Banner Website
Ekbis

Waroeng Boenda Tumbuh di Tengah Perjuangan Panjang Sebuah Keluarga

35
×

Waroeng Boenda Tumbuh di Tengah Perjuangan Panjang Sebuah Keluarga

Sebarkan artikel ini
Waroeng Boenda Tumbuh di Tengah Perjuangan Panjang Sebuah Keluarga
Waroeng Boenda yang berdad di Jalan Sri Indra, Rumbai Bukit, Pekanbaru. (R45/MD)

RAKYAT45.COM – Pagi baru saja bergerak pelan di Jalan Sri Indra, Rumbai Bukit, Pekanbaru. Aroma minyak panas bercampur teh manis hangat menguar dari dapur kecil di sudut Waroeng Boenda. Di depan etalase kaca, gorengan tersusun rapi, sementara beberapa pelanggan mulai berdatangan ada yang singgah sebelum bekerja, ada pula yang memilih duduk lebih lama sambil berbincang ringan mengawali hari.

Suasana itu kini terasa hangat dan nyaman. Dinding warung berdiri kokoh, ruangnya lebih luas, tak lagi sekadar tempat berteduh seadanya. Namun, di balik ramainya pelanggan pagi itu, tersimpan perjalanan panjang yang tidak mudah dilalui pemiliknya, Roslina.

Beberapa tahun lalu, warung itu hanyalah bangunan semi permanen beratap terpal. Ketika hujan turun atau angin bertiup kencang, rasa khawatir selalu datang menghantui.

“Alhamdulillah, pelan-pelan sekarang sudah semakin baik. Warungnya makin nyaman, beda beberapa tahun lalu masih ringkih, takutnya bisa roboh kapan saja,” cerita Roslina, Senin (25 Mei 2026).

Bagi Lina sapaan akrabnya Waroeng Boenda bukan sekadar tempat mencari nafkah. Warung kecil di dekat Simpang Palas itu menjadi ruang perjuangan dirinya bersama sang suami untuk menjaga dapur tetap mengepul dan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Sebagai ibu empat anak, Lina memahami betul bagaimana kerasnya mempertahankan usaha kecil di tengah persaingan yang semakin ketat. Ada masa ketika modal usaha terasa begitu terbatas, sementara kebutuhan terus berjalan. Hingga pada 2018, ia mendengar informasi tentang Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI, pembiayaan dengan bunga ringan yang ditujukan bagi pelaku usaha kecil.

Dengan keyakinan sederhana dan agunan BPKB sepeda motor, Lina bersama suaminya memberanikan diri datang ke BRI Unit Rumbai. Harapan mereka tidak muluk-muluk hanya ingin warung kecil itu tumbuh sedikit demi sedikit.

Pengajuan pertama mereka disetujui sebesar Rp10 juta. Dari sana, usaha mulai bergerak perlahan. Ketika perkembangan usaha menunjukkan hasil, pembiayaan kembali berlanjut menjadi Rp20 juta hingga akhirnya Rp30 juta pada Agustus 2023.

“Setelah itu berlanjut KUR kedua kami dapat pembiayaan Rp20 juta dan terakhir sekitar Agustus 2023 kami diberi pembiayaan Rp30 juta. Dana itu juga dipakai untuk renovasi warung dan tambah modal usaha,” ujarnya.

Dari dana itulah perubahan demi perubahan mulai terlihat. Terpal yang dulu rapuh diganti atap yang lebih kuat. Ruang warung diperluas agar pelanggan lebih nyaman. Modal usaha bertambah sehingga menu yang disajikan semakin beragam.

Kini, Waroeng Boenda bukan hanya tempat makan sederhana. Warung itu tumbuh menjadi tempat singgah bagi banyak orang yang mencari sarapan hangat sekaligus suasana akrab di pagi hari.

Di balik senyum para pelanggan, Lina menyimpan rasa syukur yang sederhana. Baginya, akses pembiayaan seperti KUR bukan hanya soal pinjaman uang, melainkan kesempatan untuk bertahan dan berkembang.

“Sangat membantu adanya KUR BRI. Kalau sudah memenuhi syarat pasti dipermudah sama BRI. Apalagi bunga pinjamannya tidak mencekik,” kata Lina.

Cerita Waroeng Boenda hanyalah satu dari ribuan kisah pelaku UMKM yang mencoba bangkit bersama akses pembiayaan usaha. Namun di balik kemudahan akses tersebut, BRI menegaskan proses penyaluran kredit tetap dilakukan secara selektif dan hati-hati.

Dalam kegiatan ramah tamah dan silaturahmi yang dihadiri Regional Business Support Head BRI Region 2 Pekanbaru Eda Febriyanti serta Regional Micro Banking Head yang diwakili Micro Business Department Head Nugraha Ramadan pada Kamis, 7 Mei 2026, dijelaskan bahwa setiap pengajuan KUR tetap melalui analisis ketat.

Mulai dari riwayat pinjaman, status tunggakan, hingga kemampuan membayar cicilan menjadi bagian penting dalam penilaian. Bahkan, usaha calon debitur wajib sudah berjalan minimal enam bulan dan diverifikasi langsung ke lapangan.

Nugraha Ramadan mengatakan petugas BRI wajib mendatangi langsung lokasi usaha untuk memastikan kelayakan calon penerima kredit. Menurutnya, proses analisis dilakukan menyeluruh agar cicilan pinjaman tetap sesuai kemampuan usaha nasabah setelah mempertimbangkan kebutuhan hidup sehari-hari.

Secara nasional, BRI mencatat penyaluran KUR sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp178 triliun kepada 3,8 juta debitur. Pada 2026, alokasi penyaluran kembali mencapai Rp180 triliun.

Sektor pertanian masih menjadi penerima terbesar dengan porsi sekitar 45 persen, disusul perdagangan, industri, perikanan, dan sektor lainnya.

Khusus wilayah kerja BRI Region 2 Pekanbaru yang mencakup Riau Daratan hingga Kepulauan Riau, lebih dari 200 outlet pelayanan disiapkan untuk menjangkau masyarakat. Tak hanya itu, lebih dari 800 tenaga pemasar mikro diterjunkan hingga ke daerah terpencil.

Sepanjang 2025, penyaluran KUR di Riau mencapai Rp6,2 triliun kepada sekitar 90 ribu debitur. Sementara di Kepulauan Riau mencapai Rp755 miliar untuk 14 ribu debitur.

Sedangkan hingga 2026, penyaluran di Riau telah mencapai sekitar Rp2,3 triliun hingga Rp2,4 triliun kepada 33 ribu debitur. Di Kepulauan Riau, angka penyaluran mencapai Rp327 miliar.

Regional CEO BRI Pekanbaru Dian Kesuma Wardhana menegaskan komitmen BRI untuk terus mendukung akses pembiayaan UMKM di Riau dan Kepulauan Riau. Meski demikian, prinsip kehati-hatian tetap menjadi perhatian agar kredit yang disalurkan tetap sehat dan tepat sasaran.

Sementara itu, di sudut Jalan Sri Indra, aktivitas pagi di Waroeng Boenda terus berjalan seperti biasa. Pelanggan datang silih berganti, suara obrolan kecil bercampur bunyi penggorengan yang tak pernah benar-benar sepi.

Di tempat sederhana itu, Roslina membuktikan bahwa usaha kecil bisa tumbuh besar bukan karena langkah yang terburu-buru, melainkan karena keberanian untuk bertahan sedikit demi sedikit, hari demi hari.***