Banner Website
Ekbis

Di Antara Aroma Lomang dan Bunyi QRIS, Warisan Tiga Generasi Kampar Tetap Hidup

55
×

Di Antara Aroma Lomang dan Bunyi QRIS, Warisan Tiga Generasi Kampar Tetap Hidup

Sebarkan artikel ini
Di Antara Aroma Lomang dan Bunyi QRIS, Warisan Tiga Generasi Kampar Tetap Hidup
Rauda Zian Suarni, (Pemilik usaha UMKM Kerupuk Lomang 3 Rasa). R45/MD

RAKYAT45.COM – Hujan turun deras membasahi Kota Pekanbaru, Kamis siang, 14 Mei 2026. Langit tampak kelabu sejak siang hari, sementara rintik air memantul di pelataran Mall Living World Pekanbaru yang tetap dipadati pengunjung. Di tengah gemerlap pusat perbelanjaan modern itu, stan UMKM berdiri berjejeran, menghadirkan aroma makanan tradisional yang terasa akrab di tengah dinginnya cuaca.

Suara percakapan pengunjung bercampur dengan bunyi notifikasi pembayaran digital dari telepon genggam para pedagang. Hampir di setiap meja stan, terpajang barcode QRIS Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pembeli cukup memindai kode, transaksi selesai dalam hitungan detik.

Di tengah suasana itu, aroma gurih kerupuk lomang khas Kampar menguar dari sebuah stan kecil bernama Lomang Ummi Rasubi.

“Selamat siang bang, silahkan Cobain kerupuk lomang khas Kamparnya,” sapa Rauda Zian Suarni sambil tersenyum hangat kepada pengunjung yang melintas.

Perempuan muda itu tampak sibuk melayani pembeli. Sesekali tangannya merapikan kemasan kerupuk di atas meja, sementara telepon genggam di sampingnya terus berbunyi menandakan transaksi QRIS berhasil dilakukan.

Di balik stan sederhana itu, tersimpan cerita panjang tentang keluarga, budaya, dan perjuangan menjaga warisan kuliner agar tidak hilang dimakan zaman.

Usaha kerupuk lomang tersebut telah berdiri sejak 2010 di Jalan Raya Sumbar-Riau, Desa Merangin, Kecamatan Kuok, Kabupaten Kampar. Semuanya bermula dari tangan seorang nenek yang ingin mempertahankan makanan khas kampungnya tetap dikenal generasi muda.

Kini, usaha itu telah memasuki generasi ketiga.

“Awalnya, usaha ini dimulai pada tahun 2010 dan pertama kali dikembangkan oleh nenek saya. Sekarang usaha ini sudah memasuki generasi ketiga, mulai dari nenek, lalu ibu saya, hingga saya yang meneruskannya sampai sekarang,” tutur Rauda dengan mata berbinar.

Bagi Rauda, kerupuk lomang bukan sekadar makanan ringan. Di dalam setiap bungkusnya, ada cerita tentang keluarga yang terus menjaga tradisi di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat.

Kerupuk lomang sendiri merupakan makanan berbahan dasar singkong yang proses pembuatannya terinspirasi dari lemang ketan tradisional. Nama “lomang” berasal dari penyebutan masyarakat kampung untuk lemang.

Bentuknya dibuat memanjang menyerupai tabung menggunakan cetakan daun pisang, sehingga tampilannya sekilas mirip lemang yang biasa hadir saat perayaan adat dan hari besar.

Namun di balik bentuk sederhana itu, tersimpan proses panjang yang membutuhkan ketelatenan.

“Prosesnya cukup lama, mulai dari perebusan, penirisan, penjemuran, hingga penggorengan. Semua tahapan itu bisa memakan waktu antara satu hingga tujuh minggu sampai produk siap dijual,” jelasnya.

Aroma singkong yang baru digoreng, tumpukan kerupuk yang dijemur di bawah matahari, hingga tangan-tangan perempuan desa yang bekerja sejak pagi menjadi bagian dari perjalanan panjang kerupuk lomang sebelum sampai ke tangan pembeli.

Bahan baku singkong diperoleh dari petani lokal di Riau dan kelompok wanita tani (KWT) di wilayah Kampar. Rauda mengatakan, kerja sama itu sengaja dibangun agar usaha mereka bisa tumbuh bersama masyarakat sekitar.

“Saat ini kami sudah bekerja sama dengan para petani lokal di Riau. Kami juga memiliki strategi untuk menjaga ketersediaan bahan baku singkong, dengan menyediakan bibit kepada para petani untuk ditanam. Setelah masa panen, hasilnya kami beli kembali. Jadi, kami bisa tumbuh bersama,” ujarnya bangga.

Kini, kerupuk lomang hadir dalam berbagai rasa seperti lado hijau, lado merah, hingga varian cokelat yang mulai diperkenalkan untuk menarik pasar anak muda.

Dalam satu bulan, usaha tersebut mampu memproduksi sekitar 2.000 hingga 3.500 bungkus kerupuk. Harganya mulai dari Rp15 ribu hingga Rp35 ribu untuk ukuran jumbo.

Tak hanya menjaga cita rasa tradisional, usaha itu juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak perempuan di desa. Saat ini terdapat delapan karyawan tetap yang bekerja bersama mereka. Ketika musim ramai seperti Ramadan dan Tahun Baru tiba, jumlah pekerja bertambah dan mayoritas berasal dari kalangan ibu rumah tangga.

“Kami ingin lebih banyak memberdayakan perempuan, terutama para ibu rumah tangga yang menjadi tulang punggung keluarga. Bagi kami, ketika seorang ibu memiliki penghasilan, bukan hanya ekonomi keluarga yang terbantu, tetapi juga harapan dan semangat hidup mereka ikut tumbuh,” tutur Rauda penuh haru.

Selain kerupuk lomang, mereka juga memproduksi berbagai makanan khas Kampar lain seperti kerupuk bawang, kue sopik, kerupuk joyiang, imidu, hingga oseng-oseng.

Meski lahir dari dapur tradisional, Rauda sadar usahanya harus mengikuti perkembangan zaman. Selain memiliki outlet di Desa Merangin, pemasaran kini dilakukan melalui marketplace seperti Shopee dan TikTok Shop.

Mereka juga mulai menggunakan QRIS BRI sejak 2023 setelah mengikuti program UMKM Champion Riau.

“Penggunaan QRIS membuat transaksi menjadi lebih cepat, praktis, dan aman. Selain itu, sistem ini juga memudahkan kami dalam berinteraksi dan melayani konsumen dengan lebih baik,” ujarnya..

Di tengah derasnya arus modernisasi, Rauda memilih tidak meninggalkan tradisi. Ia justru membawa warisan keluarganya berjalan berdampingan dengan teknologi.

Di meja kecil stan itu, kerupuk lomang dan barcode QRIS tampak berdiri berdampingan, seolah menjadi penanda bahwa tradisi tidak selalu kalah oleh zaman.

Kadang, warisan lama hanya perlu cara baru untuk tetap hidup.***