Banner Website
Ekbis

Sangsa dan Jalan Panjang Menjaga Rasa Melayu

29
×

Sangsa dan Jalan Panjang Menjaga Rasa Melayu

Sebarkan artikel ini
Sangsa dan Jalan Panjang Menjaga Rasa Melayu
Gerai Sangsa yang berada di ruko tiga lantai bercat putih di Jalan Datuk Setia Maharaja. (R45/MD)

RAKYAT45.COM – Sore itu langit Pekanbaru tampak lebih teduh dari biasanya. Matahari masih menggantung di atas kota, namun cahayanya jatuh lembut di deretan kendaraan yang terparkir di depan sebuah ruko tiga lantai bercat putih di Jalan Datuk Setia Maharaja.

Orang-orang datang silih berganti. Sebagian keluar membawa kantong belanja, sebagian lagi berhenti sejenak untuk berbincang ringan sebelum pulang. Di bagian depan bangunan itu, sebuah nama terpampang sederhana: “Sangsa”.

Namun di balik nama itu, tersimpan cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat usaha.

“Sangsa itu dalam istilah Melayu sering dikaitkan dengan Sangsa Purba yang memiliki akar sejarah dalam sastra dan legenda Melayu, yang berarti asal-usul raja-raja Melayu,” tutur Yuli Meliani, pemilik Sangsa.

Dari luar, tempat itu mungkin tampak seperti rumah makan biasa. Tetapi begitu melangkah masuk, kesan itu perlahan runtuh. Aroma ayam ungkep menyeruak hangat, memenuhi ruangan dengan wangi rempah yang menggoda.

Di dalam, suasana terasa akrab. Tawa kecil terdengar dari sudut ruangan. Senyum ramah Yuli atau yang akrab disapa Yuli menjadi sambutan pertama sebelum perhatian tertuju pada rak-rak besar di bagian belakang.

Ada gula merah kelapa dari Indragiri Hilir, kacang pukul dari Rokan Hilir, kerupuk udang dari Kepulauan Meranti, hingga keripik nanas dari Kampar. Di sudut lain, kain tenun, jilbab, tas, dan aneka kriya Melayu menambah warna yang membuat tempat itu terasa hidup.

Ada tangan-tangan yang bekerja dalam diam. Ada petani yang menunggu hasil panen. Ada ibu-ibu yang mengolah bahan sederhana menjadi harapan untuk keluarga mereka.

“Produk kita itu berkualitas dan punya nilai yang kuat. Karena itu, saya ingin ikut melestarikannya. Bahkan, untuk bahan baku, kami mengelola dari hulu hingga hilir dengan melibatkan petani lokal. Tujuannya jelas, tidak hanya menjaga kualitas, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal,” ujarnya penuh semangat, Jumat, 24 April 2026.

Yuli pernah berada di fase ketika banyak hal terasa serba kurang. Kemasan produknya belum menarik, izin usaha belum lengkap, dan akses pasar masih begitu sempit.

Dari dapur sederhana, ia mulai menghadirkan ayam ungkep dan Sambal Empat Sungai. Sedikit demi sedikit, produknya mulai dikenal. Perjalanan itu berjalan pelan, tetapi pasti.

Waktu menjadi saksi bagaimana ketekunan menjaga rasa dan kualitas perlahan membuka jalan lebih luas. Produk-produknya mulai masuk ke swalayan besar, menjangkau pasar di luar Pekanbaru, bahkan hingga luar negeri.

Namun di tengah pertumbuhan itu, muncul kegelisahan baru dalam diri Yuli.

Ia melihat masih banyak pelaku UMKM lain memiliki produk yang tak kalah baik, tetapi sulit berkembang karena terbentur persoalan kemasan, legalitas, dan pemasaran.

Ia sadar, persoalan yang dulu dihadapinya bukan pengalaman pribadi semata, melainkan wajah umum UMKM lokal yang sering tertahan sebelum benar-benar tumbuh.

Dari situlah lahir keyakinan baru: bertumbuh sendiri tidak cukup.

“Produk di Sangsa bukan buatan saya sendiri, tetapi kumpulan produk hasil kolaborasi dengan teman-teman saya yang disini,” ucapnya sambil menunjuk para mitranya penuh semangat.

Namun Sangsa tidak hadir sekadar menjadi etalase produk. Ia tumbuh menjadi ruang kolektif. Tempat para pelaku UMKM bertemu, saling belajar, bertukar pengalaman, hingga saling mendorong agar bisa naik kelas bersama.

Hubungan yang terbangun di dalamnya bukan hanya soal jual beli. Ada rasa saling percaya yang perlahan tumbuh.

Perjalanan itu kemudian semakin kuat ketika sektor perbankan ikut ambil bagian. Bersama BRI, Sangsa memperluas perannya sebagai jembatan menuju akses permodalan.

Pertemuan demi pertemuan digelar. Edukasi keuangan mulai diperkenalkan kepada para pelaku usaha yang sebelumnya merasa dunia perbankan begitu jauh dari kehidupan mereka.

Pelaku UMKM yang dulu ragu mulai berani melangkah. Sebagian mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar.

“Ada yang mendapatkan Rp25 juta, dan ada yang Rp50 juta, bahkan ada yang mencoba melangkah lebih besar,” terang Yuli.

Namun bagi pelaku UMKM, pinjaman itu bisa berarti mesin produksi baru, kemasan yang lebih baik, atau kesempatan memperbesar usaha yang selama ini hanya berani mereka simpan dalam angan.

Di antara banyak produk yang lahir dari kolaborasi itu, Sambal Empat Sungai menjadi salah satu yang paling merepresentasikan semangat Sangsa.

Namanya terinspirasi dari empat sungai besar di Riau—urat nadi kehidupan masyarakat Melayu sejak dahulu kala.

Cabai berasal dari kelompok tani lokal. Gula kelapa diambil dari petani setempat. Tidak ada bahan baku dari luar daerah. Semua dirajut dari tanah Melayu sendiri.

Selain sambal, Sangsa juga menghadirkan keripik tempe sagu, kerupuk kulit ikan patin, hingga makanan beku. Bahkan limbah produksi pun diolah kembali agar memiliki nilai ekonomi.

Tanjak, kain tenun, dan kriya Melayu ikut diangkat karena bagi Yuli, ekonomi tidak bisa dipisahkan dari budaya.

“Kalau daerah lain punya simbol budaya, kita juga punya. Tinggal bagaimana kita mengangkatnya,” sebutnya dengan mata yang berbinar.

Di tengah tantangan fluktuasi harga cabai yang kerap merugikan petani, Sangsa mencoba menjawab dengan cara sederhana: pengolahan.

Ketika harga cabai jatuh, hasil panen tidak dibiarkan membusuk. Cabai diolah menjadi sambal dengan nilai jual lebih tinggi. Sebaliknya, ketika harga naik, produk olahan membantu menjaga kestabilan konsumsi. Pendekatan itu diperkuat melalui kemitraan berbasis kelompok tani.

Pelatihan diberikan kepada ibu-ibu desa agar mereka tidak hanya menanam, tetapi juga mengolah hasil panen menjadi produk jadi yang memiliki nilai tambah.

Ratusan produk terus bergerak. Sebagian masuk ke swalayan modern, sebagian tampil dalam bazar dan pameran, sementara beberapa lainnya mulai menemukan tempat di ruang-ruang strategis yang mempertemukan karya lokal dengan pasar yang lebih luas.

Ruang yang menghubungkan petani dengan pasar. Ruang yang mengubah limbah menjadi nilai. Ruang yang menjaga identitas Melayu tetap hidup di tengah arus zaman. Meski begitu, perjalanan UMKM menuju akses permodalan tetap tidak mudah.

Selain itu, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Region 2 Pekanbaru menegaskan bahwa kemudahan KUR tetap dibarengi analisa kredit yang ketat dan terukur.

Regional Business Support Head BRI Region 2 Pekanbaru Eda Febriyanti bersama Regional Micro Banking Head yang diwakili Micro Business Department Head Nugraha Ramadan menjelaskan bahwa prinsip kehati-hatian tetap menjadi fondasi utama penyaluran kredit subsidi pemerintah tersebut.

“Setiap calon debitur akan melewati tahapan pengecekan riwayat pinjaman, status tunggakan, hingga kemampuan membayar angsuran. Bahkan, usaha yang diajukan juga wajib telah berjalan minimal enam bulan,” ungkap Nugraha Ramadan, Kamis, 7 Mei 2026.

Tak berhenti di administrasi, petugas BRI juga turun langsung ke lapangan untuk memastikan usaha benar-benar berjalan dan mampu menopang cicilan pinjaman.

“Dari sana, petugas memastikan usaha benar-benar berjalan, memahami kondisi usaha calon nasabah, hingga menilai kemampuan usaha dalam menopang cicilan pinjaman,” bebernya.

Bagi Sangsa dan para pelaku UMKM yang tumbuh bersamanya, akses modal memang penting. Tetapi lebih dari itu, yang mereka bangun sesungguhnya adalah keberanian untuk terus melangkah.

Dan sore itu, di tengah aroma ayam ungkep yang masih hangat dan rak-rak penuh produk lokal yang tersusun rapi, Sangsa terasa bukan sekadar tempat usaha.

Ia seperti rumah kecil yang menjaga rasa Melayu tetap hidup melalui tangan-tangan sederhana yang bekerja diam-diam demi mimpi yang terus tumbuh.***