RAKYAT45.COM – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli meminta seluruh Kepala Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) di Indonesia mengukur keberhasilan pelatihan berdasarkan jumlah alumni yang terserap di pasar kerja, bukan sekadar banyaknya peserta yang mengikuti pelatihan. Arahan tersebut disampaikan dalam kegiatan bertema Percepatan Transformasi BPVP di BPVP Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (19/10/2026) malam.
Yassierli menilai perubahan cara pandang dalam pengelolaan BPVP diperlukan untuk menjawab tantangan ketenagakerjaan, termasuk pengangguran dan kesenjangan kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Jangan lagi membanggakan berapa banyak orang yang sudah dilatih, tetapi berapa banyak orang yang setelah dilatih bisa langsung bekerja. Itu yang harus kita kejar bersama,” kata Yassierli.
Untuk meningkatkan kesiapan lulusan memasuki dunia kerja, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menjalankan Program Pelatihan Vokasi Nasional dan Program Magang Nasional atau MagangHub bagi lulusan baru (fresh graduate).
Kemnaker juga akan menghadirkan Pusat Pelatihan Khusus Disabilitas di Bekasi. Fasilitas tersebut ditujukan untuk membuka akses pelatihan dan peluang kerja yang lebih luas bagi penyandang disabilitas.
Yassierli menegaskan, BPVP harus dipandang sebagai perwakilan pemerintah pusat di daerah. Karena itu, seluruh kegiatan balai perlu diarahkan untuk mendukung pelaksanaan program Kemnaker dan program pemerintah pusat secara keseluruhan.
Dalam upaya mempercepat transformasi tersebut, Yassierli menyampaikan empat pilar budaya kerja bagi jajaran BPVP. Keempatnya meliputi kekuatan persatuan dan kesatuan langkah, penguatan peran setiap individu, organisasi yang lincah dan adaptif terhadap perubahan, serta keberanian menyuarakan dan menyampaikan kebenaran secara proaktif.
Ia juga mengingatkan seluruh jajaran agar tidak cepat berpuas diri, menjaga integritas, dan mengedepankan inovasi dalam menjalankan tugas.
Selain itu, Yassierli ingin setiap instruktur memperoleh ruang untuk mengembangkan kemampuan dan berkontribusi. Ia berharap balai pelatihan menjadi lingkungan kerja yang nyaman sekaligus mendukung pertumbuhan profesional para instruktur.***












