Banner Website
Ekbis

Mi Sagu Boedjang, Perjuangan Perempuan Meranti Menjaga Rasa Melayu Riau

30
×

Mi Sagu Boedjang, Perjuangan Perempuan Meranti Menjaga Rasa Melayu Riau

Sebarkan artikel ini
Mi Sagu Boedjang, Perjuangan Perempuan Meranti Menjaga Rasa Melayu Riau
Bebi Oktaviani, putri pemilik Mi Sagu Boedjang, sedang menjaga stan penjualan produknya di Mall Living World Pekanbaru. (R45/MD)

RAKYAT45.COM Living World Pekanbaru siang itu dipenuhi lalu lalang pengunjung. Aroma makanan dari berbagai stan UMKM bercampur dengan riuh percakapan yang saling bersahutan. Di tengah keramaian itu, perhatian saya tertuju pada sebuah stan sederhana bertuliskan Misagu Boedjang.

Rasa penasaran membawa saya mendekat. Di atas meja kecil, tersaji beberapa potong tester mi sagu. Teksturnya kenyal dengan warna agak bening, berbeda dari mi pada umumnya. Saat mencicipinya, rasa gurih khas sagu langsung terasa akrab di lidah, menghadirkan cita rasa pesisir Melayu yang hangat dan sederhana.

Tak lama, obrolan mengalir bersama Bebi Oktaviani, anak dari pemilik Mi Sagu Boedjang. Dengan senyum ramah, ia mulai bercerita tentang nama usaha keluarganya.

“Kalau untuk Boedjang sendiri berasal dari kata Boedjang dan Dara dari Riau, namun kita ambil Boedjangnya saja,” jelas Bebi sambil tersenyum.

Di tanah Melayu Riau, kata boedjang merujuk pada anak laki-laki. Nama itu dipilih bukan sekadar merek dagang, melainkan identitas yang melekat kuat pada akar budaya tempat mi sagu itu berasal.

Dari obrolan singkat itu, saya mulai memahami bahwa Mi Sagu Boedjang bukan sekadar produk UMKM biasa. Di balik semangkuk mi kenyal itu, tersimpan cerita panjang tentang tanah pesisir, budaya Melayu, dan ketahanan masyarakat yang hidup berdampingan dengan pohon sagu selama puluhan tahun.

Selain Papua, Kabupaten Kepulauan Meranti di Provinsi Riau dikenal sebagai salah satu penghasil sagu terbesar di Indonesia. Hamparan kebun sagu seluas 61.806 hektare menjadikan daerah ini kaya akan berbagai olahan pangan berbahan dasar sagu. Salah satu yang paling populer adalah mi sagu.

Bagi masyarakat Meranti, mi sagu bukan sekadar makanan. Ia adalah bagian dari keseharian. Mi itu biasa ditumis sederhana dengan tauge, sayur, ikan teri, atau udang, lalu disajikan hangat di warung-warung kopi pinggir jalan. Rasanya khas, teksturnya kenyal, dan menyimpan cerita panjang tentang kehidupan masyarakat pesisir.

Namun, tidak semua orang bisa menikmati mi sagu langsung dari Meranti. Dari keterbatasan itulah, lahir gagasan besar dari seorang perempuan bernama Praptini.

Perempuan itu mulai merintis Mi Sagu Boedjang pada 2019, tepat ketika pandemi Covid-19 melanda dan banyak usaha kecil terpukul.

“Biasanya saya hanya menitipkan mi sagu mentah ke warung-warung. Tapi ketika Covid-19 melanda, banyak warung tutup dan penjualan ikut terhenti. Dari situ saya mulai berpikir bahwa harus ada cara lain untuk bertahan. Akhirnya saya melihat peluang besar di penjualan online lewat media sosial. Saat itulah saya memberanikan diri membangun dan memakai nama Mi Sagu Boedjang sebagai merek dagang sendiri,” ujar Praptini saat dihubungi rakyat45.com melalui WhatsApp, Kamis (14/5/2026).

Situasi sulit memaksanya berpikir lebih jauh. Di tengah sepinya warung dan menurunnya penjualan, ia justru menemukan jalan baru. Mi sagu yang sebelumnya hanya dikenal di kedai-kedai lokal mulai dipasarkan secara daring dan menjangkau pembeli dari berbagai daerah.

Namun perjalanan itu tidak berhenti di sana.

Praptini sadar, tidak semua orang tahu cara memasak mi sagu. Dari situlah inovasi lain lahir. Ia mulai meracik bumbu sendiri agar mi sagu bisa dinikmati semudah mi instan.

Kini, pembeli cukup memasak Mi Sagu Boedjang tanpa perlu repot memikirkan bumbu tambahan. Praktis, tetapi tetap mempertahankan cita rasa khas Meranti. Sesuai dengan tagline mereka, “Makan Mie Sagu Dimanapun Kapanpun.”

“Produk kami dibuat dari mi sagu berkualitas tanpa tambahan bahan pengawet, namun tetap mampu bertahan hingga enam bulan. Selain itu, produk ini juga telah mengantongi izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, sehingga aman dan tidak perlu diragukan lagi untuk dikonsumsi,” tambahnya.

Perlahan, kerja keras itu mulai membuahkan hasil.

Dari usaha rumahan yang lahir di tengah pandemi, kini Mi Sagu Boedjang mampu memproduksi sekitar 1.500 hingga 2.000 bungkus per bulan. Produknya dipasarkan melalui marketplace hingga toko oleh-oleh, dengan harga Rp17 ribu per bungkus untuk wilayah Meranti dan Rp19 ribu untuk Pekanbaru.

Di Jalan Siak, Kota Selatpanjang, Praptini juga membuka gerai bernama Toko Sagu Kite. Tidak hanya menjual Mi Sagu Boedjang, toko itu juga menjadi ruang bagi berbagai produk olahan sagu lain dari para mitra UMKM.

Di balik pertumbuhan usahanya, ada dukungan pembiayaan yang ikut membantu langkah mereka tetap bertahan. Praptini mengaku memperoleh pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp25 juta untuk mengembangkan usaha.

Dukungan itu pula yang membawa Mi Sagu Boedjang melangkah lebih jauh, bahkan hingga ke luar negeri.

Bersama program Rumah Kreatif BUMN yang didukung BRI, produk Mi Sagu Boedjang pernah tampil dalam pameran Tong Tong Fair (TTF) di Den Haag, Belanda pada 2022. Setahun kemudian, mereka kembali mengikuti pameran Pasar Senggol Turkiye di Istanbul, Turki.

“Dukungan pendanaan dan promosi dari BRI benar-benar memberi dampak besar bagi perkembangan usaha kami. Bahkan saat mengikuti pameran di luar negeri, produk kami mendapat respons yang sangat positif. Banyak pengunjung yang mendorong agar Mi Sagu Boedjang bisa menembus pasar ekspor,” sebut Praptini.

Bagi perempuan asal Meranti itu, perjalanan membawa mi sagu ke panggung internasional terasa seperti mimpi yang tumbuh perlahan dari dapur kecil dan masa-masa sulit pandemi.

Perjalanan Mi Sagu Boedjang hingga dikenal di luar daerah bahkan menembus pameran internasional tentu bukan sesuatu yang dibangun dalam semalam. Di balik berkembangnya usaha kecil itu, ada dukungan permodalan dan pendampingan yang ikut menguatkan langkah para pelaku UMKM untuk terus bertahan dan bertumbuh.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Region 2 Pekanbaru menegaskan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) tetap dilakukan secara selektif dan mengacu pada analisa kredit yang ketat meski merupakan program subsidi pemerintah.

Hal itu disampaikan dalam acara Ramah Tamah dan Silaturahmi yang dihadiri Regional Business Support Head BRI Region 2 Pekanbaru Eda Febriyanti dan Regional Micro Banking Head BRI Region 2 Pekanbaru yang diwakili Micro Business Department Head Nugraha Ramadan, Kamis (7/5/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Nugraha menjelaskan setiap pengajuan KUR tetap melalui proses analisa menyeluruh, mulai dari pengecekan riwayat pinjaman, status tunggakan, hingga kemampuan membayar angsuran. Usaha calon penerima pun wajib berjalan minimal enam bulan dan diverifikasi langsung ke lapangan.

“BRI juga mewajibkan pemutus melakukan kunjungan langsung ke lokasi usaha guna memastikan kelayakan calon nasabah. Selanjutnya, proses analisa dilakukan secara menyeluruh agar skema cicilan pinjaman tetap sesuai dengan kapasitas usaha nasabah, setelah mempertimbangkan kebutuhan hidup sehari-hari,” kata Nugraha Ramadan.

Secara nasional, BRI mencatat penyaluran KUR pada 2025 mencapai sekitar Rp178 triliun kepada 3,8 juta debitur. Pada 2026, penyaluran KUR BRI kembali ditargetkan sebesar Rp180 triliun, dengan dominasi sektor pertanian sekitar 45 persen.

Khusus wilayah kerja BRI Region 2 Pekanbaru yang mencakup Riau Daratan hingga Kepulauan Riau, BRI memiliki lebih dari 200 outlet pelayanan dan lebih dari 800 tenaga pemasar mikro atau mantri yang menjangkau pelaku UMKM hingga daerah terpencil.

Sepanjang 2025, penyaluran KUR di Riau tercatat mencapai Rp6,2 triliun kepada sekitar 90 ribu debitur. Sementara di Kepulauan Riau mencapai Rp755 miliar kepada 14 ribu debitur.

Di tengah angka-angka itu, ada cerita seperti Mi Sagu Boedjang, usaha kecil yang tumbuh dari ketekunan, budaya, dan keberanian untuk bertahan.

Di sebuah stan sederhana di sudut pusat perbelanjaan Pekanbaru, semangkuk mi sagu mungkin tampak biasa bagi sebagian orang. Namun bagi Praptini, setiap helai mi yang terjual adalah cara menjaga warisan tanah Melayu agar tetap hidup, dikenang, dan dinikmati hingga jauh melintasi batas negeri.***