RAKYAT45.COM – Harga TBS sawit secara nasional diproyeksikan mengalami koreksi tipis dalam empat pekan mendatang. Meski demikian, Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP APKASINDO) menilai penurunan tersebut tidak akan menggerus keuntungan petani karena harga masih berada pada level yang relatif baik.
Ketua Umum DPP APKASINDO, Gulat Medali Emas Manurung, mengatakan proyeksi tersebut disusun sebagai gambaran arah pergerakan pasar, bukan sebagai kepastian harga yang akan terjadi di lapangan.
“Proyeksi ini menjadi bahan bagi petani untuk membaca arah pasar. Namun perlu dipahami, ini bukan angka pasti karena harga TBS tetap dipengaruhi oleh dinamika harga CPO dunia, kurs, rendemen, dan berbagai faktor lainnya,” kata Gulat.
Berdasarkan data APKASINDO yang dipublikasikan melalui situs hargasawitindonesia.id, rata-rata harga TBS skema plasma untuk periode 27 Juli hingga 2 Agustus 2026 diperkirakan bergerak dari Rp3.483 per kilogram pada pekan pertama menjadi sekitar Rp3.493 per kilogram pada pekan keempat.
Sementara itu, harga TBS untuk petani swadaya diproyeksikan berada pada kisaran Rp2.951 hingga Rp2.973 per kilogram selama empat minggu ke depan. Secara keseluruhan, arah pergerakan harga diperkirakan melemah sekitar 0,8 persen dibandingkan kondisi saat ini.
Meski terdapat indikasi penurunan, Gulat menegaskan harga TBS nasional masih berada di atas estimasi harga paritas yang dihitung berdasarkan harga tender CPO KPBN, rendemen 21 persen, dan indeks K sebesar 85 persen. Kondisi tersebut menunjukkan harga yang diterima petani masih cukup kompetitif.
Menurutnya, petani tidak perlu menyikapi proyeksi tersebut secara berlebihan. Ia mengimbau agar petani tetap memprioritaskan kualitas buah dan produktivitas kebun sehingga tetap memperoleh harga optimal meskipun pasar mengalami fluktuasi.
APKASINDO juga mengingatkan bahwa proyeksi harga disusun menggunakan metode statistik sehingga hanya bersifat indikatif. Berdasarkan hasil uji balik selama delapan pekan terakhir, prediksi harga mingguan masih memiliki potensi deviasi sekitar Rp51 per kilogram dibandingkan harga riil di lapangan.
Karena itu, proyeksi harga tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan usaha maupun penjualan hasil panen.
Gulat berharap seluruh pemangku kepentingan dapat terus menjaga stabilitas industri sawit nasional. Dengan permintaan crude palm oil (CPO) yang masih kuat serta dukungan kebijakan yang berpihak kepada petani, ia optimistis harga TBS akan tetap berada pada level yang sehat meski mengalami fluktuasi dalam jangka pendek.***












