Banner Website
Nasional

Nusakambangan Berubah Jadi Sentra Pangan, Titiek Soeharto Beri Apresiasi

161
×

Nusakambangan Berubah Jadi Sentra Pangan, Titiek Soeharto Beri Apresiasi

Sebarkan artikel ini
Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto meninjau Balai Latihan Kerja (BLK) konveksi di Nusakambangan, Cilacap. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari transformasi kawasan menjadi pusat keterampilan dan ketahanan pangan bagi warga binaan, Sabtu (20/6/2026)./R45/Humas.

Rakyat45.com, Cilacap – Pulau Nusakambangan yang selama ini identik dengan kawasan pemasyarakatan berkeamanan tinggi kini mencatat babak baru sebagai Nusakambangan sentra ketahanan pangan yang produktif dan berkelanjutan.

Perubahan tersebut mendapat apresiasi langsung dari Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, saat melakukan kunjungan kerja ke Nusakambangan pada Sabtu, 20 Juni 2026, bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas), Agus Andrianto.

Dalam kunjungan itu, Titiek meninjau sejumlah program produktif yang dikembangkan di kawasan tersebut, mulai dari pengolahan Fly Ash Bottom Ash (FABA), pertanian terpadu, peternakan, produksi pupuk organik, pelatihan kerja konveksi, pengolahan sampah, hingga budidaya perikanan seperti udang vaname dan sidat.

“Atas nama Komisi IV, saya ucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Menteri beserta jajaran Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Semoga upaya ini dapat ditiru dan diterapkan di tempat lain,” harapnya.

Titiek menilai transformasi yang terjadi di Nusakambangan sangat signifikan. Kawasan yang dahulu dikenal tertutup dan penuh stigma, kini berubah menjadi ruang produktif yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.

“Selama ini kita membayangkannya seperti Alcatraz, ternyata setelah datang ke sini lingkungannya sangat tertata dan mampu menghasilkan berbagai produk yang berguna bagi masyarakat luas,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Agus Andrianto menegaskan bahwa pihaknya terus mendorong optimalisasi lahan di seluruh Lapas dan Rutan sebagai bagian dari penguatan program ketahanan pangan nasional.

“Kami akan segera menindaklanjuti segala arahan yang diberikan. Saat ini seluruh Lapas dan Rutan sudah memanfaatkan lahan yang tersedia untuk diolah, utamanya guna memenuhi kebutuhan pangan di lingkungan pemasyarakatan sendiri,” jelasnya.

Hingga kini, sekitar 135 hektare lahan di Nusakambangan telah dimanfaatkan menjadi kawasan produktif yang melibatkan ratusan warga binaan. Transformasi ini menegaskan peran baru lembaga pemasyarakatan, tidak hanya sebagai tempat pembinaan, tetapi juga sebagai bagian dari penggerak ketahanan pangan nasional.**