Rakyat45.com, Yogyakarta – Bait-bait puisi menjadi cara Kagama menyampaikan pesan kemerdekaan di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM). Bukan sekadar pertunjukan sastra, pembacaan puisi tersebut membuka ruang untuk berbicara tentang persatuan, kecintaan kepada tanah air, sekaligus tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa.
Kegiatan Kagama Poetry Reading digelar untuk menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang diperingati pada 17 Agustus 2026. Halaman Joglo Angkringan Kumbokarno RSA UGM menjadi tempat berkumpulnya sivitas dan komunitas dalam suasana merah putih.
Agenda tersebut terselenggara melalui kolaborasi Komunitas DR Novi Kagama Dok UGM Poetry Reading, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, serta RSA UGM. Sinergi itu diharapkan dapat berlanjut melalui kegiatan-kegiatan berikutnya yang mempertemukan komunitas dan dunia sastra.
Salah satu penyelenggara menyampaikan bahwa puisi memiliki kekuatan sebagai bentuk ekspresi yang padat sekaligus estetis. Melalui karya sastra, perasaan, gagasan, dan suara hati dapat disampaikan secara lebih mendalam.
“Lewat puisi kita bisa menyampaikan apa saja. Untuk kemerdekaan ini, puisi dimanfaatkan untuk terus menjaga persatuan kita semua sebagai bangsa Indonesia dan mendorong rasa cinta kepada tanah air,” demikian disampaikan dalam sambutan.
Peserta kemudian membacakan puisi karya sendiri maupun karya penyair lain. Setiap penampilan hadir dengan gaya dan ekspresi yang berbeda, sementara peserta lainnya diberi ruang untuk mendengarkan serta menghargai karya yang disampaikan.
Direktur Utama RSA UGM, Dr. dr. Darwito, SH., SP., turut menyampaikan rasa syukur karena seluruh peserta dapat berkumpul dalam keadaan sehat. Ia juga menyinggung pentingnya kolaborasi dalam kegiatan yang berlangsung bersamaan dengan momentum peringatan kemerdekaan.
Darwito kemudian tampil membacakan puisi bertema kekuasaan dan nafsu kuasa. Karya tersebut membawa pesan kritis mengenai bagaimana kekuasaan yang tidak terkendali dapat membuat seseorang terlena dan kehilangan batas.
Nafsu kuasa dalam puisi itu digambarkan seperti candu yang mampu meninabobokan. Pujian yang terus mengalir juga dapat membuat seseorang semakin larut, hingga sesuatu yang salah berpotensi dibenarkan dan kebenaran justru disalahkan.
Pesan tersebut memberi dimensi lain terhadap makna kemerdekaan. Kebebasan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga menyangkut tanggung jawab untuk menjaga kemanusiaan, persatuan, kebenaran, dan kepentingan bersama.
Nuansa merah putih menghiasi lokasi kegiatan dan menguatkan atmosfer peringatan HUT ke-81 RI. Rangkaian acara juga melibatkan komunitas Kagama 40 Alumni UGM yang memberikan apresiasi kepada pemenang baca puisi berupa hadiah gerobak angkringan.
Rangkaian tersebut menempatkan puisi bukan hanya sebagai karya yang diperdengarkan, melainkan sebagai medium untuk menyampaikan pesan kebangsaan. Melalui sastra, perayaan kemerdekaan di RSA UGM menghadirkan ruang refleksi tentang persatuan, kebebasan, dan tanggung jawab menjaga nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan bersama.**












