Rakyat45.com, Trenggalek – Dari sebuah sudut tenang di Desa Rayangan, lahir kisah yang menembus riuh kehidupan modern: tentang ketulusan yang bekerja dalam diam, tentang pengorbanan yang tak meminta tepuk tangan. Tri Hartanto memilih jalan sunyi itu, mendirikan sebuah masjid megah bukan dari uluran tangan donatur, melainkan dari keringat dan dana pribadinya sendiri.
Gagasan itu mulai diwujudkan pada 2020, jauh sebelum dunia dilumpuhkan pandemi. Tahun-tahun berlalu, ujian datang silih berganti, namun tekad tak pernah surut. Hingga kini, nilai pembangunan yang telah ia curahkan mencapai sekitar Rp8 miliar. Masjid dua lantai yang berdiri di atas lahan seluas 1.000 meter persegi itu bahkan belum diberi nama seolah menjadi penegas bahwa niatnya tak berkelindan dengan pamrih apa pun.
Minggu, 12 April 2026, suasana di lokasi pembangunan berubah menjadi lautan haru. Rombongan jamaah taklim dari Yogyakarta dan Wonosobo datang berkunjung. Mereka tidak sekadar menyaksikan bangunan yang belum rampung; mereka merasakan denyut perjuangan panjang yang dibangun dari doa, kesabaran, dan keyakinan.
Di hadapan awak media, Tri Hartanto berbicara dengan suara yang tertahan emosi. Ia menegaskan bahwa seluruh proses pembangunan dilakukan secara mandiri, tanpa bantuan pihak luar. Di balik itu, berdiri kokoh dukungan keluarga yang menjadi sumber kekuatan utamanya.
“Istri saya, Bu Nawang, dan anak-anak mendukung dengan penuh keikhlasan. Ini adalah cita-cita kami membangun rumah Allah yang bisa digunakan siapa saja,” tuturnya. Senin (13/4/2026).
Perjalanan hampir tujuh tahun itu tidak mudah. Rencana yang disusun sebelum pandemi harus berhadapan dengan berbagai keterbatasan. Namun, keyakinan bahwa niat baik akan menemukan jalannya terus menjadi penopang.
Ustadz Imam yang turut hadir menyampaikan bahwa meski belum sepenuhnya selesai, masjid tersebut telah mulai difungsikan. “Ini bukti bahwa niat tulus tidak pernah sia-sia. Walaupun belum rampung, masjid ini sudah hidup dengan ibadah,” ujarnya.
Doa-doa pun mengalir dalam kebersamaan. Para jamaah larut dalam kekhusyukan, memohon agar pembangunan segera diselesaikan dan kelak menjadi pusat ibadah sekaligus syiar Islam bagi masyarakat luas.
Apa yang dilakukan Tri Hartanto melampaui sekadar pembangunan fisik. Ia sedang menanam warisan iman sebuah amal jariyah yang diyakini akan terus mengalir, bahkan ketika waktu telah menjauhkan dirinya dari dunia.
Masjid itu, pada akhirnya, bukan hanya tentang bata dan semen. Ia adalah tentang cinta yang tak bersyarat, pengorbanan yang tak dihitung, serta keikhlasan yang diam-diam menggetarkan hati.**












