RAKYAT45.COM – Pacu Jalur Kuansing tak lagi sekadar perlombaan tradisional masyarakat di tepian Sungai Batang Kuantan. Festival budaya tahunan tersebut kini ikut menggerakkan roda perekonomian warga melalui peningkatan aktivitas UMKM, perdagangan, transportasi hingga sektor akomodasi.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, mengatakan tingginya kunjungan masyarakat selama Festival Pacu Jalur memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing).
Hal itu disampaikannya saat menghadiri Festival Pacu Jalur Tradisional di Taman Jalur Kuansing, Rabu (19/8/2026).
Menurut SF Hariyanto, meningkatnya jumlah pengunjung membuat permintaan terhadap berbagai kebutuhan ikut naik. Kondisi tersebut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.
“Kalau ada event seperti ini, UMKM meningkat, hotel dan penginapan penuh. Bahkan karena event ini, banyak rumah warga yang disulap menjadi homestay,” kata SF Hariyanto.
Ia menilai perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa Pacu Jalur telah berkembang melampaui fungsi awalnya sebagai perlombaan tradisional. Event tersebut kini menjadi salah satu daya tarik wisata sekaligus penggerak ekonomi masyarakat Riau.
“Ini memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Kita sangat mendukung kegiatan ini,” ujarnya.
Pemprov Riau, kata SF Hariyanto, akan terus mendorong agar manfaat ekonomi dari penyelenggaraan Pacu Jalur semakin luas. Pelaku usaha lokal diharapkan mampu memanfaatkan tingginya kunjungan wisatawan untuk meningkatkan aktivitas usaha.
Pemerintah juga menilai pengembangan event harus tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga akar tradisi dan nilai budaya masyarakat Kuansing.
Pj Sekdakab Kuansing, Muradi, menjelaskan Pacu Jalur merupakan tradisi masyarakat Kuantan Singingi yang telah berkembang sejak awal 1900-an.
Jauh sebelum menjadi festival besar seperti sekarang, jalur merupakan perahu kayu berukuran panjang yang digunakan masyarakat di sepanjang Sungai Batang Kuantan sebagai sarana transportasi. Perahu tersebut juga digunakan untuk mengangkut hasil bumi dan hasil hutan.
Seiring perkembangan masyarakat, jalur kemudian digunakan dalam perlombaan antarkampung. Pada masa awal, Pacu Jalur juga digelar untuk memeriahkan berbagai perayaan, termasuk hari besar Islam.
Tradisi tersebut mengalami perubahan pada masa penjajahan Belanda. Pemerintah kolonial menjadikan Pacu Jalur sebagai bagian dari perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina yang jatuh pada 31 Agustus.
Setelah Indonesia merdeka, penyelenggaraan Pacu Jalur kembali mengalami perubahan makna. Festival tersebut kemudian diarahkan untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap Agustus.
Dari tradisi yang awalnya berlangsung di kampung-kampung sepanjang Sungai Kuantan, Pacu Jalur berkembang menjadi event besar yang dipusatkan di kawasan Teluk Kuantan.
“Pada perkembangannya, Pacu Jalur tidak lagi hanya menjadi hiburan masyarakat lokal. Event tersebut berkembang menjadi salah satu ikon wisata budaya Riau dan masuk dalam kalender pariwisata nasional,” papar Muradi.
Kini, Pacu Jalur identik dengan perahu kayu panjang yang didayung puluhan anak pacu. Jalur dari berbagai daerah beradu kecepatan di Sungai Batang Kuantan, sementara masyarakat memadati tepian sungai untuk menyaksikan perlombaan.
Festival yang digelar setiap Agustus itu melibatkan ratusan jalur dan ribuan atlet dayung. Kehadirannya juga menarik wisatawan dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.
Lonjakan kunjungan tersebut turut meningkatkan kebutuhan terhadap berbagai produk dan jasa. Mulai dari makanan dan minuman, transportasi, penginapan, cendera mata hingga jasa lainnya ikut merasakan dampak penyelenggaraan event.
Kondisi itu membuat Pacu Jalur tidak hanya memiliki nilai penting dalam pelestarian budaya, tetapi juga menjadi salah satu momentum strategis untuk memperkuat ekonomi masyarakat lokal.***












