Banner Website
Ekbis

Hijau di Bawah Sayap Mustang, Kisah Petani Perantau yang Menumbuhkan Harapan di Pekanbaru

33
×

Hijau di Bawah Sayap Mustang, Kisah Petani Perantau yang Menumbuhkan Harapan di Pekanbaru

Sebarkan artikel ini
Hijau di Bawah Sayap Mustang, Kisah Petani Perantau yang Menumbuhkan Harapan di Pekanbaru
Johandri (33), petani sayur dan anggota Kelompok Tani Mustang di Pekanbaru. /R45/MD

RAKYAT45.COM – Siang itu, Jumat 24 April 2026, matahari di Pekanbaru terasa menyengat tanpa kompromi. Di sebuah sudut Jalan Adi Sucipto, Komplek TNI AU, hamparan hijau terbentang seperti karpet hidup yang tak pernah benar-benar berhenti tumbuh.

Di sana, di wilayah yang masuk Kecamatan Marpoyan Damai, barisan sayuran tampak rapat dan teratur. Bayam, sawi, kangkung, hingga selada tumbuh di bawah kelambu-kelambu sederhana yang dibentangkan rapi. Dari kejauhan, kelambu itu tampak seperti pelindung biasa. Namun bagi para petani, ia perisai harapan, penjaga kecil dari serangan hama, sekaligus saksi bisu kesabaran yang tak pernah putus.

Di tengah hamparan itu berdiri sebuah nama yang unik, Kelompok Tani Mustang. Kata Mustang, Banyak orang mungkin membayangkan mobil sport ketika mendengar nama itu. Namun bagi Ketua kelompok, Ridwan Arifin, Mustang justru membawa makna yang jauh lebih dalam.

“Nama itu kami ambil dari pesawat tempur lama. Simbol ketangguhan,” ujar Ridwan dengan suara pelan, seolah mengenang perjalanan panjang yang telah mereka lalui.

Ia bercerita, lahan yang kini hijau itu dulu hanyalah tanah kosong yang tak banyak dilirik. Kini, sekitar 35 hektare berubah menjadi pusat kehidupan baru. Dari tanah yang dulu diam, tumbuh deretan sayuran yang mengikuti arah angin, seakan ikut bernapas bersama para petaninya. Dalam satu kali panen besar, hasilnya bisa mencapai tujuh ton sayuran.

Di sela-sela bedengan, suara air dari sistem irigasi menetes lembut seperti hujan kecil buatan manusia. Di atasnya, kelambu-kelambu yang terbentang bukan hanya pelindung tanaman, tetapi juga simbol cara bertani yang lebih bijak, mengurangi pestisida, menjaga alam tetap seimbang.

Ridwan bahkan masih mengingat satu momen yang menjadi kebanggaan mereka. Pada 2005, daun selada dari lahan ini pernah menembus pasar Singapura. Sebuah pencapaian yang lahir dari tanah sederhana di pinggir kota, namun menembus batas negara.

“Waktu itu kami sempat kirim selada ke Singapura. Rasanya seperti mimpi yang jadi nyata,” kenangnya.

Namun perjalanan itu tidak pernah benar-benar mudah. Panas terik, hujan yang datang tanpa kompromi, hingga biaya produksi yang terus bergerak naik menjadi bagian dari keseharian. Meski begitu, sejak 2021, secercah dukungan datang melalui Bank Rakyat Indonesia lewat program pemberdayaan klaster.

“Bantuan dari BRI sangat membantu kami. Harapannya tentu bisa terus berlanjut agar petani makin kuat,” kata Ridwan, kali ini dengan senyum yang lebih ringan.

Kini, sekitar 30 petani menggantungkan hidup di lahan tersebut. Salah satunya Johandri (33), yang memilih meninggalkan pekerjaan pabrik di Tangerang delapan tahun lalu. Ia datang sebagai perantau, lalu menemukan hidup baru di tanah yang basah oleh keringat dan kerja keras.

“Di pabrik semua serba diatur. Di sini, saya merasa lebih punya ruang untuk mengatur hidup sendiri,” tuturnya.

Dari seperempat hektare lahan yang ia kelola, Johandri bisa memanen hingga 400 ikat sayur setiap hari. Harga per ikat berkisar antara Rp1.000 hingga Rp1.500, tergantung musim dan pasar. Dari sana, penghasilannya bisa mencapai belasan juta rupiah saat panen sedang baik.

Namun bagi Johandri, angka bukan satu-satunya ukuran. Ada ketenangan yang tidak bisa dihitung dengan rupiah, rasa cukup yang tumbuh pelan di antara barisan sayur.

Ia tersenyum saat bercerita langkahnya ke dunia tani bermula dari keluarga. “Saya ikut mertua yang lebih dulu bertani di sini. Dari situ saya tinggal meneruskan saja,” katanya ringan.

Di lahan yang luas itu, setiap petani mengelola petak kecilnya masing-masing. Tidak ada sekat yang benar-benar memisahkan mereka selain tanggung jawab pribadi. Selebihnya, mereka bergerak dalam irama yang sama, menanam, merawat, dan memanen bersama.

Di bawah langit Pekanbaru yang kadang dipotong suara pesawat dari pangkalan udara, kehidupan terus berjalan. Para petani Mustang wajah-wajah perantau yang dulu datang tanpa banyak pegangan, hanya membawa harapan sederhana.

Terpisah, Department Head Ultra Micro BRI Region 2 Pekanbaru, Widia Apriani, menjelaskan para petani ini tergabung dalam tiga kelompok binaan BRI. Mereka bukan warga asli setempat, namun mampu membangun kehidupan baru melalui kerja kolektif.

“Mereka terbagi dalam tiga kelompok tani binaan BRI. Semuanya tumbuh dengan semangat kebersamaan,” ujarnya.

Kebersamaan itu menjadi fondasi yang tak terlihat, tetapi terasa kuat. Dari tangan-tangan yang menanam hingga yang memanen, semua bergerak dalam satu tujuan, menjaga agar tanah ini terus memberi kehidupan.

Dan di antara kelambu-kelambu putih yang bergoyang pelan ditiup angin, sayuran itu terus tumbuh, seolah menjadi pesan diam bahwa dari tanah sederhana pun, masa depan bisa ditanam, dirawat, lalu dipanen dengan harapan.***