Rakyat45.com, Tangerang – Ketegangan geopolitik dunia yang kian memanas dinilai membawa dampak nyata terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Rachmat Gobel, menegaskan bahwa situasi global saat ini tidak bisa dipandang hanya sebagai isu politik semata, melainkan harus dibaca sebagai tantangan strategis bagi masa depan ekonomi nasional.
Dalam forum Rapat Koordinasi dan Diskusi BKSAP DPR RI yang digelar di Tangerang, Gobel menyoroti pentingnya Indonesia mengambil pelajaran dari konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Menurutnya, dinamika global harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah ketidakpastian internasional.
“Ini perlu dibahas, terus tentu apa yang bisa kita ambil hikmah daripada isu politik dunia ini, dan apa yang harus terjadi, bagaimana Indonesia berperan untuk bisa mengatasi masalah-masalah yang ada di dunia,” kata Gobel, Rabu (8/4/2026).
Ia menilai konflik yang melibatkan negara-negara besar seperti Iran, Amerika Serikat, dan Israel tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga memicu efek domino terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.
Kenaikan harga energi, gangguan rantai pasok, hingga fluktuasi pasar keuangan menjadi risiko nyata yang harus diantisipasi.
Dalam konteks tersebut, Gobel menekankan bahwa Indonesia perlu segera memperkuat fondasi kemandirian ekonominya. Ia melihat ketergantungan terhadap impor masih menjadi persoalan mendasar yang membuat ekonomi nasional rentan terhadap gejolak eksternal.
“Hikmah apa yang bisa kita ambil? Tentu adalah kita harus bisa membangun kemandirian. Mengambil contoh bagaimana Iran bertahan, ini bisa kita ambil,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa dalam kondisi tertekan akibat sanksi dan isolasi internasional, Iran mampu bertahan dengan mengandalkan kekuatan domestiknya. Menurut Gobel, hal tersebut menjadi pelajaran penting bagi Indonesia yang sejatinya memiliki sumber daya alam melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Ia menyoroti bahwa tingginya angka impor menjadi indikator belum kuatnya kemandirian ekonomi nasional. Padahal, Indonesia memiliki potensi besar di sektor pertanian, energi, hingga industri manufaktur yang bisa dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri.
“Di Indonesia ini masalahnya kemandirian ini tidak kelihatan, karena impor kita ini masih tinggi sekali. Padahal kita juga punya kekayaan, kenapa kita tidak bisa?” tegasnya.
Lebih lanjut, Gobel menekankan bahwa pembelajaran tidak hanya bisa diambil dari negara yang sedang berkonflik, tetapi juga dari negara maju yang berhasil membangun kekuatan ekonomi meski memiliki keterbatasan sumber daya alam. Salah satu contoh yang ia soroti adalah Jepang.
Menurutnya, Jepang menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi tidak semata ditentukan oleh kekayaan alam, melainkan oleh kualitas sumber daya manusia, inovasi teknologi, serta kebijakan ekonomi yang tepat sasaran. Hal ini menjadi refleksi bagi Indonesia agar tidak terus bergantung pada eksploitasi sumber daya, tetapi mulai mengedepankan nilai tambah dan industrialisasi.
“Kita tidak hanya bicara politiknya saja, tapi bicara juga ekonominya, dengan belajar dari bagaimana Iran maupun negara-negara lain. Ada seperti Jepang yang tidak punya sumber daya alam yang kuat, tapi dia bisa menjadi negara kuat. Kita punya semuanya, kenapa kita tidak bisa itu?” jelasnya.
Isu kemandirian ekonomi pun menjadi sorotan utama dalam diskusi tersebut. Gobel menilai bahwa di tengah ketidakpastian global, Indonesia harus berani mengambil langkah strategis untuk memperkuat sektor domestik, mulai dari peningkatan produksi dalam negeri, penguatan industri nasional, hingga pengurangan ketergantungan impor.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya peran diplomasi parlemen dalam menghadapi situasi global. Melalui BKSAP DPR RI, Indonesia diharapkan dapat aktif membangun komunikasi dan kerja sama internasional guna menjaga stabilitas sekaligus memperjuangkan kepentingan nasional.
Dengan situasi global yang terus berubah, Gobel mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Sebaliknya, Indonesia harus tampil sebagai negara yang mampu beradaptasi dan mengambil peluang dari setiap dinamika yang terjadi.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa kemandirian ekonomi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak agar Indonesia mampu bertahan dan berkembang di tengah tekanan geopolitik dunia yang semakin kompleks.***












