Rakyat45.com, Bengkalis – Perjalanan Fakhtiar Qadri menuju pucuk kepemimpinan Partai Golkar Kabupaten Bengkalis bukanlah langkah yang dibangun dalam semalam. Berawal dari aktivitas organisasi mahasiswa, berlanjut pada pendampingan ekonomi masyarakat desa, hingga kiprahnya sebagai anggota DPRD Kabupaten Bengkalis, pria yang akrab disapa Ngah Tiar itu kini dipercaya menakhodai Golkar Bengkalis periode 2026–2031.
Pengalaman panjang tersebut menjadi modal penting baginya untuk memperkuat konsolidasi partai, merapatkan barisan kader, dan membawa Golkar menghadapi tantangan politik lima tahun mendatang.
Fakhtiar terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bengkalis periode 2026–2031 dalam Musyawarah Daerah (Musda) pada Selasa malam, 27 Oktober 2026. Ia menjadi satu-satunya kandidat yang mendaftarkan diri hingga penutupan pendaftaran. Sebanyak 16 pemilik suara dalam forum tersebut memberikan dukungan kepadanya.
Mandat itu membawa tantangan baru bagi Fakhtiar. Selain menjalankan tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Bengkalis periode 2024–2029, ia harus membangun kekuatan organisasi, menyatukan kader, dan mempersiapkan partai menghadapi persaingan politik berikutnya.
Menempa Diri dari Organisasi Mahasiswa
Lahir di Pangkalan Batang, Kecamatan Bengkalis, pada 20 Mei 1987, Fakhtiar menempuh pendidikan tinggi di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau dengan mengambil bidang Administrasi Negara. Masa kuliah menjadi titik awal keterlibatannya dalam organisasi dan gerakan kemahasiswaan.
Pada 2005–2006, ia bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Administrasi Negara UIN Suska Riau. Kiprahnya kemudian meluas ke tingkat universitas. Pada 2006–2008, ia menjadi pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang membidangi Hubungan Luar Mahasiswa.
Fakhtiar juga aktif dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Ikatan Pelajar Mahasiswa Kabupaten Bengkalis (IPMKB) Pekanbaru. Dalam organisasi terakhir, ia dipercaya menjabat sekretaris umum pada 2008 hingga pertengahan 2010.
Aktivitas tersebut tidak hanya memberinya pengalaman mengelola organisasi, tetapi juga mempertemukannya dengan dinamika penyampaian aspirasi melalui gerakan mahasiswa.
Perjalanannya pun tidak selalu berjalan sesuai harapan. Pada 2008, ia mencalonkan diri sebagai Ketua IPMKB, tetapi belum berhasil meraih posisi tersebut. Dua tahun kemudian, ia kembali mengikuti kontestasi sebagai calon Ketua Karang Taruna tingkat desa, tetapi kembali belum memperoleh hasil yang diharapkan.
Pengalaman itu menjadi bagian dari proses sebelum ia memperluas kiprah di organisasi kepemudaan dan pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Bengkalis.
Dari KNPI ke Pendampingan Ekonomi Desa
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana pada pertengahan 2010, Fakhtiar kembali ke Bengkalis dan melanjutkan pendidikan magister di Universitas Riau. Pada 2011, ia mulai aktif di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bengkalis.
Selama periode 2011–2019, ia mengemban sejumlah tanggung jawab hingga dipercaya menjadi salah satu wakil ketua DPD KNPI Kabupaten Bengkalis. Jabatan tersebut memperluas interaksinya dengan organisasi kepemudaan dan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa dan kelurahan.
Setahun setelah mulai aktif di KNPI, Fakhtiar menekuni bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sejak 2012, ia bekerja sebagai Koordinator Kabupaten (Korkab) Kepala Pendamping Desa Bidang Ekonomi di lingkungan pemerintahan Kabupaten Bengkalis.
Selama hampir satu dekade, ia terlibat dalam pendampingan kelembagaan ekonomi desa dan kelurahan. Pekerjaan itu dijalaninya melewati beberapa periode kepemimpinan daerah, mulai dari Bupati Herliyan Saleh, Bupati Amril Mukminin, hingga Penjabat Bupati Ahmad Syah Harrofie.
Fakhtiar mengakhiri pekerjaannya sebagai pendamping desa pada akhir 2020 dengan mengundurkan diri saat Syahrial Abdi menjabat Penjabat Bupati Bengkalis. Keputusan tersebut menandai peralihan dari pekerjaan pendampingan masyarakat menuju politik praktis.
Meniti Jalan Politik hingga Terpilih sebagai Anggota DPRD
Setelah bergabung dengan Partai Golkar, Fakhtiar membangun pengalaman kepartaian melalui perannya sebagai tenaga ahli Fraksi Partai Golkar DPRD Kabupaten Bengkalis pada 2021–2023.
Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk mengenal lebih dekat dinamika lembaga legislatif sebelum mengikuti pemilihan anggota dewan.
Pada Pemilihan Legislatif 2024, Fakhtiar maju sebagai calon anggota DPRD Kabupaten Bengkalis dari daerah pemilihan Bengkalis–Bantan. Dalam pencalonan pertamanya, ia berhasil terpilih untuk periode 2024–2029. Ia menempati peringkat kelima dalam perolehan suara di daerah pemilihan yang menyediakan sembilan kursi tersebut.
Kemenangan itu mengantarkannya dari lingkungan organisasi dan pendampingan masyarakat ke lembaga legislatif. Dua tahun kemudian, kepercayaan politik yang diterimanya bertambah melalui pemilihan sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bengkalis.
Di luar aktivitas politik, Ngah Tiar dikenal memiliki pembawaan rendah hati dan ramah sehingga mudah bergaul dengan berbagai kalangan. Ia juga menjalani kehidupan keluarga bersama istri dan ketiga anaknya di tengah tanggung jawab sebagai wakil rakyat dan pimpinan partai.
Bidik Satu Kursi di Setiap Daerah Pemilihan
Kepemimpinan Fakhtiar di Golkar Bengkalis akan dimulai dengan pembenahan internal organisasi. Ia berencana mendata kader, memperkuat struktur kepengurusan, dan merangkul seluruh elemen partai agar konsolidasi berjalan hingga tingkat bawah.
Salah satu target politik yang ingin dicapainya ialah memastikan Golkar memperoleh minimal satu kursi di setiap daerah pemilihan pada pemilihan legislatif mendatang.
Untuk mencapai sasaran tersebut, dukungan kader, simpatisan, dan seluruh jajaran pengurus menjadi faktor penting. Soliditas internal diharapkan menjadi landasan bagi partai untuk memperkuat perolehan suara sekaligus meningkatkan keterwakilan di DPRD Kabupaten Bengkalis.
Fakhtiar juga berencana memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bengkalis. Dalam kepemimpinannya, Golkar Bengkalis akan mendukung program-program pemerintah daerah.
Tim Formatur Susun Kepengurusan Baru
Selain agenda konsolidasi, pembentukan struktur kepengurusan periode 2026–2031 menjadi tahapan yang harus diselesaikan setelah Musda.
Forum tersebut menetapkan tim formatur yang terdiri atas perwakilan pengurus kecamatan, pengurus tingkat provinsi, ketua terpilih, serta perwakilan organisasi sayap partai. Sekretaris DPD Partai Golkar Riau, Suparman, turut masuk dalam tim tersebut.
Tim formatur diberi waktu satu bulan untuk menyusun komposisi kepengurusan. Setelah rampung, susunan itu akan diajukan kepada DPD Golkar Riau dan pengurus pusat sebelum pelantikan.
Bagi Fakhtiar, jabatan baru ini menjadi tahap penting dalam perjalanan yang dimulai dari organisasi mahasiswa, berlanjut ke pemberdayaan ekonomi desa, hingga lembaga legislatif. Kini, tantangannya adalah menerjemahkan pengalaman tersebut menjadi kepemimpinan partai yang terorganisasi dan mampu mencapai target politik.
Keberhasilan konsolidasi, terbentuknya kepengurusan yang solid, serta pencapaian target kursi legislatif akan menjadi tolok ukur perjalanan Golkar Bengkalis di bawah kepemimpinannya hingga 2031.**












