Banner Website
Daerah

Dari Balik Jeruji ke Pasar, Lapas Bengkalis dan KMP Senggoro Bangun Kemandirian Warga Binaan

137
×

Dari Balik Jeruji ke Pasar, Lapas Bengkalis dan KMP Senggoro Bangun Kemandirian Warga Binaan

Sebarkan artikel ini
Penandatanganan kerja sama antara Kalapas Bengkalis Priyo Tri Laksono dan Ketua Koperasi Merah Putih Desa Senggoro, Affan Zahidi, dalam upaya memperluas pemasaran produk hasil karya warga binaan, Selasa (14/04/2026)./R45/Humas.

Rakyat45.com, Bengkalis – Harapan kerap tumbuh dari ruang yang tak terduga. Dari balik tembok pemasyarakatan, upaya membangun kembali kemandirian warga binaan kini menemukan jalannya melalui kolaborasi yang menjembatani karya dengan pasar.

Langkah strategis itu diwujudkan melalui kerja sama antara Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bengkalis dan Koperasi Merah Putih (KMP) Desa Senggoro, yang secara resmi ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama pada Selasa, 14 April 2026.

Kesepakatan tersebut diteken langsung oleh Kepala Lapas Bengkalis, Priyo Tri Laksono, bersama Ketua Koperasi, Affan Zahidi, dalam sebuah agenda yang menegaskan arah baru pembinaan berbasis kemandirian ekonomi.

Kolaborasi ini tidak sekadar memperluas jalur distribusi produk hasil karya warga binaan; lebih dari itu, ia menandai transformasi pendekatan pemasyarakatan dari sekadar pembinaan keterampilan menuju penguatan daya saing di pasar nyata.

Melalui kemitraan ini, Koperasi Merah Putih Desa Senggoro mengambil peran sebagai penghubung utama, membangun jaringan pemasaran sekaligus menghadirkan ekosistem distribusi yang lebih terstruktur.

Priyo Tri Laksono menegaskan bahwa program ini dirancang agar warga binaan tidak hanya terampil dalam produksi, tetapi juga memahami dinamika pasar yang sesungguhnya. Ia menilai, pembinaan yang terhubung langsung dengan ekosistem ekonomi akan memberi bekal nyata saat mereka kembali ke tengah masyarakat.

“Kerja sama ini kami harapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat bimbingan kemandirian warga binaan; bukan hanya menghasilkan produk, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri untuk bersaing,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberlanjutan program menjadi kunci agar proses pembinaan tidak berhenti sebagai pelatihan semata. “Kami ingin mereka tidak hanya mampu berkarya, tetapi juga memiliki peluang yang adil untuk mandiri secara ekonomi setelah kembali ke masyarakat,” tutur Kalapas Bengkalis.

Pandangan serupa disampaikan Affan Zahidi. Ia menilai karya warga binaan memiliki nilai ekonomi dan potensi berkembang menjadi produk unggulan bila dikelola dengan strategi yang tepat. Menurutnya, koperasi tidak hanya berperan sebagai jalur distribusi, tetapi juga ruang tumbuh agar produk mampu bersaing berkelanjutan.

“Kami melihat karya ini punya kualitas dan karakter. Tugas kami memastikan produk menemukan pasarnya; sekaligus membuka jaringan distribusi yang lebih luas,” ujar Affan.

Ia menambahkan, kemitraan ini merupakan bagian dari komitmen koperasi dalam memperkuat ekonomi berbasis komunitas. “Ini bukan sekadar kerja sama bisnis, tetapi juga tanggung jawab sosial untuk membantu mereka bangkit dan mandiri,” tutupnya.**