Banner Website
Ekbis

Dari Dapur Kecil di Pekanbaru, Mie Sagu Mak Cio Menjaga Rasa Bengkalis Tetap Hidup

41
×

Dari Dapur Kecil di Pekanbaru, Mie Sagu Mak Cio Menjaga Rasa Bengkalis Tetap Hidup

Sebarkan artikel ini
Dari Dapur Kecil di Pekanbaru, Mie Sagu Mak Cio Menjaga Rasa Bengkalis Tetap Hidup
Mi Sagu lembab buatan Roemah Mie Sagu Bengkalis Mak Cio. (Rakyat45/md/dibantu disempurnakan oleh Ai)

RAKYAT45.COM – Sore itu langit Pekanbaru belum benar-benar redup. Cahaya matahari masih jatuh lembut di Jalan Teratai Atas, Kecamatan Sukajadi. Di sudut jalan yang tak terlalu ramai, aroma bawang goreng dan rempah-rempah menyeruak dari sebuah rumah makan sederhana bernama Roemah Mie Sagu Bengkalis Mak Cio.

Di tempat itulah, cita rasa kampung halaman dijaga dengan tekun-pelan, sabar, dan penuh ingatan.

Seorang perempuan berhijab menyambut dengan senyum hangat. Namanya Nur Fitria, 42 tahun. Tangannya cekatan menyiapkan minuman sambil sesekali menyapa pelanggan yang datang silih berganti. Tidak ada kesan berjarak. Suasana di rumah makan itu terasa seperti bertamu ke rumah saudara sendiri.

Di balik senyumnya, tersimpan perjalanan panjang tentang keberanian meninggalkan kenyamanan hidup, tentang kerinduan pada tanah kelahiran, dan tentang usaha menjaga warisan kuliner Melayu agar tidak hilang ditelan zaman.

“Kalau bukan kita yang menjaga makanan tradisional ini, siapa lagi?” katanya lirih sambil menata kemasan mie sagu di atas meja.

Bagi masyarakat pesisir Riau, terutama Bengkalis dan Kepulauan Meranti, mie sagu bukan sekadar makanan. Ia adalah bagian dari identitas. Terbuat dari tepung sagu, mie ini memiliki tekstur kenyal dengan bentuk lebih besar dan sedikit transparan dibanding mie biasa. Rasanya gurih, sederhana, tetapi menyimpan kekayaan rasa yang khas Melayu pesisir.

Nur Fitria tumbuh bersama aroma mie sagu sejak kecil di Bengkalis. Kenangan tentang dapur rumah, suara ibu memasak, hingga aroma teri goreng dan cabai yang ditumis, masih lekat di ingatannya.

Namun hidup membawanya ke jalan berbeda. Setelah lulus sebagai Sarjana Akuntansi dari STIE Bengkalis, ia bekerja selama 14 tahun di sebuah perusahaan konsorsium di kampung halamannya. Hidupnya berjalan stabil hingga akhirnya pada 2014 ia memilih berhenti bekerja dan ikut suami pindah ke Pekanbaru.

Perpindahan itu menjadi titik balik hidupnya.

Dari seorang perempuan karier, ia mendadak harus beradaptasi menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Hari-harinya terasa asing. Ia mengaku tidak terbiasa hanya diam di rumah. Ada kerinduan pada kesibukan, pada produktivitas, dan pada rasa “berguna”.

“Saya merasa harus melakukan sesuatu. Saya tidak bisa hanya duduk diam,” ujarnya dengan semangat.

Berawal dari obrolan bersama teman, muncul ide membuka usaha kuliner khas Bengkalis. Bukan makanan modern, bukan pula tren kekinian, melainkan mie sagu makanan yang selama ini justru dianggap sederhana dan kampung.

Keputusan itu bukan tanpa risiko. Saat itu, mie sagu belum begitu populer di Pekanbaru. Banyak orang bahkan belum familiar dengan teksturnya yang berbeda dari mie biasa. Namun Fitria percaya, makanan tradisional selalu punya jalan untuk menemukan penikmatnya sendiri.

Dari dapur kecil di rumah, ia mulai meracik resep yang diwariskan keluarganya. Ia mempertahankan rasa asli Bengkalis: gurih rempah, aroma ikan bilis, dan sensasi pedas yang khas pesisir.

Hari demi hari, pelanggan mulai datang. Ada yang penasaran, ada yang rindu kampung halaman, ada pula yang jatuh hati sejak suapan pertama.

Nama “Mak Cio” sendiri lahir tanpa rencana besar. Awalnya, beberapa pelanggan memanggilnya dengan sebutan itu karena nama anak pertamanya, Cio. Lama-kelamaan panggilan tersebut melekat dan justru menjadi identitas usahanya.

“Awalnya cuma panggilan pelanggan. Tapi ternyata orang lebih mudah ingat,” katanya sambil tertawa kecil.

Usahanya perlahan berkembang. Dari hanya menjual mie sagu siap santap, ia mulai memikirkan cara agar makanan khas ini bisa dinikmati lebih luas. Ia menyadari satu masalah: banyak orang menyukai mie sagu, tetapi enggan memasaknya karena prosesnya dianggap rumit.

Dari situlah lahir inovasi mie sagu instan Mak Cio.

Dalam satu kemasan, pelanggan sudah mendapatkan mie sagu, bumbu racikan khas Melayu, dan teri goreng sebagai pelengkap. Praktis, tetapi tetap mempertahankan rasa tradisional. Tanpa bahan pengawet dan tanpa penyedap buatan, bumbu tersebut diracik dari ikan bilis, ebi, serta rempah-rempah pilihan.

Tak berhenti di situ, Fitria juga menciptakan menu mie sagu kuah miso rempah—perpaduan unik antara mie sagu dengan kuah kaldu sapi berempah yang hangat dan kaya rasa. Menu itu menjadi salah satu favorit pelanggan karena menghadirkan sensasi baru tanpa menghilangkan akar tradisionalnya.

Meski terus berinovasi, Fitria tetap menjaga satu hal penting: rasa asli Melayu pesisir.

Ia paham, tidak semua lidah cocok dengan cita rasa Bengkalis yang terkenal pedas menyengat. Karena itu, ia menyesuaikan racikan agar lebih netral tanpa menghilangkan karakter utamanya.

“Kalau terlalu asli Bengkalis, sebagian orang tidak kuat pedasnya. Jadi kami sesuaikan supaya semua bisa menikmati,” ujarnya.

Bahan baku utama mie sagunya didatangkan langsung dari Bengkalis dan Kepulauan Meranti, daerah yang dikenal sebagai sentra sagu terbesar di Riau. Di dapur produksinya, teknologi modern mulai digunakan, mulai dari mesin pengaduk otomatis hingga pengemasan profesional berbentuk box dan kaleng.

Meski demikian, nuansa rumahan tetap terasa kuat. Saat pesanan membludak, warga sekitar ikut membantu proses produksi. Ada yang mengemas mie, menimbang bumbu, hingga menyiapkan teri goreng.

“Saya senang kalau usaha ini juga bisa membantu orang sekitar,” katanya.

Dalam sebulan, Roemah Mie Sagu Bengkalis Mak Cio mampu memproduksi ratusan box mie instan yang dipasarkan melalui gerai oleh-oleh, swalayan, marketplace, hingga layanan pesan antar daring. Produk-produknya juga kerap dijadikan hampers dan buah tangan oleh instansi pemerintah maupun perusahaan di Pekanbaru.

Namun perjalanan itu tidak selalu mulus.

Fitria pernah berada di titik sulit saat pandemi melanda. Penjualan menurun drastis, aktivitas masyarakat terbatas, dan usaha kecil banyak yang tumbang. Di masa itu, ia mencoba bertahan dengan menjual frozen food dan memaksimalkan penjualan daring.

Justru dari masa sulit tersebut, jalannya bertemu dengan berbagai program pengembangan UMKM mulai terbuka. Ia mulai membenahi legalitas usaha, mengurus sertifikasi halal, PIRT, hingga BPOM. Ia juga mengikuti berbagai pelatihan dan kurasi UMKM.

Salah satu titik penting perjalanan usahanya datang ketika ia memperoleh pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI pada 2016 sebesar Rp25 juta. Dana itu digunakan untuk membeli peralatan produksi dan memperkuat fondasi usahanya.

“Itu awal kami mulai serius membangun usaha,” ujarnya.

Dukungan tersebut membuka lebih banyak peluang. Pada akhir 2024, Mak Cio mengikuti program BRI Brilianpreneur. Dari sejumlah peserta asal Riau, usaha ini berhasil lolos hingga tahap akhir dan menjadi satu-satunya peserta sektor makanan dan minuman dari daerah tersebut.

Awal 2025 menjadi momen yang sulit dilupakan. Untuk pertama kalinya, Mak Cio tampil di ajang BRI UMKM EXPO(RT) di ICE BSD City, Jakarta. Sebuah pameran nasional yang diikuti ribuan pelaku UMKM dari seluruh Indonesia.

Di tengah riuh pengunjung pameran, mie sagu dari Bengkalis itu mendapat perhatian besar. Ratusan produk yang dibawa habis terjual. Banyak pengunjung penasaran dengan mie berbahan sagu yang belum pernah mereka cicipi sebelumnya.

“Senang sekali rasanya melihat makanan kampung kami diterima orang dari berbagai daerah,” kata Fitria dengan mata berbinar.

Kini, peluang untuk menembus pasar internasional mulai terbuka. Beberapa calon pembeli dari luar negeri sudah menunjukkan ketertarikan. Namun Fitria memilih melangkah perlahan. Baginya, menjaga kualitas jauh lebih penting daripada tumbuh terlalu cepat.

Ia sadar, usaha yang dibangun dari dapur kecil ini lahir bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang ia perjuangkan yaitu menjaga ingatan tentang kampung halaman tetap hidup lewat rasa.

Di tengah gempuran makanan instan modern dan kuliner viral yang datang silih berganti, mie sagu Mak Cio hadir sebagai pengingat bahwa makanan tradisional tidak pernah benar-benar kehilangan tempat. Ia hanya menunggu untuk dikenalkan kembali, dengan cinta dan ketekunan.

Menjelang malam, pelanggan masih berdatangan ke rumah makan itu. Aroma rempah tetap memenuhi ruangan. Di sudut dapur, Nur Fitria masih sibuk melayani pesanan satu per satu.

Dari tempat sederhana itu, ia terus merawat warisan kecil dari Bengkalis-agar tetap hidup, tetap dikenal, dan tetap punya cerita untuk generasi berikutnya.

Disisi lain perjuangan Fitria tidak terlepas dari peran BRI, salah satu bentuk nyata dukungan tersebut terlihat melalui keikutsertaan UMKM binaan BRI dalam ajang bergengsi BRI UMKM EXPO(RT), yang menjadi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produknya ke pasar yang lebih besar, bahkan hingga membuka peluang ekspor.

BRI Region 2 Pekanbaru mengukapkan, penyaluran KUR tetap dilakukan secara selektif dan mengedepankan prinsip kehati-hatian meski merupakan program subsidi pemerintah. Setiap pengajuan kredit tetap melalui proses analisa menyeluruh, mulai dari pengecekan riwayat pinjaman, kemampuan usaha, hingga survei langsung ke lapangan untuk memastikan usaha calon debitur benar-benar layak dan produktif.

“BRI juga mewajibkan petugas melakukan kunjungan langsung ke lokasi usaha guna memastikan kelayakan calon nasabah. Analisa dilakukan secara menyeluruh agar skema cicilan tetap sesuai dengan kapasitas usaha nasabah,” ujar Micro Business Department Head BRI Region 2 Pekanbaru, Nugraha Ramadan.

Hingga kini, BRI Region 2 Pekanbaru yang membawahi wilayah Riau Daratan dan Kepulauan Riau terus memperluas jangkauan layanan kepada pelaku UMKM. Dengan lebih dari 200 outlet pelayanan dan ratusan tenaga pemasar mikro yang menjangkau hingga daerah terpencil, BRI berupaya memastikan pelaku usaha kecil memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang.

Bagi Nur Fitria, dukungan tersebut menjadi salah satu penyemangat dalam perjalanan Roemah Mie Sagu Bengkalis Mak Cio. Dari dapur kecil di sudut Kota Pekanbaru, ia membuktikan bahwa kuliner tradisional tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga mampu bersaing dan dikenal lebih luas ketika diberi ruang untuk berkembang.***(MW)