Banner Website
Daerah

Sleman Gas Pol Penguatan Karakter Generasi, Pernikahan Dini dan Perceraian Makin Marak

51
×

Sleman Gas Pol Penguatan Karakter Generasi, Pernikahan Dini dan Perceraian Makin Marak

Sebarkan artikel ini
Sleman Gas Pol Penguatan Karakter Generasi, Pernikahan Dini dan Perceraian Makin Marak
Isu ini mengemuka dalam kegiatan jumpa pers bertema penguatan nilai keagamaan, kebangsaan, budaya, dan ketahanan keluarga yang digelar di Pendopo Paku Jati, Dinas Kebudayaan Sleman, Kamis (9/4/2026). Rakyat45/Agus

Rakyat45.com, Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman menyoroti serius persoalan pernikahan dini dan tingginya angka perceraian yang dinilai mengancam kualitas generasi muda. Isu ini mengemuka dalam kegiatan jumpa pers bertema penguatan nilai keagamaan, kebangsaan, budaya, dan ketahanan keluarga yang digelar di Pendopo Paku Jati, Dinas Kebudayaan Sleman, Kamis (9/4/2026).

Kegiatan yang difasilitasi Dinas Komunikasi dan Informatika Sleman tersebut menghadirkan sejumlah pejabat lintas sektor, mulai dari unsur pemerintahan, kesehatan, hingga kebudayaan. Forum ini menjadi ajang pemaparan program strategis sekaligus penegasan komitmen daerah dalam membangun generasi berkarakter di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Sleman, Drs. Agung Armawanta, M.T., dalam paparannya mengungkapkan bahwa Sleman resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2026.

Penunjukan tersebut berdasarkan surat resmi Gubernur DIY tertanggal 4 Maret 2026. Agenda MTQ dijadwalkan berlangsung pada 18 April 2026, dengan rangkaian awal berupa rapat kerja LPTQ tingkat provinsi pada 16 April 2026.

Kegiatan ini akan dipusatkan di Pendopo Parasamya dan melibatkan sekitar 400 peserta dari lima kabupaten/kota di DIY. MTQ akan mempertandingkan enam cabang lomba dengan total 16 kategori, mulai dari tilawah, tahfidz, tafsir Al-Qur’an, kaligrafi, hingga karya seni Islami kontemporer.

Menurut Agung, MTQ bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan juga sarana strategis untuk membentuk karakter generasi muda melalui penguatan nilai-nilai keagamaan.

Di sisi lain, penguatan karakter juga dilakukan melalui jalur budaya. Kepala Bidang Adat, Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Dinas Kebudayaan Sleman, Dedi Nugroho, menyampaikan bahwa pihaknya akan menggelar Festival Langen Carita pada 11 April 2026.

Festival ini mengangkat seni pertunjukan tradisional yang memadukan unsur cerita, tari, dan musik. Tema yang diusung menitikberatkan pada cinta lingkungan dan kesadaran terhadap alam.

Melalui kegiatan tersebut, pemerintah berharap generasi muda tidak hanya mengenal budaya lokal, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan yang kian mendesak.

Penguatan nilai kebangsaan juga menjadi fokus lain. Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman, Joko Dwi Haryadi, S.Pd., M.Si., menjelaskan berbagai program edukatif yang telah disiapkan.

Program tersebut antara lain peringatan Hari Penegakan Kedaulatan Negara untuk mengenang peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, lomba cerdas cermat museum tingkat SMP yang diikuti puluhan sekolah, serta inovasi pembelajaran sejarah melalui pertunjukan wayang sinema.

Pendekatan ini dinilai efektif untuk menanamkan nilai nasionalisme sekaligus meningkatkan minat generasi muda terhadap sejarah bangsa.

Namun, di balik berbagai program tersebut, Pemkab Sleman mengakui adanya tantangan serius dalam sektor ketahanan keluarga. Kepala Dinas DP3AP2KB Sleman, dr. Novita Krisna, memaparkan data yang menunjukkan tingginya angka pernikahan usia dini dan perceraian.

Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 112 kasus dispensasi nikah. Mayoritas kasus tersebut dipicu oleh kehamilan tidak diinginkan yang mencapai 80 persen.

Selain itu, angka perceraian di Sleman juga tergolong tinggi dengan total 1.489 kasus. Faktor utama yang mendominasi adalah konflik rumah tangga serta minimnya komunikasi antara pasangan.

Kondisi ini dinilai berdampak langsung terhadap kualitas tumbuh kembang anak dan stabilitas sosial di masyarakat.

Sebagai langkah penanganan, DP3AP2KB Sleman telah menjalankan berbagai program intervensi, seperti Bina Keluarga Remaja (BKR), Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), serta program pendewasaan usia perkawinan.

Selain itu, pemerintah juga memperkuat pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, serta menyediakan layanan konseling keluarga melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga).

dr. Novita menegaskan bahwa upaya menekan angka pernikahan dini dan perceraian tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan keterlibatan aktif seluruh elemen, mulai dari pemerintah, keluarga, hingga masyarakat.

“Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menyelesaikan persoalan ini secara menyeluruh,” tegasnya.

Melalui berbagai program yang terintegrasi, Pemkab Sleman menargetkan terbentuknya generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, berbudaya, dan berdaya saing tinggi.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045, dengan menempatkan pembangunan manusia sebagai prioritas utama.

Pendekatan holistik yang menggabungkan nilai agama, budaya, dan ketahanan keluarga dinilai sebagai model efektif dalam membangun fondasi generasi masa depan.

Dengan berbagai upaya tersebut, Sleman berupaya menjadi daerah yang tidak hanya maju secara pembangunan, tetapi juga kuat dalam karakter masyarakatnya.***