Banner Website
Daerah

Sleman Bidik Kota Film UNESCO, 500 Talenta Muda Disiapkan

×

Sleman Bidik Kota Film UNESCO, 500 Talenta Muda Disiapkan

Sebarkan artikel ini
Bupati Sleman Harda Kiswaya berada di tengah, didampingi Sekda Sleman Abu Bakar di sisi kanan, dalam kegiatan pengembangan ekosistem perfilman Sleman, Jumat (21/8/2026)./R45/Agus.

Rakyat45.com, Sleman – Ambisi menjadikan Sleman sebagai Kota Film UNESCO mulai memasuki tahapan penting. Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak hanya mengejar pengakuan internasional, tetapi menyiapkan fondasi industri yang mampu menciptakan talenta, lapangan kerja, hingga membuka akses karya lokal ke pasar global.

Langkah tersebut disampaikan dalam jumpa pers bertema “Sleman Menuju Jaringan Kota Film UNESCO” yang mempertemukan jajaran pemerintah daerah dengan pelaku dan tokoh perfilman, perguruan tinggi, komunitas, serta awak media.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Eddy Winarya, S.SN., menjelaskan bahwa Sleman telah melewati tahap pertama seleksi nasional. Sleman kini masuk dalam enam kabupaten/kota yang mengikuti seleksi lanjutan pengusulan nominasi anggota UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027 bidang Film.

“Di tahap kedua akan dipilih empat, kemudian tahap ketiga dipilih dua untuk selanjutnya diusulkan ke UNESCO,” jelasnya.

Peluang tersebut ditopang oleh ekosistem kreatif yang sudah berkembang. Sleman memiliki studio film dan animasi, komunitas film, perguruan tinggi serta sekolah yang menyediakan program terkait film dan animasi, lembaga pelatihan, rumah produksi, bioskop, hingga televisi lokal.

Fondasi itu semakin kuat setelah Sleman mendeklarasikan diri sebagai Kabupaten Kreatif pada 2023. Film, Animasi, dan Video menjadi salah satu subsektor yang mendapat perhatian dalam pengembangan ekonomi kreatif daerah.

Film Didorong Jadi Mesin Ekonomi

Bupati Sleman H. Harda Kiswaya, S.E., M.Si., melihat industri film dari perspektif yang lebih luas. Menurut dia, pengembangan perfilman tidak semestinya berhenti pada pencapaian prestasi atau status internasional.

Film diharapkan mampu bergerak menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah sekaligus membuka ruang pekerjaan baru bagi generasi muda.

Potensi anak-anak muda Sleman, kata dia, dapat diarahkan menjadi pencipta karya, pekerja kreatif, animator, maupun pembuat film yang mampu menghasilkan nilai ekonomi.

Pemerintah daerah karena itu mendorong kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, komunitas, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun industri yang memberi manfaat lebih luas, bukan sekadar menghasilkan karya layar.

500 Talenta Muda Disiapkan

Penguatan sumber daya manusia menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Dalam jumpa pers, muncul gagasan menyiapkan sekitar 500 anak Sleman melalui pendidikan dan pelatihan khusus di bidang film, animasi, dan live action.

Program itu ditujukan untuk membangun regenerasi sekaligus memastikan talenta lokal memiliki posisi dalam pertumbuhan industri kreatif di daerahnya sendiri.

Sleman juga menyiapkan penguatan kelembagaan melalui Komisi Perfilman. Lembaga tersebut diharapkan menjadi ruang bagi pelaku dan profesional untuk berkolaborasi serta ikut menentukan arah pengembangan perfilman daerah.

Karya Lokal Mengincar Pasar Global

Upaya membangun industri tidak berhenti pada pasar domestik. Sleman juga mulai mengarahkan sejumlah karya film dan animasi agar mampu menjangkau penonton internasional.

Salah satu proyek yang diperkenalkan dalam jumpa pers ialah animasi “Ais Saka: The King, The Flower of Life”. Proyek tersebut dikembangkan dengan melibatkan sejumlah profesional perfilman internasional.

Keterlibatan tenaga profesional dari industri film dunia membuka peluang bagi talenta Sleman untuk menghasilkan karya yang memiliki daya saing di pasar global.

Pemerintah daerah juga melihat industri film sebagai bagian dari ekspor ekonomi kreatif sekaligus pintu masuk investasi internasional.

“Intinya adalah, dengan kita bisa ekspor film kita dan investasi dari Bollywood, maka saya yakin semakin anak-anak di Sleman itu semakin banyak yang kita butuhkan,” ujar narasumber.

Infrastruktur Kreatif Jadi Penopang

Pertumbuhan industri membutuhkan ruang yang mampu mempertemukan pelaku kreatif, komunitas, pendidikan, dan masyarakat. Karena itu, Pemkab Sleman turut memperkuat infrastruktur ekonomi kreatif melalui Sleman Creative Space.

Taman Budaya Sleman juga dikembangkan sebagai ruang ekspresi dan komunikasi bagi komunitas film serta pelaku ekonomi kreatif.

Rangkaian langkah tersebut menunjukkan bahwa target Sleman menuju jaringan Kota Film UNESCO dibangun melalui pendekatan ekosistem. Mulai dari pendidikan dan regenerasi talenta, penguatan kelembagaan, ruang kreatif, hingga membuka jalur ekspor karya dan investasi internasional.

Jika seluruh elemen itu dapat bergerak dalam satu ekosistem, Sleman tidak hanya berpeluang mengejar nominasi UCCN bidang Film, tetapi juga memiliki fondasi untuk menjadikan industri kreatif sebagai kekuatan ekonomi baru daerah.**