Banner Website
Peristiwa

Gajah Jovi Mati Usai Dirawat 34 Hari, BBKSDA Riau Ungkap Dugaan Penyebabnya

23
×

Gajah Jovi Mati Usai Dirawat 34 Hari, BBKSDA Riau Ungkap Dugaan Penyebabnya

Sebarkan artikel ini
Gajah Jovi Mati Setelah Dirawat 34 Hari di PLG Minas
Ilustrasi Gajah Jovi. (R45/Y)

RAKYAT45.COM – Gajah Jovi, gajah binaan di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, Riau, mati setelah menjalani perawatan intensif selama 34 hari. BBKSDA Riau menyebut gajah jantan berusia sekitar 46 tahun itu diduga meninggal akibat komplikasi infeksi saluran pencernaan dan saluran pernapasan atas yang berkembang menjadi myopathy atau gangguan otot berat.

Gajah Jovi dinyatakan mati pada Senin (3/8/2026) pukul 20.47 WIB setelah tim dokter hewan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau berupaya memberikan penanganan medis secara intensif sejak awal Juli.

Plh. Kepala BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, mengatakan kondisi kesehatan Jovi mulai menurun pada 1 Juli 2026. Saat itu, gajah menunjukkan gejala lemah, kehilangan nafsu makan, tremor, kekakuan pada kaki, belalai, dan ekor, serta mengalami kesulitan berdiri.

“Sejak awal munculnya gejala, tim medis BBKSDA Riau segera melakukan penanganan secara intensif sesuai standar operasional dan prosedur (SOP) pelayanan kesehatan satwa. Tindakan medis yang diberikan meliputi terapi cairan infus selama 24 jam, pemberian vitamin, antibiotik, antiinflamasi, asam amino, terapi suportif, serta pemantauan kondisi klinis dan pemeriksaan laboratorium secara berkala,” kata Ujang dalam rilis resmi, Selasa (4/8/2026).

Koordinator Tim Medis BBKSDA Riau, drh. Rini Deswita, menjelaskan kondisi Jovi sempat menunjukkan perkembangan positif selama masa perawatan. Kekakuan pada anggota tubuh mulai berkurang, nafsu makan membaik, bahkan pada hari keenam gajah sempat mampu berdiri dan berjalan beberapa langkah.

“Hasil pemeriksaan laboratorium darah yang dilakukan secara berkala juga menunjukkan adanya penurunan tingkat infeksi setelah mendapatkan terapi,” sebutnya.

Meski sempat membaik, kondisi otot Jovi terus melemah hingga berkembang menjadi myopathy berat yang membuatnya kembali tidak mampu berdiri. Selama proses perawatan, tim medis terus memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan melalui pakan khusus serta terapi infus.

Penanganan kasus ini juga melibatkan Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan yang mengoordinasikan konsultasi dengan dokter hewan dari berbagai unit di lingkungan kementerian guna menentukan langkah medis terbaik.

Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, uji laboratorium darah, serta gejala yang muncul selama perawatan, tim medis menduga Gajah Jovi mengalami komplikasi infeksi pada saluran pencernaan dan saluran pernapasan atas yang memicu gangguan otot berat. Untuk memastikan penyebab kematian, tim langsung melakukan nekropsi dan mengambil sampel organ serta jaringan guna pemeriksaan laboratorium lanjutan.

Kondisi Jovi dilaporkan kembali memburuk pada Minggu (2/8/2026). Gajah tidak lagi mau makan maupun minum sehingga terapi intensif terus diberikan. Sehari kemudian sekitar pukul 16.00 WIB, suhu tubuhnya meningkat hingga sekitar 40 derajat Celsius.

Tim medis terus melakukan terapi cairan melalui infus, pemberian cairan secara oral maupun rektal, serta tindakan suportif lainnya. Namun pada pukul 20.43 WIB, Jovi mengalami tremor hebat dan empat menit kemudian dinyatakan mati. Setelah proses pemeriksaan selesai, jenazah gajah dimakamkan sesuai prosedur.

Gajah Jovi merupakan gajah jinak jantan yang berasal dari Kabupaten Indragiri Hulu dan bergabung di PLG Minas sejak 18 Februari 1998. Selama lebih dari dua dekade, Jovi menjadi salah satu gajah andalan dalam operasi mitigasi konflik manusia dan gajah liar di berbagai wilayah Provinsi Riau.

BBKSDA Riau menyampaikan apresiasi kepada seluruh dokter hewan, paramedis veteriner, mahout, dan petugas lapangan yang terlibat dalam penanganan Gajah Jovi. Lembaga itu juga mengajak masyarakat terus mendukung pelestarian gajah Sumatera melalui perlindungan habitat, pengurangan konflik manusia dan satwa liar, serta kolaborasi dalam upaya konservasi.***

Tag: Gajah Jovi, BBKSDA Riau, PLG Minas, Gajah Sumatera, Konservasi Satwa