22/8/2026).
Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya yang berpusat di Pekanbaru, FSMR 2026 memilih Kabupaten Bengkalis sebagai tuan rumah. Pemilihan Bengkalis diarahkan untuk menggugah kembali gairah sastra pesisir yang dinilai memiliki kekayaan tradisi dan kearifan lokal.
Sejumlah kegiatan digelar selama festival, di antaranya lomba berzanji, pelatihan syair serta lomba berbalas pantun antaran belanja. Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan kembali tradisi lisan Melayu di tengah masyarakat.
Puncak FSMR 2026 berlangsung melalui Seminar Sastra Pesisir yang dipusatkan di Lantai 3 Gedung Perpustakaan IAIN Datuk Laksemana Bengkalis, Sabtu (22/8/2026).
Seminar tersebut menghadirkan Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi IAIN Datuk Laksemana Bengkalis Dr. Amrun Jarir, M.Ag., serta sastrawan Riau sekaligus akademisi Musa Ismail, M.Pd. Acara penutupan juga dihadiri Plt. Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Kemendikdasmen RI Hidayat Widianto, M.Hum., dan Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau Umi Kulsum, S.S., M.Hum.
Ketua Suku Seni Riau, Marhalim Zaini, mengatakan Bengkalis dipilih karena memiliki kekayaan tradisi sastra dan budaya yang kuat sebagai wilayah pesisir.
“Bengkalis adalah negeri pesisir yang kaya akan sastrawan dan budayawan. Kami ingin sastra pesisir kembali bergairah dan mendapat panggung yang layak di tanah kelahirannya sendiri,” tegasnya.
Wakil Bupati Bengkalis H. Bagus Santoso yang hadir langsung menutup FSMR 2026 memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan festival tersebut. Menurutnya, tema “Meneroka Sastra Pesisir” selaras dengan identitas Kabupaten Bengkalis sebagai daerah yang tumbuh di wilayah pesisir.
“Kabupaten Bengkalis, yang lahir dan tumbuh di tepian laut, adalah negeri pesisir sejati. Di sini, sastra bukan sekadar tulisan di atas kertas, ia mengalir bersama deburan ombak, diwariskan dari mulut ke mulut di beranda rumah,” ujar Bagus Santoso dalam sambutannya.
Bagus menilai generasi muda dan pegiat budaya memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi sastra pesisir. Menurutnya, warisan budaya tersebut perlu terus dipelajari, dikembangkan dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Jangan biarkan kekayaan sastra pesisir ini hanya tersimpan dalam ingatan orang-orang tua. Angkatlah kembali, pelajarilah, tuliskanlah, dan sampaikanlah kepada anak cucu. Meneroka sastra pesisir berarti menjaga akar sekaligus membuka jalan ke depan agar identitas kita tetap utuh,” pesannya.
Pemerintah Kabupaten Bengkalis menyatakan komitmennya untuk terus mendukung upaya pelestarian budaya. Penutupan FSMR 2026 diharapkan menjadi pemantik bagi lahirnya gagasan dan karya baru dalam pengembangan sastra Melayu pesisir.***












