Rakyat45.com, Pekanbaru – Kementerian Keuangan melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia memperkuat strategi hilirisasi sektor sawit dengan mendorong pemanfaatan biomassa dan pemberdayaan UMKM berbasis sawit.
Langkah ini diwujudkan melalui kegiatan pelatihan dan praktik langsung pengolahan limbah sawit yang digelar di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, Kamis (9/4/2026). Kegiatan ini melibatkan ratusan peserta, mulai dari petani plasma, pengurus koperasi hingga pelaku UMKM.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menegaskan peningkatan kapasitas petani menjadi kunci untuk menciptakan kemandirian ekonomi di sektor sawit.
“Petani sawit harus punya kemampuan yang mumpuni dan kesejahteraan yang berkelanjutan. Itu yang terus kami dorong bersama BPDP,” ujar Helmi kepada riauaktual.com, Jumat (10/4/2026).
Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga praktik langsung. Mereka diajarkan mengolah daun sawit menjadi pakan ternak, memproduksi biochar dari tandan kosong sawit (tankos), hingga memanfaatkan hasil olahan tersebut untuk mendukung sektor pertanian pangan.
BPDP juga mencatat capaian signifikan dalam penghimpunan dana sawit. Sepanjang 2025, dana yang terkumpul mencapai Rp31,5 triliun dan dialokasikan untuk berbagai program strategis seperti beasiswa, riset, pengembangan biodiesel, serta pelatihan petani.
Helmi menilai, peran komoditas sawit semakin strategis di tengah dinamika global, terutama dalam mendukung ketahanan pangan dan energi nasional. Indonesia bahkan bersiap mengimplementasikan biodiesel B-50 pada Juli 2026.
“Ke depan, bukan tidak mungkin kita menuju B-100 jika produktivitas terus ditingkatkan. Sawit bukan hanya soal energi, tapi juga pangan,” katanya.
Sekretaris Umum Aspekpir Indonesia, Syarifuddin Sirait, mengapresiasi kolaborasi antara BPDP dan PTPN IV PalmCo Regional 1 dalam mendorong inovasi berbasis UMKM di kalangan petani.
Ia menyebut pemanfaatan limbah sawit sebagai langkah konkret untuk meningkatkan nilai tambah produk, mulai dari biochar, pakan ternak berbahan daun, hingga pengolahan tankos.
“Petani tidak lagi hanya bergantung pada tandan buah segar, tapi bisa mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi,” ujarnya.
Menurutnya, inovasi tersebut tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan melalui pengelolaan limbah yang lebih optimal.
Dukungan serupa disampaikan oleh PTPN IV PalmCo Regional 1. Perwakilan Regional Head Labuhanbatu, Ihsan Sinuraya, menegaskan komitmen perusahaan dalam memperkuat kemitraan dengan petani.
“Kami dorong pemanfaatan biomassa sawit seperti tankos, lidi, dan daun agar memiliki nilai tambah,” katanya.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga terus mendorong integrasi sektor perkebunan dan peternakan melalui program Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA).
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumut, Marthin Sibagariang, menyebut Indonesia memiliki peran dominan dalam industri sawit global dengan kontribusi sekitar 41 persen terhadap produksi dunia.
“Kalau sawit Indonesia terganggu, dampaknya bisa global. Ini menunjukkan betapa strategisnya komoditas ini,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai pengembangan sektor sawit masih perlu diperluas secara merata, terutama melalui peningkatan nilai tambah dan integrasi dengan sektor lain seperti peternakan.
Melalui pelatihan berbasis praktik dan penguatan UMKM, kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem sawit yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan meningkatkan kesejahteraan petani di masa depan.***












