RAKYAT45.COM – Deretan stan UMKM tampak ramai di sudut Mall Living World Pekanbaru, Jalan Soekarno-Hatta, Kamis siang, 14 Mei 2026. Suara percakapan pengunjung bersahut-sahutan dengan bunyi notifikasi pembayaran digital dari telepon genggam para pedagang.
Di salah satu stan sederhana itu, seorang perempuan tampak sibuk merapikan deretan camilan di rak jualannya. Sesekali ia tersenyum menyambut pengunjung yang mampir ke gerainya. Namanya Suryani.
Dengan ramah, ia menawarkan berbagai jenis makanan ringan hasil produksinya sendiri. Namun perhatian pengunjung kerap tertuju pada satu produk yang tampak berbeda dari lainnya: keripik pare.
Sayur yang selama ini dikenal dengan rasa pahit itu, di tangan Suryani justru berubah menjadi camilan renyah dan gurih yang menggoda.
“Coba saja dulu, banyak yang awalnya tidak percaya kalau ini pare,” ucap Suryani sambil tersenyum hangat.
Tak banyak yang tahu, di balik sebungkus keripik pare itu tersimpan perjalanan panjang penuh perjuangan, kegagalan, hingga mimpi sederhana pasangan suami istri yang ingin membangun usaha dari nol.
Usaha tersebut mulai dirintis Suryani bersama suaminya, Jefri, pada akhir 2019. Sebelum menemukan ide keripik pare, keduanya lebih dulu memproduksi keripik singkong dan tempe. Namun ketatnya persaingan membuat mereka harus mencari sesuatu yang berbeda.
“Kami dulunya tinggal di Batam, Kepulauan Riau. Kemudian pindah ke Taluk Kuantan, Kuantan Singingi dan mulai coba buka usaha keripik. Tapi melihat Pekanbaru lebih berpotensi, akhirnya kami pindah. Dan tercetuslah keripik pare,” ujar Suryani.
Keputusan mengolah pare menjadi keripik bukan tanpa alasan. Mereka ingin menciptakan produk unik yang memiliki nilai jual sekaligus mampu menarik rasa penasaran masyarakat.
Namun perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus.
Pada masa awal produksi, Suryani dan suaminya berkali-kali mengalami kegagalan. Keripik buatan mereka pernah gosong, bahkan rasa pahit dari pare masih sangat terasa.
“Kami tak menyerah, coba terus, meski beberapa kali gagal. Sampai akhirnya kami berhasil membuat keripik pare Bigone seperti sekarang ini,” katanya.
Suryani lalu tersenyum kecil saat menceritakan asal-usul nama Bigone, merek yang kini mulai dikenal banyak orang.
“Sebetulnya kan, Big One itu artinya satu besar. Itu memang cita-cita kami dari awal, Sebagai kita orang timur, nama itu kemudian diplesetkan menjadi “Bigone”, sederhana, akrab, dan mudah diingat,” ujarnya sambil tertawa mengenang masa-masa merintis usaha bersama sang suami.
Di dapur kecil tempat produksi itulah, Suryani perlahan menemukan formula yang tepat. Untuk menghilangkan rasa pahit, pare yang telah diparut harus direndam dalam air garam selama sekitar empat jam sebelum dicampur tepung dan bumbu alami.
“Tidak ada bahan pengawet, kami cuma pakai tepung dan bumbu alami,” jelasnya.
Kini, kerja keras mereka mulai membuahkan hasil. Dalam sehari, Suryani mampu memproduksi sekitar 100 bungkus keripik pare dengan harga jual Rp15 ribu untuk kemasan 75 gram.
Produk mereka perlahan mulai dikenal luas, terutama saat mengikuti berbagai pameran UMKM di Pekanbaru. Banyak pengunjung penasaran bagaimana sayur pahit bisa berubah menjadi camilan renyah.
“Karena banyak yang penasaran, pare jadi keripik. Ada juga yang tanya-tanya tips pembuatannya,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Tak hanya itu, produk keripik pare Bigone bahkan mulai dilirik pasar luar negeri. Suryani mengaku pernah mendapat tawaran dari buyer yang tertarik memasarkan produknya ke Malaysia.
“Kalau kita siap saja, karena untuk kapasitas produksi kita mampu,” katanya penuh optimistis.
Selain keripik pare, pasangan itu kini juga memproduksi keripik tempe, keripik bronis, hingga kerupuk kulit ikan salmon.
Perjalanan usaha mereka semakin berkembang setelah mendapatkan dukungan permodalan dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Pada 2022, pengajuan pinjaman sebesar Rp15 juta disetujui untuk membantu pengembangan usaha.
Setelah pinjaman pertama lunas pada 2024, mereka kembali memperoleh pinjaman sebesar Rp19 juta.
Tak hanya soal modal, usaha Suryani yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Karya Bening Sejahtera juga mendapatkan fasilitas pembayaran digital QRIS dari BRI serta dukungan mengikuti berbagai bazar dan pameran UMKM.
Di tengah perkembangan teknologi dan persaingan usaha yang semakin ketat, Suryani memilih terus bertahan lewat inovasi.
Baginya, keripik pare bukan sekadar makanan ringan. Di balik rasa gurihnya, ada cerita tentang keberanian mencoba sesuatu yang berbeda, tentang pasangan suami istri yang tidak menyerah pada kegagalan, dan tentang mimpi kecil yang perlahan tumbuh menjadi harapan besar.
Dari sayur yang identik dengan rasa pahit, Suryani membuktikan bahwa ketekunan mampu mengubah sesuatu yang sederhana menjadi peluang yang menjanjikan.***












