Perjuangan perempuan pelaku UMKM rumahan di Pekanbaru yang menjaga kualitas produk sambil bertahan dan berkembang lewat dukungan digitalisasi.
RAKYAT45.COM – Di tengah hiruk-pikuk Mall Living World Pekanbaru, aroma bolu perlahan menarik langkah pengunjung yang melintas. Dari sebuah stan sederhana, deretan bolu gulung, sambal rumahan, kue kering, hingga pastry tersusun rapi di atas meja. Di balik etalase kecil itu, dua perempuan sibuk melayani pembeli sambil sesekali melempar senyum hangat.
Mereka bukan pemilik toko besar. Tidak pula datang dari industri makanan berskala pabrik. Namun, dari tangan-tangan telaten mereka, lahir produk rumahan yang kini mulai dikenal para pecinta kuliner di Pekanbaru.
Keduanya tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama UMKM Saturasa, komunitas kecil yang lahir pada 2025. Meski baru berdiri, para anggotanya telah lama akrab dengan dunia usaha rumahan. Bertahun-tahun mereka bertahan dari dapur sederhana, menjaga rasa, sekaligus mempertahankan mimpi agar usaha kecil mereka terus hidup.
Satu per satu pengunjung mulai mendekat. Ada yang sekadar bertanya, ada pula yang langsung membeli setelah mencicipi produk yang ditawarkan. Di antara berbagai jenis makanan yang dijajakan, bolu gulung ketan hitam menjadi salah satu yang paling banyak dicari.
Bolu itu dibuat oleh Yulia Putri Dewi, pelaku UMKM asal Perumahan Sidomulyo Nomor 79, Pekanbaru. Teksturnya lembut dengan rasa manis khas ketan hitam yang terasa akrab di lidah. Dari bahan sederhana, Yulia menghadirkan sajian yang bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menyimpan cerita tentang ketekunan dan kesabaran.
“Kami punya banyak produk, mulai dari kue basah, kue kering, sambal, pastry sampai aneka bolu. Produk yang paling laris biasanya tergantung selera pembeli,” ujar Yulia sambil tetap sigap melayani pelanggan.
Ia bercerita, pelanggan bolu umumnya datang dari kalangan pencinta kue rumahan. Sementara sambal buatan mereka kerap dibeli sebagai oleh-oleh dan dikirim untuk keluarga, bahkan untuk jamaah haji maupun umrah.
Di balik ramainya pembeli yang datang, perjalanan usaha itu ternyata dibangun lewat proses panjang. Semua produk dibuat sendiri di rumah masing-masing anggota UMKM Saturasa. Tidak ada mesin besar atau pabrik modern. Hanya dapur rumah, resep yang terus dijaga, dan tangan-tangan sabar yang memastikan rasa tetap sama dari waktu ke waktu.
“Semua produk kami dibuat sendiri, mulai dari meracik bahan, membentuk, memasak, hingga pengemasan.,” kata Yulia dengan mata berbinar.
Konsep pembuatan dan peracikan sendiri dari rumah sengaja dipertahankan. Bagi mereka, rasa tidak hanya lahir dari bahan yang digunakan, tetapi juga dari ketulusan dalam setiap proses pembuatannya.
Di tengah perkembangan zaman, para pelaku UMKM Saturasa juga tidak ingin tertinggal. Sekitar empat tahun lalu, mereka mulai menggunakan pembayaran digital melalui QRIS Bank Rakyat Indonesia atau BRI, jauh sebelum metode itu menjadi kebiasaan masyarakat seperti sekarang.
Dulu, mereka sering kerepotan mencari uang kembalian saat pembeli datang bersamaan. Kini, transaksi cukup dilakukan lewat ponsel dan pembayaran langsung tercatat otomatis.
“Sekarang jauh lebih praktis. Tinggal cek mutasi rekening, semuanya langsung terlihat,” tutur Yulia dengan senyum lega.
Langkah kecil lain yang ikut mengubah perjalanan usahanya datang pada 2023. Saat itu, Yulia mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat BRI sebesar Rp50 juta untuk memperkuat produksi dan memperluas pemasaran.
Dari tambahan modal itu, usaha mereka perlahan tumbuh. Produk UMKM Saturasa kini sudah masuk ke sejumlah gerai oleh-oleh di Pekanbaru, seperti Maifin’s di Jalan Sidomulyo Timur, Mazaya di Jalan Arifin Achmad, hingga Nyonya Mesra di kawasan Marpoyan.
Tak hanya melayani pasar lokal, pesanan dari luar kota pun mulai berdatangan. Produk-produk rumahan itu kini menempuh perjalanan jauh, membawa cita rasa Pekanbaru ke berbagai daerah.
Namun, bagi Yulia dan anggota UMKM Saturasa lainnya, perjalanan mereka belum selesai.
Di sela kesibukan melayani pembeli, perempuan itu masih menyimpan mimpi yang terus dijaga. Suatu hari nanti, produk buatan dapur rumah mereka ingin hadir di rak supermarket besar dan pusat oleh-oleh berskala nasional.
“Saya berharap suatu saat produk kami bisa masuk supermarket dan pusat oleh-oleh nasional,” ujarnya pelan, tetapi penuh keyakinan.
Harapan itu tumbuh bersama setiap bolu yang mengembang sempurna, sambal yang diracik dengan penuh rasa, dan kue-kue yang tersusun rapi di etalase sederhana mereka.
Dari dapur-dapur kecil di Pekanbaru, perempuan-perempuan UMKM Saturasa sedang membuktikan bahwa usaha rumahan pun mampu melangkah jauh. Bukan karena modal besar semata, melainkan karena keberanian memulai, ketekunan bertahan, dan keyakinan yang terus dijaga setiap hari.
Sementara itu, di tengah meningkatnya kebutuhan modal usaha, program Kredit Usaha Rakyat BRI masih menjadi salah satu penopang penting bagi pelaku UMKM di Riau. Kehadiran KUR membuka akses pembiayaan yang lebih mudah dan terjangkau bagi pelaku usaha kecil untuk berkembang.
Regional CEO BRI Regional 2 Pekanbaru, Dian Kesuma Wardhana, mengatakan sektor pertanian masih menjadi penyerap terbesar penyaluran KUR, baik secara nasional maupun di wilayah Riau.
Sepanjang 2025, BRI menyalurkan KUR sekitar Rp178 triliun kepada 3,8 juta debitur di seluruh Indonesia. Pemerintah pun kembali mempercayakan penyaluran KUR sebesar Rp180 triliun kepada BRI pada 2026 untuk mendukung pertumbuhan usaha produktif.
“Sekitar 45 persen penyaluran masih didominasi sektor pertanian. Selebihnya tersebar pada sektor perdagangan, industri, perikanan, dan sektor produktif lainnya,” ujar Dian.
Di Riau, penyaluran KUR sepanjang 2025 mencapai Rp6,2 triliun kepada sekitar 90 ribu debitur. Sementara di Kepulauan Riau mencapai Rp755 miliar untuk sekitar 14 ribu debitur.
Memasuki 2026, penyaluran terus bergerak. Hingga April 2026, realisasi KUR di Riau telah mencapai sekitar Rp2,3 triliun hingga Rp2,4 triliun kepada sekitar 33 ribu debitur. Sedangkan di Kepulauan Riau mencapai Rp327 miliar.
Menurut Dian, penyaluran KUR bukan sekadar soal pembiayaan. Lebih dari itu, program tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha masyarakat.
Di sudut stan kecil itu, semangat itu terasa nyata. Dari tangan perempuan-perempuan yang setia menjaga rasa di dapur rumah mereka sendiri, harapan perlahan tumbuh dan menemukan jalannya.***












