Lingkungan

TWKL Mapala Laksamana Bengkalis Bekali Calon Anggota di Alam

×

TWKL Mapala Laksamana Bengkalis Bekali Calon Anggota di Alam

Sebarkan artikel ini
Ketua bersama peserta dan anggota Mapala Laksamana berfoto di kawasan hutan mangrove Desa Teluk Pambang dalam rangkaian TWKL Angkatan ke-23. Kamis (8/10/2026)./R45.

Rakyat45.com, Bengkalis – Alam menjadi ruang belajar bagi 15 calon anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Laksamana Politeknik Negeri Bengkalis dalam Temu Wicara Kenal Laksamana (TWKL) Angkatan ke-23 di Desa Teluk Pambang, 3–4 Oktober 2026.

Rangkaian kegiatan tidak hanya memperkenalkan organisasi, tetapi juga mempertemukan peserta dengan pengalaman berkegiatan di alam bebas serta kondisi ekosistem mangrove.

Mengusung tema “Menapak Jejak, Membangun Persaudaraan dan Tumbuh Bersama dalam Mapala Laksamana”, kegiatan tersebut melibatkan anggota dari berbagai angkatan, Anggota Kehormatan (AK), Dewan Kehormatan (DK), serta tamu undangan dari Mapala Bestari IAIN Laksamana Bengkalis.

Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Teluk Pambang turut mendukung kegiatan, terutama dalam pelaksanaan pembelajaran lapangan di kawasan mangrove.

Pembina Mapala Laksamana, Khairul Saleh, mengatakan TWKL memiliki peran penting dalam mempersiapkan calon anggota sebelum menjalani proses organisasi.

Menurutnya, pengenalan tersebut perlu berjalan beriringan dengan pembentukan karakter, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Kegiatan ini bukan hanya tentang mengenalkan Mapala Laksamana kepada peserta, tetapi juga menjadi proses untuk membangun karakter, rasa tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan. Saya berharap peserta dapat mengikuti setiap proses dengan baik dan mengambil pengalaman yang nantinya dapat menjadi bekal selama berproses di Mapala Laksamana,” ujar Khairul Saleh. Kamis (8/10/2026).

Ia juga mengingatkan anggota dan pengurus inti untuk menjaga ketertiban ketika melaksanakan kegiatan di wilayah lain. Koordinasi dengan pembina, kata dia, perlu dilakukan secara konsisten, disertai persiapan yang matang agar seluruh agenda berlangsung aman dan tertib.

Materi pada hari pertama mencakup sejarah dan profil Mapala Laksamana, pengenalan divisi teknis, serta pengalaman berkegiatan di alam bebas. AK dan DK kemudian berbagi pengalaman mengenai perjalanan organisasi, tantangan yang pernah dihadapi, serta nilai yang harus dijaga ketika menjalankan aktivitas di alam terbuka.

Berbagai pengalaman tersebut memberi peserta gambaran bahwa aktivitas pecinta alam membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan teknis. Kedisiplinan, kerja sama, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dalam menjalankan kegiatan sekaligus kehidupan berorganisasi.

Ketua Pelaksana TWKL Angkatan ke-23, Muhammad Arya Pratama, berharap rangkaian kegiatan tersebut dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada peserta mengenai proses yang akan mereka jalani di Mapala Laksamana.

“Melalui kegiatan TWKL ini, kami berharap teman-teman peserta tidak hanya mengenal Mapala Laksamana dari nama dan kegiatannya saja, tetapi juga dapat memahami bagaimana proses, kebersamaan, dan rasa tanggung jawab yang ada di dalamnya. Semoga kegiatan ini menjadi awal yang baik untuk kita bisa tumbuh dan belajar bersama,” ujar Muhammad Arya Pratama.

Memasuki hari kedua, peserta mengikuti pengenalan ekosistem mangrove di sekitar Desa Teluk Pambang. Mereka mempelajari kondisi kawasan pesisir dan memahami fungsi mangrove sebagai bagian penting dari lingkungan.

Pembelajaran di lapangan membuat peserta dapat melihat langsung kondisi ekosistem yang sebelumnya hanya dipahami melalui materi. Pengalaman tersebut sekaligus memperkuat pemahaman mengenai pentingnya menjaga kawasan pesisir dan lingkungan sekitarnya.

Interaksi antarpeserta kemudian berlanjut dalam sesi berbagi cerita di sekitar api unggun. Anggota, AK, DK, peserta, dan tamu undangan saling bertukar pengalaman dalam suasana santai yang mempererat hubungan di antara mereka.

Kehadiran Mapala Bestari IAIN Laksamana Bengkalis juga menjadi bagian dari silaturahmi antarkomunitas pecinta alam. Pertemuan tersebut membuka ruang komunikasi sekaligus memperkuat hubungan antarmahasiswa yang memiliki perhatian terhadap kegiatan alam bebas.

Rangkaian TWKL Angkatan ke-23 ditutup setelah seluruh agenda terlaksana. Bagi 15 calon anggota, pengalaman selama dua hari tersebut menjadi bekal untuk memahami karakter organisasi, mengenali tantangan kegiatan alam bebas, serta membangun hubungan dengan keluarga besar Mapala Laksamana.

Kegiatan itu sekaligus menandai dimulainya proses baru bagi para calon anggota untuk melanjutkan pembelajaran, menjaga nilai kebersamaan, dan mengambil bagian dalam perjalanan Mapala Laksamana ke depan.**